CEO Rekosistem Sebut Pengelolaan Sampah Perlu Pergerakan dari Hulu

CEO dan co-Founder Rekosistem Ernest Layman memaparkan pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSE

CEO Rekosistem Sebut Pengelolaan Sampah Perlu Pergerakan dari Hulu
Fasilitas Rekosistem bisa berjalan diperlukan pergerakan sampah dari hulu melalui edukasi, sistem yang adil, serta insentif harga yang jelas bagi masyarakat. (rizki mauludi)

INILAHKORAN, Bogor - CEO dan co-Founder Rekosistem Ernest Layman memaparkan pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL). 

Fasilitas Rekosistem bisa berjalan diperlukan pergerakan sampah dari hulu melalui edukasi, sistem yang adil, serta insentif harga yang jelas bagi masyarakat.

"Saat ini, kapasitas produksi Rekosistem mencapai 3 juta kilogram per tahun. Sejak beroperasi penuh pada September hingga kini, tercatat sekitar 870 ribu kilogram sampah telah berhasil didaur ulang," terang Ernest, Kamis 26 Februari 2026.

Ernest melanjutkan, fasilitas Rekosistem di Harjasari Kecamatan Bogor Selatan yang dikunjungi Wali Kota Bogor itu disebut sebagai Reko-Hub yakni tempat pemulihan material daur ulang.

"Fokus utama kami ada dua, yaitu sampah plastik dan minyak jelantah. Tapi kami juga menerima material daur ulang lain seperti kardus, beling, logam, hingga sampah elektronik rumah tangga," tutur Ernest.

Ernest menjelaskan, proses utama di Reko-Hub yakni pemilahan dan pengolahan awal agar setiap jenis sampah sesuai dengan spesifikasi kebutuhan pabrik sebagai bahan baku.

"Setelah dipilah, kami lakukan pengolahan sederhana. Minyak jelantah difilter dan diuji laboratorium agar kadar lemak, kelembapan, dan impurities sesuai standar pabrik. Begitu juga dengan botol plastik yang dipilah berdasarkan warna dan spesifikasinya," jelasnya. 

Diaa melanjutkan, Rekosistem menerima berbagai jenis sampah daur ulang tercampur seperti plastik, kertas, kardus, beling, logam, elektronik dan minyak jelantah. Namun sampah organik dan residu belum dapat dikelola di fasilitas tersebut.

"Terkait kemitraan, kami telah bekerja sama dengan komunitas dan pelaku pengumpulan sampah seperti lapak, bank sampah, pengepul, serta warga yang sudah memilah sampah. Kehadiran Wali Kota Bogor diharapkan dapat memperluas kolaborasi dengan TPS 3R dan relawan lingkungan," tuturnya.


Editor : Doni Ramdhani