Cimahi Darurat Kekerasan Seksual, DP3AP2KB: Pelaku Didominasi Orang Terdekat
Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Cimahi mencatat adanya tren peningkatan kasus kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Cimahi – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) kota cimahi mencatat adanya tren peningkatan kasus kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan.
Berdasarkan data terbaru Januari hingga September 2024, pihaknya mencatat adanya 56 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Ironisnya, sebagian besar pelaku adalah orang-orang terdekat korban.
Kepala DP3AP2KB Kota Cimahi, Fitriani Manan mengaku prihatin dengan adanya peningkatan kasus ini. Menurutnya, ndonesia saat ini mengalami kegawatan, kedaruratan seksual.
"Kasus kekerasan seksual memang meningkat, dan biasanya pelaku itu orang terdekat. Bisa keluarga, paman, kakek, guru, penjaga sekolah, bahkan pemilik warung tempat anak-anak jajan," kata Fitriani.
Ancaman Love Scamming Mengintai Generasi Muda
Selain itu, Fitriani juga menyoroti ancaman love scamming atau penipuan berkedok percintaan yang semakin marak melalui media sosial dan aplikasi pencari jodoh seperti Omi.
Ia menjelaskan bahwa modus ini sangat berbahaya, terutama bagi remaja putri yang aktif di dunia maya.
"Love scamming itu cukup berbahaya. Anak-anak remaja perempuan, apalagi yang kecanduan media sosial, sangat rawan jadi korban," jelasnya.
"Mengawasinya memang susah, tapi kami berkoordinasi dengan Diskominfo untuk membatasi akses ke situs pornografi dan aplikasi rawan," imbuhnya.
Peran Keluarga Sangat Krusial dalam Pencegahan
Fitriani menekankan bahwa pengawasan digital saja tidak cukup. Peran keluarga, terutama orang tua dan ayah, sangat penting dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
Ia juga menyoroti pentingnya kehadiran figur ayah dalam pendidikan anak.
"Kadang peran ayah hilang, semua pendidikan anak diserahkan ke ibu. Padahal ibu juga sibuk bekerja atau urusan rumah tangga. Akhirnya anak mencari jawaban di internet dan terpapar situs-situs berbahaya," tegasnya.
Kendati begitu, Pemerintah Kota Cimahi berupaya meningkatkan sosialisasi dan edukasi mengenai pencegahan kekerasan seksual.
Selain itu, koordinasi antar instansi terkait juga diperkuat untuk memberikan perlindungan yang lebih baik bagi perempuan dan anak-anak di Kota Cimahi.
"Upaya ini diharapkan dapat menekan angka kekerasan seksual dan memberikan rasa aman bagi seluruh warga," tandasnya.*** (agus satia negara)
Editor : Ahmad Sayuti
