Cegah Lonjakan Harga, Pemkot Bandung Dorong Gerakan Pangan Murah

Menjelang natal dan tahun baru, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung kembali menggelar gerakan pangan murah (GPM) menekan potensi lonjakan harga pangan

Cegah Lonjakan Harga, Pemkot Bandung Dorong Gerakan Pangan Murah
Pemkot Bandung menggelar gerakan pangan murah (GPM) sebagai langkah antisipasi kenaikan harga jelang Nataru. Yogo Triastopo/Inilahkoran

INILAHKORAN.ID - Menjelang natal dan tahun baru, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung kembali menggelar gerakan pangan murah (GPM) menekan potensi lonjakan harga pangan bekerja sama dengan Badan pangan Nasional, ID Food, Bulog dan sejumlah distributor.

Analis Ketahanan pangan Ahli Madya, Dinas Ketahanan pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung, Ahmad Wahyudin mengatakan, GPM digelar dengan menghadirkan berbagai komoditas pangan khususnya komoditas yang tengah berfluktuasi di pasar.

"Gerakan pangan murah, kita laksanakan bekerja sama dengan Badan pangan Nasional, ID Food dan juga dengan para distributor. GPM hari ini kita laksanakan di area Kantor DKPP," kata Ahmad Wahyudin pada Jumat 12 Desember 2025.

Dalam kegiatan GPM tersebut, dituturkan ia sejumlah bahan pangan strategis disediakan dengan harga yang lebih murah dari pasar. Untuk komoditas beras, pemerintah menghadirkan beras SPHP dari Bulog seharga Rp60.000 per lima kilogram, dengan kuota sebanyak 1 ton.

"Untuk pangan strategis yang dihadirkan itu beras. Kita ada beras SPHP dari Bulog dengan harga jual Rp60.000 per lima kilogram dengan kuota 1 ton," ucapnya.

Selain beras, tersedia pula telur ayam dengan kuota 500 kilogram dan komoditas lain seperti bawang merah, bawang putih, minyak goreng, gula serta cabai merah yang saat ini harganya cenderung meningkat di pasaran.

Ahmad menegaskan, semua harga di GPM harus lebih murah dibandingkan harga pasar. Misalnya, telur dijual seharga Rp27.000 per kilogram. "Harga GPM memang harus lebih murah dari harga pasaran. Misalkan telur, di sini kita jual Rp27.000, sementara harga pasaran hari ini Rp30.000-Rp32.000 di warung-warung," ujar dia.

Untuk daging ayam, harga di GPM dipatok Rp36.000 per kilogram lebih rendah dibanding harga di luar yang telah mencapai sekitar Rp38.000. 

Sementara itu sambung ia, pasokan pangan untuk Kota Bandung berasal dari berbagai daerah. Untuk komoditas beras, pasokan masih banyak didatangkan dari wilayah sekitar Jawa Barat. "Untuk beras, kita masih dari Cianjur, Indramayu, Subang juga Kabupaten Garut dan Tasik. Beberapa ada juga dari Jawa Tengah," jelasnya.

Sedangkan untuk telur ayam, pasokan terbesar masih berasal dari Blitar, Jawa Timur. "Untuk telur, saat ini kita masih mengandalkan dari Blitar. Itu yang produksinya paling banyak. Kalau yang terdekat, ada dari Majalaya, tapi tonasenya memang jauh lebih kecil," ujar dia.

Menjelang libur akhir tahun, pihaknya masih mempertimbangkan pelaksanaan GPM berikutnya. Pelaksanaannya akan disesuaikan dengan perkembangan harga di pasar serta kebutuhan masyarakat.

"Untuk menyambut nataru, kita akan melihat tren harga dan permintaan masyarakat. Kita sudah menyiapkan satu kali lagi kegiatan GPM, tapi nanti kita lihat dulu kondisi di lapangan," ungkapnya.

Ia menambahkan, setiap pasar di Kota Bandung memiliki dinamika harga yang berbeda-beda. Karena itu, lokasi dan waktu GPM berikutnya masih menunggu arahan pimpinan.

"Di Kota Bandung ini setiap pasar kadang-kadang harganya suka berbeda. Kita akan pastikan dulu arahan pimpinan, termasuk lokasi dan waktu pelaksanaannya," tandas dia.


Editor : Ahmad Sayuti