Gandeng Swasta, BPBD Kota Tasikmalaya Salurkan 3,28 Juta Liter Air Bersih

BPBD Kota Tasikmalaya telah mendistribusikan sekitar 3,28 juta liter air bersih kepada masyarakat terdampak kekeringan akibat fenomena El Nino sepanjang 2026.

Gandeng Swasta, BPBD Kota Tasikmalaya Salurkan 3,28 Juta Liter Air Bersih
Warga Kota Tasikmalaya saat mengantre mengambil bantuan air bersih dari BPBD Kota Tasikmalaya. (n nurohman)

INILAHKORAN.ID - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tasikmalaya telah mendistribusikan sekitar 3,28 juta liter air bersih kepada masyarakat terdampak kekeringan akibat fenomena El Nino sepanjang 2026.

Hingga Jumat (30/10/2026), distribusi air bersih tersebut terus dilakukan meskipun Kota Tasikmalaya mulai memasuki musim penghujan.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Tasikmalaya Budi Martanova mengatakan, bantuan air bersih masih terus disalurkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak kekeringan.

"Terkait dengan distribusi air bersih di Kota Tasikmalaya dampak dari kekeringan El Nino tahun 2026, kita sudah mendistribusikan sampai tanggal 30 kemarin Jumat itu sekitar 3,28 juta liter," ujar Budi, Rabu (4/11/2026).

Menurutnya, keberlanjutan distribusi tersebut menunjukkan bahwa penanganan kebutuhan air bersih masyarakat tetap menjadi perhatian, meskipun intensitas hujan mulai meningkat.

Namun, di balik besarnya distribusi bantuan tersebut, BPBD mencermati persoalan ketersediaan sumber air bersih. Pasalnya, selama ini pasokan air untuk kegiatan distribusi masih mengandalkan satu sumber yang berasal dari mitra swasta.

Sumber air tersebut diberikan secara gratis sebagai bentuk bantuan sosial kepada masyarakat terdampak. Kondisi itu menjadi bahan evaluasi bagi BPBD agar ke depan Kota Tasikmalaya memiliki sumber air sendiri yang dapat dimanfaatkan ketika terjadi kekeringan maupun kondisi darurat lainnya.

Budi menyebutkan, pihaknya telah melakukan komunikasi awal dengan Dinas Lingkungan Hidup (LH) dan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) untuk menjajaki kemungkinan penyediaan cadangan air melalui pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM).

Rencananya, fasilitas tersebut tidak hanya melayani kebutuhan masyarakat di wilayah cakupan SPAM, tetapi juga dapat dilengkapi tandon atau tempat penyimpanan air yang bisa dimanfaatkan untuk membantu wilayah lain.

"Kita punya cadangan dalam hal ini sumber air bisa dari satu titik ataupun bisa dari beberapa titik atau dari SPAM yang ada, yang sekiranya potensinya dapat dilakukan untuk distribusi selain untuk masyarakat yang mendapat SPAM," jelasnya.

Usulan tersebut nantinya akan dikomunikasikan lebih lanjut dengan organisasi perangkat daerah (OPD) teknis sebelum disampaikan kepada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) untuk masuk dalam perencanaan pembangunan.

Budi berharap, penyediaan sumber air cadangan dapat menjadi salah satu program prioritas sehingga pemerintah memiliki alternatif pasokan ketika menghadapi situasi kekeringan yang lebih krusial.

Di sisi lain, pelaksanaan distribusi air bersih selama ini juga mendapat dukungan dari berbagai mitra dan komunitas. Di antaranya Asia Plaza, BBWS, Dolar, Daarut Tauhid Peduli, Baznas, DPD dan DPR RI, komunitas NMax, serta Persis.

Dari sisi pembiayaan, Budi menyebutkan, hingga 30 Oktober 2026, jumlah distribusi telah mencapai sekitar 745 rit atau perjalanan pengiriman air. Sementara itu, kemampuan pembiayaan melalui APBD masih berada di bawah jumlah tersebut.

Untuk menutupi kebutuhan operasional di luar kemampuan APBD, sejumlah mitra dan komunitas turut memberikan dukungan, khususnya untuk biaya akomodasi pergerakan armada dan personel di lapangan.

BPBD sendiri menyediakan armada dan personel, sedangkan mitra atau komunitas membantu pembiayaan operasional distribusi ke lokasi masyarakat yang membutuhkan.

Besaran biaya operasional tersebut bervariasi, bergantung pada jarak tempuh dan kebutuhan masing-masing kegiatan distribusi.

"Jadi, mereka membantu mengakomodasi apa yang dibutuhkan untuk di lapangan, terutama untuk pergerakan armada dan juga personel yang membawa ke lapangan," pungkasnya.


Editor : Doni Ramdhani