Cuaca Ekstrem Masih Mengintai Jawa Barat, Hujan Lebat Berpotensi Berlanjut hingga Akhir Januari

Ancaman cuaca ekstrem masih membayangi wilayah Jawa Barat. Dalam sepekan terakhir, intensitas hujan lebat hingga ekstrem tercatat meluas di hampir seluruh daerah, dan kondisi tersebut diprakirakan belum akan mereda hingga akhir Januari 2026.

Cuaca Ekstrem Masih Mengintai Jawa Barat, Hujan Lebat Berpotensi Berlanjut hingga Akhir Januari
ilustrasi/net

INILAHKORAN.ID – Ancaman cuaca ekstrem masih membayangi wilayah Jawa Barat. Dalam sepekan terakhir, intensitas hujan lebat hingga ekstrem tercatat meluas di hampir seluruh daerah, dan kondisi tersebut diprakirakan belum akan mereda hingga akhir Januari 2026.

Analisis dinamika atmosfer periode 11–17 Januari 2026 menunjukkan kombinasi faktor global, regional, hingga lokal yang secara signifikan meningkatkan suplai uap air dan memicu pembentukan awan konvektif di Jawa Barat. Salah satu pemicunya adalah suhu muka laut di perairan Indonesia yang relatif hangat, menjadi faktor utama pembentuk hujan deras.

Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) terpantau berada pada Fase 6 (Netral–Western Pacific) dan aktif secara spasial di sebagian wilayah Indonesia. Kondisi ini memperkuat proses pertumbuhan awan hujan, terutama pada skala regional.

Situasi diperparah dengan munculnya sirkulasi siklonik yang berkembang menjadi Bibit Siklon Tropis 96S di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Timur (NTT). Sistem ini mendorong dominasi angin baratan yang bersifat basah, sekaligus memicu terbentuknya daerah belokan dan pertemuan angin di wilayah Jawa Barat.

"Kondisi ini didukung oleh dominasi angin Barat Daya–Barat Laut yang bersifat basah. Kombinasi kedua faktor tersebut memicu terbentuk dan menguatnya daerah belokan serta pertemuan angin yang melintasi sebagian wilayah Jawa Barat,” tulis Kepala Stasiun Klimatologi Jabar, Rakhmat Prasetia, dalam keterangannya, Minggu 18 Januari 2025.

Kelembapan udara di lapisan 850–500 mb tercatat sangat tinggi, berkisar antara 65 hingga 98 persen, dengan tingkat labilitas atmosfer dari ringan hingga kuat.

Tak mengherankan jika hujan lebat hingga ekstrem tercatat di banyak daerah, mulai dari Bogor, Depok, Bekasi, Karawang, Sukabumi, Cianjur, Purwakarta, Bandung Raya, Garut, Tasikmalaya, Pangandaran, hingga wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, Sumedang, dan Subang.

Memasuki periode 19–25 Januari 2026, potensi hujan deras diprakirakan masih tinggi. Pada skala global, indeks ENSO di wilayah Nino 3.4 berada pada fase negatif yang mengindikasikan La Niña lemah. Kondisi ini dikenal mampu meningkatkan pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia.

Sementara itu, gelombang Rossby Ekuator diprakirakan aktif melintasi Pulau Jawa, memperkuat aktivitas konvektif. Ditambah suhu muka laut yang tetap hangat serta keberadaan belokan angin dan daerah konvergensi, Jawa Barat berpotensi kembali diguyur hujan sedang hingga sangat lebat.

“Labilitas atmosfer yang berada pada kategori sedang hingga kuat semakin memperbesar peluang hujan lebat disertai kilat dan angin kencang pada skala lokal,” ucapnya.

Berdasarkan prospek cuaca mingguan, potensi hujan sedang hingga lebat, bahkan sangat lebat, hampir merata di seluruh Jawa Barat sepanjang pekan depan. Wilayah Bogor Raya, Bekasi, Karawang, Subang, Purwakarta, Sukabumi, Cianjur, Bandung Raya, hingga wilayah Priangan Timur dan Pantura Jabar menjadi daerah yang perlu meningkatkan kewaspadaan.

Hujan lebat disertai petir dan angin kencang berpotensi terjadi pada durasi singkat, namun dapat memicu dampak serius seperti banjir, tanah longsor, pohon tumbang, dan gangguan transportasi.

Masyarakat dan instansi terkait, diimbau tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Risiko bencana hidrometeorologis diperkirakan meningkat, seiring tingginya intensitas hujan.

Masyarakat juga diminta lebih berhati-hati dalam merencanakan aktivitas, terutama perjalanan darat, laut, dan udara. Informasi cuaca terkini dapat dipantau melalui aplikasi Info BMKG, situs resmi cuaca.bmkg.go.id, serta kanal media sosial resmi BMKG Jawa Barat.

Pemerintah daerah diharapkan terus memperkuat kesiapsiagaan dan memastikan jalur evakuasi serta sistem peringatan dini berjalan optimal, mengingat puncak musim hujan masih berlangsung di sebagian besar wilayah Jawa Barat.***


Editor : JakaPermana