Demi UNBK, Belasan Peserta Menginap di SMPN 1 Pasirjambu
Karena jauh, belasan peserta Ujian Nasional Berbasis Komputer di SMPN Pasirjambu Kabupaten Bandung harus menginap di sekolah.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung- Karena jauh, belasan peserta Ujian Nasional Berbasis Komputer di SMPN Pasirjambu Kabupaten Bandung harus menginap di sekolah.
Kepala Sekolah SMPN 1 Pasirjambu Achmad Fadilah mengatakan, di sekolahnya jumlah peserta UNBK sebanyak 470 siswa. Dari jumlah tersebut 76 orang diantaranya berasal dari empat SMP terbuka, yakni dari Dewata, Paranggong, Culamega dan Patuha.
Jarak SMP Terbuka ke SMPN 1 Pasirjambu yang menjadi induknya ini memang jauh. Ada yang mencapai 40 KM. Sehingga, agar para peserta UNBK dari SMP Terbuka itu tidak terlambat, maka pihak SMPN 1 Pasirjambu menyediakan penginapan.
"Sengaja kami sediakan tempat menginap, mereka disini menginap hari Minggu (21/4) hingga selesai UNBK pada Kamis (24/4). Mereka didampingi guru pamong (pendamping) nya," kata Achmad, Senin (22/2019).
Selain disediakan penginapan, kata Achmad, para peserta UNBK dari SMP Terbuka ini juga mendapatkan kesempatan untuk mengikuti gladi resik. Dengan tujuan saat pelaksanaan UNBK mereka tidak gagap teknologi (gaptek). Karena harus diakui, para peserta UNBK dari SMP Terbuka ini, kemampuan pengoperasian komputer masih rendah.
"Jangankan yang dari SMP Terbuka, yang dari sini saja harus diakui masih rendah kempuan komputernya. Untungnya kami sebelumnya melakukan gladi dan juga latihan semacam try out. Jadi saat pelaksanaan Alhamdulilah lancar. Target kami sih semuanya lancar" ujarnya.
Achmad melanjutkan, di sekolahnya itu menyediakan sebanyak 158 unit komputer dengan empat server yang ditempatkan di lima kelas. Pelaksanaan UNBK, dilakukan sebanyak tiga sesi. Kata dia, karena pihak sekolah belum memiliki komputer sendiri, pihaknya menyewa dari pihak ketiga. Dengan biaya sewa sekitar Rp 60 hingga Rp 70 juta.
"Biaya tersebut sekitar 60 persennya dari dana BOS. Nah sisanya sumbangan seikhlasnya dari para alumni dan orang tua siswa. Jadi tidak benar kami melakukan pungutan kepada semua siswa yang akan UNBK," ujarnya.
Achmad menjelaskan, permohonan sumbangan ini juga telah melalui musyawarah antara para orang tua siswa dan komite sekolah. Termasuk soal besaran sumbangan yang tak dipatok pihak sekolah.
Hal ini bisa dibuktikan dengan hasil notulensi rapat dan rekaman video. Achmad mengklaim semuanya dilakukan atas dasar keikhlasan para orang tua siswa.
"Nah dalam formulir sumbangan pun nilainya tidak ditetapkan. Tapi diisi dengan titik titik, nah mereka sendiri yang mengisinya. Soal katanya siswa yang belum bayar tiap hari ditagih, yah itu karena mereka sudah janji," katanya.
Achmad juga membantah jika semua siswa yang akan melaksanakan UNBK dimintai uang sebesar Rp 250 ribu plus Rp 100 ribu untuk biaya perpisahan. Karena bersifat sumbangan, tidak semua membayar. Apalagi di sekolah tersebut sekitar 40 persen siswanya adalah penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP).
"Ini inforamasi yang harus diluruskan, mereka tidak semuanya menyumbang. Apalagi disini banyak siswa dari kelangan bawah, enggak mungkin kami membebanj dengan pungutan," katanya.
Salah seorang peserta UNBK dari SMP Terbuka TKB Patuha, Muhammad Nuruhmatuk Mubin mengaku sejak jauh-jauh hari menginap di sekolah.
"Rencananya empat hari selama UNBK. Kami menginap karena dari rumah ke SMPN 1 Pasirjambu lumayan jauh,"katanya.
Nuruhmatul melanjutkan, untuk bisa mengikuti UNBK, dia bersama teman-temannya harus mengeluarkan biaya ekstra, baik untuk makan maupun untuk biaya lainnya.
"Bayar ke guru Rp950.000, untuk biaya hidup, ujian dan simulasi UNBK," ujarnya. (Rd Dani R Nugraha).
Editor : Bsafaat

