Jelang Musim Hujan, Farhan Minta Bandung Perkuat Pengelolaan Sampah

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan meminta pengelolaan sampah diperkuat menjelang musim hujan 2026 untuk mencegah saluran air tersumbat dan genangan.

Jelang Musim Hujan, Farhan Minta Bandung Perkuat Pengelolaan Sampah
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menyampaikan mitigasi sampah dan genangan menjelang musim hujan.

INILAHKORAN.ID - Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengingatkan, persoalan sampah perlu mendapat perhatian serius menjelang musim hujan 2026. Timbunan sampah yang tidak tertangani, berpotensi menyumbat saluran air dan memperparah genangan di sejumlah wilayah Kota Bandung.

Dia meminta, seluruh perangkat daerah hingga kewilayahan mulai menyiapkan langkah mitigasi. Sekretaris Daerah bersama Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM), telah diintruksikan menyiapkan pemetaan risiko menghadapi musim hujan hingga awal 2027.

“Untuk itu saya meminta kepada Sekretaris Daerah, beserta Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga dalam seminggu ini mempersiapkan sebuah presentasi persiapan menghadapi musim hujan 2026 sampai awal 2027,” kata Farhan, Selasa (15/9/2026).

Menurutnya, Kota Bandung masih memiliki sejumlah wilayah yang rawan mengalami genangan. Salah satu persoalannya, berkaitan dengan pengelolaan lingkungan yang belum berjalan optimal sehingga perlu diantisipasi sebelum curah hujan meningkat.

“Ada beberapa titik wilayah di Kota Bandung, yang memang rawan genangan akibat dari pengelolaan lingkungan yang tidak baik. Kita menghadapi konsekuensinya, maka kita siapkan mitigasi menghadapi risikonya,” ucapnya.

Persoalan sampah, menjadi bagian penting dalam mitigasi karena kondisi sampah di saluran air dapat memperburuk genangan. Farhan menyebut, kondisi cuaca yang lebih kering belakangan membuat timbunan sampah relatif belum terlalu menekan dibandingkan periode musim hujan.

“Timbunan sampah tidak terasa begitu menekan, hanya beberapa titik saja. Karena sampah dalam kondisi yang lebih kering daripada musim hujan, akibatnya sebagian besar sampah bisa diangkut ke TPA Sarimukti,” ujar dia.

Meski kondisi saat ini relatif terkendali, dia meminta jajaran pemerintahan tidak terlena. Kota Bandung masih bergantung pada kapasitas pengangkutan, dan kuota pembuangan sampah ke TPA Sarimukti yang melibatkan kebijakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat.

“Karena apabila hanya pemerintah kota yang melakukan pengerjaan pengangkutan, kuotanya terbatas. Jadi tentu saja perlu intervensi pemerintah provinsi untuk membuka kuota pengangkutan sampah ke TPA Sarimukti,” ujar dia.

Farhan mengatakan, persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan memperbanyak pengangkutan menuju tempat pemrosesan akhir. Sejak 2005, Kota Bandung tidak memiliki tempat pemrosesan akhir sampah sendiri sehingga pengurangan sampah dari sumber menjadi kebutuhan penting.

“Artinya kita di Pemerintahan Kota Bandung dalam pengelolaan sampah, harus berpusat kepada pengelolaan sampah di hulu, di RT, di RW dan di kelurahan. Pastikan hal itu terjadi,” tegasnya.

Langkah pengelolaan dari hulu, akan diperkuat melalui fasilitas pengolahan sampah di tingkat kelurahan. Dia menyebut, kebutuhan anggaran program itu cukup besar tetapi fasilitas pengolahan dinilai menjadi bagian dari solusi jangka panjang.

“Saya akan mengundang langsung pengadaan-pengadaan khusus bagi fasilitas pengolahan sampah di kelurahan. Anggarannya tidak kecil sama sekali,” ujar dia.

Penguatan pengelolaan sampah, juga diarahkan ke tingkat RW. Saat ini petugas pemilah dan pengolah sampah sudah tersedia di 1.597 RW. Namun jumlah itu, dinilai masih belum sebanding dengan volume sampah yang dihasilkan setiap hari.

“Petugas pemilah yang ada di 1.597 RW masih jauh dari cukup. Tentu saja artinya kita akan menambah terus,” tuturnya.

Dia menyebut, produksi sampah Kota Bandung secara resmi berada di kisaran 1.500 ton per hari. Berdasarkan kondisi lapangan, volume itu diperkirakan bisa mendekati 2.000 ton per hari karena terdapat sampah yang berasal dari berbagai wilayah.

Besarnya volume sampah, membuat pengelolaan dari sumber menjadi semakin penting. sampah yang berhasil dipilah dan diolah sejak tingkat RT, RW hingga kelurahan dapat mengurangi beban pengangkutan sekaligus menekan potensi sampah masuk ke saluran air.

Farhan meminta setiap wilayah tidak menunggu musim hujan tiba. Pemetaan titik rawan genangan, penguatan pengelolaan sampah dan koordinasi lintas dinas perlu mulai dilakukan sejak sekarang.

“Setiap wilayah, setiap dinas mulai memperhatikan dan merancang,” ujar dia.

Menurutnya, mitigasi musim hujan tidak hanya berkaitan dengan penanganan genangan setelah hujan turun. Pencegahan dari hulu, termasuk memastikan sampah tertangani dengan baik menjadi bagian penting agar risiko genangan dapat ditekan.

“Kita siapkan mitigasi menghadapi risikonya,” pungkasnya.


Editor : Ahmad Sayuti