Cigagak Wetan, Ruang Publik Baru di Ujung Timur Kota Bandung yang Kian Hidup

Cigagak Wetan jadi manget tempat beristirahat untuk melepas penat para penggiat olah raga out door di kawasan Timur Kota Bandung, mulai dari pesepeda hingga para pendaki

Cigagak Wetan, Ruang Publik Baru di Ujung Timur Kota Bandung yang Kian Hidup
Para pengunjung tengah ,menikmati suana sambil ngopi dan ngobrol santai di salah satu kios yang ada di runag publik di Kawasan Cigagak Wetan. Yogo Triastopo

INILAHKORAN.ID - Pagi di kawasan Cigagak Wetan, Kelurahan Palasari, Kecamatan Cibiru selalu terasa berbeda. Embusan udara yang masih sejuk berpadu dengan rimbunnya pepohonan, menciptakan suasana yang sulit ditemukan di tengah kepadatan Kota Bandung.

Di sinilah, sebuah rest area sederhana perlahan menjelma menjadi magnet baru bagi para pegiat olahraga luar ruang.

Setiap akhir pekan, jalur menuju kawasan itu dipenuhi langkah para pendaki kecil, dering bel sepeda dan obrolan ringan para pengunjung yang datang dari berbagai penjuru seperti Antapani, Cicadas hingga Ciparay Kabupaten Bandung. Mereka tiba sejak pukul tujuh pagi, mengejar udara segar sembari menaklukkan jalur hiking yang menantang di sekitar Cigagak.

Menjelang pukul 11.00 WIB, ritme kawasan mencapai puncaknya. Tawa, keringat dan kesibukan pedagang berpadu menjadi harmoni khas ruang publik yang hidup. Namun suasana dinamis tersebut, bukanlah pemandangan lama.

Ujang Supriatna, lelaki 60 tahun asal Ujungberung menjadi saksi perubahan itu. Selama tiga tahun berjualan di sana khususnya kelapa muda dan gorengan, ia merasakan bagaimana Cigagak Wetan berkembang dari sekadar tempat singgah menjadi ruang rekreasi masyarakat.

“Dulu hanya ada dua kios, suasananya masih sepi. Kebanyakan yang datang pesepeda saja. Keramaian baru mulai terasa sekitar tahun 2023, terutama setelah kegiatan jalan sehat sering digelar. Sejak saat itu, kawasan ini menjadi salah satu lintasan favorit para penghobi olahraga," kenang Ujang Supriatna.

Kini, banyak lapak makanan berdiri di kawasan rest area menjadi oase kecil bagi siapa saja yang singgah setelah menempuh jalur menanjak Cigagak. Aroma bandrek mengepul di udara dingin pagi hari, sementara surabi, batagor, bakso kampung dan tahu susu menjadi pengisi energi para pendaki amatir maupun profesional.

Di sudut lapak Ujang, tumpukan kelapa muda tersusun rapi. Kelapa ini bukan sembarang kelapa, melainkan kelapa dawegan murni atau KDM yang didatangkan langsung dari Cikalong dan Cikatomas, Tasikmalaya yang dikenal karena rasa manis dan daging buahnya yang lembut.

“Nama KDM diberikan oleh pembeli dan sekarang sudah viral di medsos. Jadi makin banyak orang datang,” ucapnya sambil tersenyum.

Baginya, peningkatan minat masyarakat terhadap olahraga luar ruang membawa berkah tersendiri. Setiap pengunjung bukan hanya pelanggan, tetapi juga denyut ekonomi kecil yang menghidupi para pedagang sekitar.

Cigagak Wetan, bukan sekadar titik istirahat menuju puncak jalur hiking. Kawasan itu telah menjadi ruang pertemuan antara olahraga, rekreasi dan kehidupan sosial warga Bandung Timur.

Di tempat ini, mereka yang mengejar kebugaran bertemu dengan mereka yang mencari ketenangan. Keluarga, komunitas sepeda hingga para pendaki pemula berkumpul dalam satu tempat yang menghidupkan kembali semangat kebersamaan.


Editor : Ahmad Sayuti