Dari Halaman Belakang Rumah, 24 Ayam Petelur Jadi Tambahan Penghasilan Keluarga
Tak perlu lahan luas atau kandang besar untuk memulai usaha ayam petelur. Bagi Firman (26), halaman belakang rumah bisa disulap menjadi kandang sederhana.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Tak perlu lahan luas atau kandang besar untuk memulai usaha ayam petelur. Bagi Firman (26), halaman belakang rumah justru bisa disulap menjadi kandang sederhana yang menghasilkan.
Warga Kampung Cinangka, Desa Cukanggenteng, Kabupaten Bandung itu sudah dua tahun terakhir memelihara ayam petelur jenis Highland. Jumlahnya memang tak banyak, hanya 24 ekor.
Namun, dari puluhan ekor ayam tersebut, Firman bisa memanen sekitar 8-9 kg telur setiap pekannya.
Kandang berukuran sekitar 2x2,5 meter menjadi tempat puluhan ayam tersebut berproduksi. Firman menggunakan kandang baterai bertingkat berbahan kawat antikarat yang dibelinya melalui platform belanja daring.
Usaha rumahan itu berawal dari coba-coba. Awalnya, telur yang dihasilkan hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sendiri.
Namun, produksi telur yang ternyata lebih dari kebutuhan keluarga membuat Firman mulai menjualnya kepada tetangga.
Kini, warga sekitar justru datang langsung ke rumah untuk membeli telur hasil ternaknya.
"Alhamdulillah meskipun sedikit dan hanya memanfaatkan halaman belakang rumah, ada hasilnya. Lumayan untuk menambah pendapatan keluarga. Minimal bisa membantu membeli beras dan memenuhi kebutuhan harian lainnya," kata Firman kepada INILAHKORAN.ID, Minggu (13/9/2026).
Menurutnya, dari 24 ekor ayam tersebut, tingkat produksi telur setiap hari rata-rata mencapai 85 hingga 90 persen.
Artinya, sebagian besar ayam yang dipeliharanya mampu menghasilkan telur setiap hari. Jika dikumpulkan selama sepekan, produksi telur bisa mencapai 8 hingga 9 kilogram.
Jumlah tersebut memang belum menjadikan beternak ayam petelur sebagai usaha besar. Tetapi bagi Firman, produksi puluhan kilogram telur dalam sebulan cukup berarti untuk membantu ekonomi keluarga.
"Awalnya memang coba-coba. Hasilnya untuk memenuhi kebutuhan telur keluarga sendiri. Tapi karena ada surplus dan tetangga banyak yang datang membeli, akhirnya berjalan sampai sekarang," ujar ayah satu anak tersebut.
Firman mengatakan, memelihara ayam petelur dalam skala rumahan relatif mudah. Namun, bukan berarti bisa dilakukan sembarangan.
Kualitas pakan, ketersediaan air minum, pemberian vitamin hingga kondisi kandang menjadi hal yang harus diperhatikan.
Menurut dia, ayam petelur juga membutuhkan lingkungan yang nyaman agar tidak mengalami stres. Sebab, ketika ayam stres, produksi telur bisa ikut menurun.
"Yang penting perawatannya harus bagus. Penempatan kandang jangan langsung terkena sinar matahari. Ayam juga jangan sampai stres karena itu bisa menurunkan produktivitas," katanya.
Kebersihan kandang pun menjadi perhatian. Firman menggunakan kulit gabah padi sebagai lapisan di bawah kandang untuk membantu menjaga kondisi kotoran tetap kering sehingga tidak menimbulkan bau menyengat.
Cara tersebut sekaligus menjadi solusi agar aktivitas beternak di halaman rumah tidak mengganggu lingkungan sekitar.
Ia juga menghindari ayam kampung masuk ke area kandang dan bercampur dengan ayam petelur. Menurutnya, hal itu penting untuk mencegah potensi penularan penyakit.
"Supaya tidak tertular penyakit, jangan sampai ada ayam kampung yang masuk dan ikut makan. Biasanya itu bisa membawa atau menularkan penyakit," tuturnya.
Bagi Firman, beternak ayam petelur bukan hanya soal memberi makan dan mengambil telur setiap hari. Ada pula siklus produksi yang harus dipahami peternak.
Dia menyebut ayam petelur umumnya masih produktif sekitar dua tahun. Setelah produktivitasnya menurun, ayam tersebut kemudian diganti dengan ayam baru.
Sementara ayam yang sudah tidak produktif biasanya masih memiliki nilai ekonomi karena dapat dijual sebagai ayam potong.
Siklus tersebut menjadi bagian dari perhitungan usaha yang harus diperhatikan jika ingin mengembangkan peternakan ayam petelur dalam skala lebih besar.
Bagi Firman, pengalaman selama dua tahun memelihara 24 ekor ayam menunjukkan bahwa usaha tidak selalu harus dimulai dengan modal besar.
halaman rumah yang selama ini hanya menjadi ruang kosong ternyata bisa memberikan tambahan penghasilan.
Produksinya memang belum seberapa. Tetapi dari kandang sederhana di belakang rumah itu, telur mengalir ke dapur tetangga sekaligus membantu memenuhi kebutuhan keluarganya.
Dari 24 ekor ayam, Firman membuktikan satu hal sederhana, lahan sempit bukan berarti peluang usaha juga ikut sempit.
Editor : Doni Ramdhani

