Desa Cibulan, Grand Desain Sentra Penghasil Olahan Kedelai
Puluhan tahun lalu, nama Desa Cibulan Kecamatan Cidahu Kabupaten Kuningan seolah tenggelam dari hiruk pikuk kehidupan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Cirebon - Puluhan tahun lalu, nama Desa Cibulan Kecamatan Cidahu Kabupaten Kuningan seolah tenggelam dari hiruk pikuk kehidupan.
Masyarakat Kabupaten Kuningan hanya tahu, bahwa desa Cibulan adalah objek pengusaha galian C yang selama kurang lebih 15 tahun, terus mengeruk kekayaan pasir dan tanah yang ada di desa tersebut.
Ratusan hektare lahan milik warga desa akhirnya jatuh ke tangan pengusaha pasir. Lahan tersebut dilepas dengan harga yang cukup murah.
Kenyang setelah mengeruk kekayaan tanah, pengusaha meninggalkannya begitu saja tanpa ada reklamasi. Kandungan pasir dan tanah, sudah habis mereka ambil dengan omzet puluhan milliar. Belasan tahun pula, tanah tersebut terbengkalai karena memang sudah di vonis menjadi lahan tandus tanpa bisa ditanami apapun.
Namun, dua tahun belakangan ini nama Desa Cibulan menjadi perbincangan pejabat mulai tingkat pusat maupun daerah. Desa yang tidak diperhitungkan Pemkab Kuningan ini, tiba tiba meraih penghargaan sebagai desa terbaik se Jawa Barat, bahkan menjadi juara harapan II tingkat nasional.
Ternyata, prestasi tersebut karena desa Cibulan berhasil menyulap ratusan hektare lahan bekas galian C menjadi penghasil kedelai. Saat ini, ada sekitar 125 petani kedelai di desa tersebut.
"Awalnya saya tidak kefikiran bahwa ide menanam kedelai dilahan bekas galian akan membawa desa kami juara. Ini hanya inovasi saja, bagaimana memanfaatkan lahan tandus supaya bisa menghasilkan," kata Kepala Desa (Kades) Cibulan, Iwan Gunawan kepada Inilah koran, Sabtu (1/2/2020).
Pria lulusan Unpad Bandung ini menjelaskan, setelah dilantik menjadi Kades pada awal Bulan Oktober 2017, yang ada dalam benaknya adalah, bagaimana agar lahan bekas galian C, bisa bermanfaat. Ide menanam kedelai bukanlah ide sembarangan karena merupakan hasil kajian dengan beberapa ahli. Sementara akunya, Dinas Pertanian Kabupaten Kuningan optimis, kedelai bisa tumbuh pada lahan tandus tersebut.
"Unsur hara hanya tiga, sementara idealnya harus enam. Tapi dinas pertanian menyarankan memakai dolmit sejenis kapur pertanian. Hasilnya, kedelai sekarang sudah tumbuh subur," ungkap Iwan.
Namun lanjutnya, hal yang paling mendasar sebetulnya karena dia punya grand desain, desa Cibulan harus menjadi sentra tanaman dan olahan kedelai terbaik, minimal di Kabupaten Kuningan. Hal itu mengacu kepada isu strategis nasional yang menyebutkan, negara hanya bisa mengimpor kedelai.
"Indonesia 99 persen sebagai negara pengimpor kedelai. Kabupaten Kuningan sendiri butuh kedelai dalam sebulan sekitar 600 ton. Inilah yang menjadi tantangan saya. Ditambah, kondisi lahan bekas galian yang tidak memungkinkan dijadikan sawah," papar Iwan.
Dengan lahan bekas galian seluas 514 hektare, Iwan mengaku mulai membuka lahan baru seluas 50 hektar pada tahun 2018. Lalu pada awal tahun dan akhir tahun 2019, kembali dibuka dengan luas 75 dan 25 hektare. Total saat ini, desa sudah memiliki 100 hektare lahan pertanian kedelai. Sedangkan tahun ini, ditargetkan membuka lahan seluas 200 hektare.
"Milik pengusaha totalnya 300 hektare. Ada yang sudah kita pakai. Sudah koordinasi dan mereka mengizinkan tanpa meminta imbalan apapun. Kita sudah panen sebanyak 3 kali. Panen pertama per satu hektar menghasilkan 1,2 ton. Sedangkan panen ke dua dan ke tiga meningkat menjadi 1,4 ton per hektare nya. Kami jual Rp6 ribu per kilonya, dan lebih mahal harganya dengan kedelai impor," jelasnya.
Lalu, dari mana anggaran untuk membuka lahan, Iwan mengatakan diambil dari dana desa. Petani yang menggarap diatur oleh kelompok tani, yang jumlahnya ada empat kelompok. Sedangkan hasil panennya, dijual langsung kepada pihak desa. Petani hanya tinggal menggarap saja, karena untuk bibit dan pupuk, gratis diberikan pihak desa.
"Semua kedelai dari petani kami beli. Nanti kita jual lagi ke koperasi yang ada di Kuningan. Kedelai disini varietas unggul jenis anjosmoro. Kami juga membuat dodol, bronis, tahu dan tempe yang semuanya dari bahan kedelai," terangnya.
Iwan menambahkan, saat ini pihaknya tengah menjajaki kerjasama dengan pihak Korea. Hal itu tidak lepas dari peran serta Dr. Suyono dari Univ. Jember yang mengembangkan kedelai edamame di negeri Sakura. Suyono kata Iwan salah satu mentor pengembangan tanaman dan olahan kedelai Desa Cibulan.
"Semoga grand desain desa kami bisa berjalan sesuai rencana. Minimal bisa membantu perekonomian warga desa," tukasnya. (maman suharman)
Editor : Bsafaat

