Cuaca Ekstrem, Petani Sayuran Pangalengan Tingkatkan Penggunaan Pestisida hingga 50%
Kondisi cuaca ekstrem dengan intensitas curah hujan tinggi di wilayah Pangalengan, Kabupaten Bandung berdampak langsung terhadap pola budidaya hortikultura.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Kondisi cuaca ekstrem dengan intensitas curah hujan tinggi yang melanda wilayah Pangalengan, Kabupaten Bandung berdampak langsung terhadap pola budidaya tanaman hortikultura.
Kondisi suhu yang lembab saat cuaca ekstrem di Pangalengan itu dinilai mempercepat pertumbuhan bakteri dan jamur. Hal itu yang berpotensi merusak tanaman sayuran yang ditanam petani.
Salah seorang petani sayuran di Pangalengan, Yusuf Supriadi mengatakan peningkatan penggunaan pestisida menjadi langkah utama untuk mencegah kebusukan tanaman. Bahkan, pemakaian pestisida meningkat hingga 50 persen dibandingkan musim kemarau.
“Curah hujan tinggi memang mempercepat serangan bakteri dan jamur. Makanya, perawatan harus lebih ekstra, salah satunya dengan peningkatan penggunaan pestisida,” kata Yusuf kepada INILAHKORAN.ID, Selasa 3 Februari 2026.
Selain itu, para petani juga menambah usia tanam sekitar 20 persen dari masa tanam normal yang rata-rata mencapai 100 hari. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kualitas hasil panen tetap terjaga.
Yusuf menjelaskan, produksi tanaman hortikultura seperti kubis, wortel, dan kentang di wilayah Pangalengan rata-rata mencapai 25 ton per hektar. Meski curah hujan tinggi, produksi tersebut masih bisa dipertahankan asalkan perawatan dilakukan secara optimal.
“Produksi sebenarnya masih bisa sama, 25 ton per hektar, tapi syaratnya perawatan harus lebih maksimal dibandingkan musim kemarau,” ujarnya.
Yusuf menambahkan, secara umum biaya produksi pada musim hujan dan kemarau relatif sama. Pada musim kemarau, biaya meningkat untuk kebutuhan penyiraman air hingga 50 persen. Sementara pada musim hujan, lonjakan biaya terjadi pada penggunaan pestisida dengan persentase yang hampir sama.
“Jadi petani tidak perlu terlalu khawatir dengan hujan tinggi. Apalagi tanaman hortikultura memang cocok ditanam di daerah dingin seperti Pangalengan,” ujarnya.
Yusuf juga menilai, jika pun terjadi penurunan produksi, kondisi tersebut biasanya diimbangi dengan kenaikan harga jual di pasaran.
Hal senada disampaikan petani sayuran lainnya, Iman. Ia membenarkan musim hujan dengan intensitas tinggi berdampak pada peningkatan biaya produksi, khususnya untuk pestisida dan tenaga kerja.
“Kalau biasanya penyemprotan pestisida dua kali dalam sepekan, sekarang bisa sampai lima kali,” kata Iman.
Tak hanya itu, biaya tenaga kerja juga ikut terdampak. Menurutnya, jam kerja buruh tani menjadi tidak menentu karena faktor cuaca. Hasil produksinya pun berkurang, karena proses potosintesis tanaman yang dibantu oleh sinar matahari tidak berjalan dengan maksimal.
“Biasanya pekerja bisa enam jam kerja, tapi karena hujan terus, sering kali pekerjaan tertunda,”katanya.
Editor : Doni Ramdhani


