DBD di Kota Bandung Turun, Dinkes Minta Masyarakat Jangan Lengah
Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Bandung, tercatat mengalami penurunan sepanjang 2025. Namun Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung mengingatkan masyarakat agar tidak lengah, mengingat DBD memiliki pola siklus yang berpotensi kembali meningkat.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Bandung, tercatat mengalami penurunan sepanjang 2025. Namun Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung mengingatkan masyarakat agar tidak lengah, mengingat DBD memiliki pola siklus yang berpotensi kembali meningkat.
Plt Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Bandung Dadan Mulyana Kosasih mengatakan, berdasarkan data statistik tren kasus DBD di Kota Bandung cenderung mengalami penurunan setiap empat tahun sekali.
“Untuk DBD ini dari statistik, setiap empat tahunan memang ada penurunan. Sampai 2025, kasus di Kota Bandung berada di angka 3.000-an sepanjang tahun, dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 7.000-an kasus,” kata Dadan Mulyana Kosasih, Sabtu 10 Januari 2026.
Meski terjadi penurunan, ia menegaskan kondisi tersebut justru harus diantisipasi dengan kesiapsiagaan lebih tinggi. Menurutnya, berdasarkan pola statistik sebelumnya. Penurunan kasus DBD kerap diikuti dengan potensi kenaikan pada periode berikutnya.
“Berdasarkan statistik sebelumnya, begitu ada penurunan, kita harus siap-siap ada kenaikan lagi,” ucapnya.
Dadan menjelaskan, saat ini pihaknya belum memiliki data pasti jumlah kasus DBD di awal Januari karena tahun baru masih berjalan. Namun, ia menyebutkan bahwa di sejumlah wilayah mulai muncul indikasi adanya kasus DBD.
“Sekarang kan Januari baru mulai, jadi kita belum mendapat angka pastinya sudah berapa dalam seminggu ini. Tapi di beberapa daerah sudah mulai ada indikasi DBD,” ujar dia.
Menghadapi kondisi tersebut, ia menekankan langkah paling penting adalah pencegahan agar lonjakan kasus tidak terjadi secara signifikan. Ia meminta masyarakat tetap waspada, meskipun angka kasus secara umum menunjukkan tren penurunan.
“Walaupun kita menduga kasus DBD akan meningkat, jangan sampai peningkatannya terlalu tinggi. Yang paling penting adalah pencegahan,” ucapnya.
Dadan menekankan, pentingnya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara rutin dengan menerapkan 3M yaitu menguras dan menyikat tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air dan mendaur ulang dan memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk.
“PSN itu idealnya dilakukan satu minggu sekali. Ini langkah paling efektif untuk memutus siklus perkembangbiakan nyamuk,” ujar dia.
Selain itu, ia juga mengimbau masyarakat untuk menjaga kondisi kesehatan tubuh agar daya tahan tetap optimal.
“Kalau virus masuk ke badan dan kondisi kita kurang fit, maka gejalanya akan muncul. Jadi jaga kesehatan, istirahat cukup dan makan makanan sehat untuk mendukung daya tahan tubuh,” tambahnya.
Menurut Dadan, upaya pencegahan DBD tidak akan maksimal jika hanya dilakukan secara individu. Ia menekankan, PSN harus menjadi gerakan bersama yang dilakukan secara serentak di lingkungan masing-masing.
“PSN kalau dilakukan perorangan akan sulit. Jadi memang harus dilakukan oleh masyarakat secara bersama-sama dan serentak di wilayah masing-masing,” tandas dia.
Editor : Doni Ramdhani

