Dedi Mulyadi Targetkan 2026, Seluruh Warga Jabar Teraliri Listrik dan Terkoneksi Internet

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menargetkan pada 2026, seluruh wilayah dan rumah tangga di Jabar sudah teraliri listrik dan terkoneksi jaringan internet.

Dedi Mulyadi Targetkan 2026, Seluruh Warga Jabar Teraliri Listrik dan Terkoneksi Internet

INILAHKORAN, Bandung — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menargetkan pada 2026, seluruh wilayah dan rumah tangga di jabar sudah teraliri listrik dan terkoneksi jaringan internet.

Dedi mengatakan, saat ini hampir seluruh daerah di Jawa Barat sudah terpasang jaringan listrik, kecuali sebagian kecil rumah di wilayah terpencil dan kawasan hutan.

“Oke tinggal sebutin aja yang belum terkoneksi internet daerah mana saja. Pasti kita intervensi dan kemudian kita lakukan percepatan. Kalau listrik sih sudah terkoneksi semua. Yang tidak memiliki listrik itu rumah per rumah dan beberapa daerah di tengah hutan. Dan kita sudah akalin dengan listrik tenaga surya,” ujar Dedi di Gedung Sate, Kota Bandung, Senin 20 Oktober 2025.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur listrik tenaga surya menjadi solusi efektif di daerah yang sulit dijangkau jaringan PLN tanpa harus merusak lingkungan.
“Kalau bangun jaringan listrik PLN kan harus nebang pohon. Kan itu berbayar,” tambahnya.

Dedi menjelaskan, target penyelesaian sambungan listrik semula direncanakan rampung pada tahun ini. Namun jumlah rumah tangga tanpa listrik ternyata meningkat dari laporan awal.

“Tadinya mau tahun ini. Tahun ini listrik selesai. Karena dulu pelaporan dari Dinas SDM itu kekurangannya 150 ribu satuan sambungan. Ternyata 450 ribu sekarang nambah lagi. Jadi ya harus tahun depan,” kata Dedi.

Meski begitu, ia optimistis pada tahun 2026 seluruh warga Jawa Barat sudah menikmati akses listrik dan internet.
“Tahun depan clear, Jawa Barat seluruh warganya terkoneksi listrik. Dan saya targetkan juga tahun depan terkoneksi internet. Ini yang menjadi target kita,” tegasnya.

Dedi menekankan, belanja pembangunan harus difokuskan untuk kepentingan masyarakat, bukan sekadar proyek serapan anggaran.

“Belanja pembangunannya harus kuat untuk kepentingan masyarakat. Tidak ada artinya penyerapan anggaran kalau hanya untuk belanja barang dan jasa, karena itu tidak punya impact besar bagi rakyat,” tandasnya. (Yuliantono)


Editor : Ahmad Sayuti