DBD Tembus 42 Ribu Kasus, Dinkes Jabar Ingatkan Soal Gerakan 3M Plus

DBD yang disebabkan nyamuk Aedes Aegypti, telah tembus 42 ribu kasus sepanjang Januari-Agustus 2024.

DBD Tembus 42 Ribu Kasus, Dinkes Jabar Ingatkan Soal Gerakan 3M Plus
DBD yang disebabkan nyamuk Aedes Aegypti, telah tembus 42 ribu kasus sepanjang Januari-Agustus 2024.
INILAHKORAN, Bandung - Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang disebabkan nyamuk Aedes Aegypti, telah tembus 42 ribu kasus sepanjang Januari-Agustus 2024.
Dimana hingga kini, total korban meninggal dunia akibat DBD di Jawa Barat sudah mencapai 268 jiwa.
Menyikapi situasi ini, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jabar Vini Adiani Dewi kembali mengingatkan masyarakat akan pentingnya membiasakan gerakan 3M Plus.
Dimana rerata korban paling banyak terkena penyakit DBD kata Vini, adalah anak usia sekolah.
"Tertinggi usia 4-15 tahun. Baru 15-44 tahun. Jadi memang pada anak sekolah," kata Vini di Kota Bandung baru-baru ini.
Maka dari itu lanjut Vini, keterlibatan masyarakat sangat penting dalam menekan angka kasus DBD. Selain menjaga lingkungan dengan gerakan 3M plus, vaksinasi bila memungkinkan juga perlu dilakukan.
"Sekali lagi, bahwa DBD tidak selesai tanpa peran masyarakat, termasuk ini (vaksin). Walaupun ini belum menjadi program nasional, tapi untuk masyarakat berkemampuan lebih baik melakukan vaksinasi," ucapnya.
Pemprov Jabar sambung dia, juga terus melakukan sosialisasi dan gerakan bersama dalam memerangi DBD. Mengingat penyakit ini diakuiny selalu terjadi tiap tahun, karena iklim.
"Maka kita tidak bisa menyerah, salah satunya adalah kembali kepada gerakan 3M Plus," imbuhnya.
Meningkatkan literasi masyarakat tentang DBD melalui Geber Si Jumo atau Gerakan Bersama Stunting, Imunisasi, Juru Pemantau Jentik dan Pengawas Menelan Obat terus digalakkan.
Sebab stunting, DBD dan TBC yang masuk dalam Geber Si JUMO ini diakuinya tidak dapat diselesaikan sendiri oleh pemerintah. Namun juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat.
"Untuk itu diperlukan bagaimana masyarakat secara aktif, kalau mau aktif harus tau dulu ilmunya. Makanya SI JUMO ini diharapkan tahun ini bisa disosialisasikan," imbuhnya.
Selain itu, pemerintah terang Vini juga melakukan beberapa langkah seperti menyiapkan logistik berupa NS1 atau alat rapid test, mengakselerasi diagnosa, fogging hingga distribusi bubuk abate.
Harapannya, kasus DBD di Jabar dapat ditekan dan tidak terus tinggi setiap tahunnya.***


Editor : Bsafaat