Cuaca Bandung Raya Tak Menentu, Siang Terik Capai 35°C, Malam Berpotensi Hujan Lebat
Warga Bandung Raya tengah menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu dalam sepekan terakhir. Siang hari terasa sangat panas dengan suhu mencapai lebih dari 35°C, namun memasuki sore hingga malam hari wilayah ini berpotensi diguyur hujan deras yang disertai petir dan angin kencang.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Warga Bandung Raya tengah menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu dalam sepekan terakhir. Siang hari terasa sangat panas dengan suhu mencapai lebih dari 35°C, namun memasuki sore hingga malam hari wilayah ini berpotensi diguyur hujan deras yang disertai petir dan angin kencang.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandung I menyebutkan, fenomena disebabkan oleh peralihan musim kemarau ke musim hujan. Langit yang minim tutupan awan, serta posisi semu matahari yang kini mulai bergeser ke selatan.
“Suhu maksimum di Bandung Raya berada pada kisaran 31 hingga 35 derajat Celsius, bahkan tercatat mencapai 35,4 derajat pada 4 Oktober lalu. Kondisi ini terjadi karena langit cerah tanpa banyak awan dan peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan,” ujar Kepala BMKG Bandung I, Teguh Rahayu, Jumat 17 Oktober 2025.
Ia juga menjelaskan, anomali suhu permukaan laut di perairan Jawa Barat yang masih cukup hangat turut mendukung pembentukan awan hujan secara lokal. Di sisi lain, pola angin masih didominasi oleh Monsun Australia yang membawa udara kering di siang hari dan ikut menyebabkan suhu meningkat.
“Angin timuran dari Monsun Australia masih cukup dominan, sehingga pada siang hari suhu terasa lebih panas karena udara yang dibawa cenderung kering. Namun menjelang sore, kelembapan meningkat dan mendukung pertumbuhan awan konvektif yang bisa memicu hujan,” ucapnya.
Pihaknya memprediksi, potensi hujan ringan hingga lebat masih akan terjadi hingga 19 Oktober 2025 mendatang. Hujan deras diperkirakan turun pada 17 dan 19 Oktober, meliputi wilayah Kota dan Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Cimahi serta Garut.
Teguh juga menyoroti kondisi indeks iklim global yang saat ini cenderung netral dan tidak berdampak besar terhadap curah hujan di Indonesia. Namun, Indian Ocean Dipole (IOD) yang berada pada fase negatif menjadi salah satu faktor pemicu peningkatan pembentukan awan di kawasan barat Indonesia.
“Saat ini ENSO berada pada -0,42 dan SOI di angka +3,3, yang masih tergolong netral. Namun IOD menunjukkan angka -1,39 yang mengindikasikan adanya potensi peningkatan pertumbuhan awan, khususnya di wilayah barat Indonesia, termasuk Jawa Barat,” ujar dia.
Masyarakat pun diminta untuk lebih waspada terhadap cuaca ekstrem, khususnya hujan lebat berdurasi singkat yang dapat disertai petir dan angin kencang.
“Kami mengingatkan warga untuk tetap menjaga kesehatan di tengah cuaca yang sangat dinamis. Pagi hari terasa dingin, siang hari panas terik dan malam bisa turun hujan. Bagi yang beraktivitas di luar ruangan, segera cari tempat aman jika cuaca memburuk,” jelasnya.
Pihaknya pun mengimbau masyarakat untuk terus memantau perkembangan cuaca melalui laman resmi signature.bmkg.go.id atau aplikasi Info BMKG agar bisa mengambil langkah antisipatif terhadap potensi cuaca ekstrem.
Editor : Doni Ramdhani


