Buya Yahya: Jangan Kaitkan Tali Pocong dengan Mistik, Ini Penjelasan Islam

Buya Yahya menjelaskan pandangan Islam terkait tali pocong yang dilepas.

Buya Yahya: Jangan Kaitkan Tali Pocong dengan Mistik, Ini Penjelasan Islam
Buya Yahya jelaskan soal penjelasan islam terkait tali pocong

INILAHKORAN - Perdebatan seputar pelepasan tali pocong jenazah kerap muncul di tengah masyarakat Muslim Indonesia, bahkan memicu berbagai spekulasi mistis.

Dalam salah satu kajian rutinnya, ulama karismatik KH Yahya Zainul Ma’arif atau yang akrab disapa Buya Yahya, meluruskan persepsi tersebut dengan penjelasan yang mendalam dari sudut pandang Islam.

Menurut Buya Yahya, melepas tali pocong sebelum jenazah dikuburkan memang dianjurkan dalam syariat Islam, namun status hukumnya adalah sunnah, bukan kewajiban. Artinya, tindakan ini lebih kepada mengikuti adab dalam pemakaman, bukan sesuatu yang menentukan ketenangan arwah di alam kubur.

“Membuka ikatan kain kafan pada jenazah itu dianjurkan, tapi bukan wajib. Tidak perlu dikaitkan dengan hal-hal mistis seperti arwah gentayangan,” jelas Buya Yahya.

Buya Yahya menyayangkan masih adanya anggapan bahwa tali pocong yang tidak dilepas akan menyebabkan arwah tidak tenang atau bergentayangan. Ia menegaskan bahwa tidak ada dasar dalam ajaran Islam yang menyebutkan hal semacam itu. Kepercayaan tersebut, menurutnya, sebaiknya ditinggalkan agar tidak menyesatkan generasi umat Muslim.

Dalam penjelasannya, Buya Yahya menyampaikan bahwa pelepasan tali pocong lebih ditujukan pada aspek fisik dan logis, bukan hal gaib. Ia memberi ilustrasi menarik tentang pohon yang dililit kawat. Seiring waktu, pohon akan tumbuh membesar, dan kawat yang melilitnya bisa menyebabkan tekanan hingga merusak batangnya. Kondisi ini serupa dengan jenazah yang tubuhnya akan membusuk dan membengkak setelah wafat.

“Tubuh manusia akan membusuk dan membengkak setelah dikuburkan. Kalau tali pocong tidak dilepas, bisa menimbulkan tekanan seperti pohon yang dililit kawat. Ini alasan kenapa secara adab, pelepasan tali pocong disunnahkan,” ungkapnya.

Meskipun begitu, Buya Yahya menegaskan bahwa jika tali pocong tidak dilepas, tidak berarti jenazah akan menderita atau terganggu di alam kubur. Jenazah tetap akan mengalami proses alami sebagaimana mestinya.

“Kalau tidak dilepas pun, tubuh tetap akan hancur. Tapi kalau bisa dilepas, ya dilepas saja. Itu bagian dari menjaga adab pemakaman,” tuturnya.

Buya Yahya yang juga pengasuh Lembaga Pendidikan Dakwah (LPD) Al-Bahjah ini mengajak umat Islam untuk lebih bijak dalam memahami ajaran agama, serta meninggalkan keyakinan yang tidak memiliki dasar dalam syariat.

Dengan penjelasan ini, diharapkan masyarakat dapat lebih memahami bahwa melepas tali pocong bukan ritual mistis, melainkan bagian dari penghormatan terakhir kepada jenazah, sesuai tuntunan Islam yang penuh hikmah.


Editor : Firda Rachmawati