Deteksi Dini TBC dan PTM, Dinkes Kota Bandung Lakukan Skrining 6.000 Warga
Dinkes Kota Bandung merilis angka penemuan kasus TBC masih 71%. Guna deteksi dini, Dinkes Kota Bandung melakukan skrining 6.000 warga.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Dinkes Kota Bandung merilis angka penemuan kasus TBC masih 71%. Guna deteksi dini, Dinkes Kota Bandung melakukan skrining terhadap 6.000 warga.
"Target skrining itu tersebar di 60 kelurahan se-Kota Bandung. Meskipun masih menghadapi pandemi Covid-19, kita tidak boleh abai ancaman penyakit lain seperti TBC, HIV, dan PTM (Penyakit Tidak Menular) lainnya," kata Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2PM) Dinkes Kota Bandung Ira Dwi Jani, Jumat 26 November 2021.
Menurutnya, penanggulangan TBC dan pengendalian faktor risiko PTM merupakan layanan esensial yang wajib dilaksanakan meskipun dalam kondisi pandemi Covid-19. Tujuan skrining Dinkes Kota Bandung itu untuk melakukan deteksi dini penyakit yang ada di masyarakat dan memutuskan rantai penularannya.
Baca Juga: Jalan Berliku Menuju Indonesia Bebas TBC 2030
Untuk itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung bekerja sama dengan The Global Fund, Kementerian Kesehatan, dan Dinkes Jabar mengadakan kegiatan Kolabosari Penemuan Kasus TBC Secara Aktif dan Pemeriksaan Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular di Gedung RW 02 Maleber, Kota Bandung pada 23-30 November 2021.
Dia menuturkan, sejauh ini TBC masih menjadi permasalahan kesehatan di Indonesia. Di dunia, Indonesia menempati urutan ke-2 setelah India dengan beban TBC terbanyak.
Indonesia termasuk salah satu dari 30 negara dengan triple burden desease yaitu TBC, TBC Resisten Obat, dan TBC-HIV. Permasalahan utama dalam penanggulangan TBC adalah penemuan kasus yang masih rendah (angka Indonesia baru 69%), angka kematian karena TBC cukup tinggi yaitu 13 orang per jam serta kasus TBC yang belum ditemukan.
Baca Juga: TBC Mengganas di Lapas Jelekong Bandung
Di Indonesia, angka kematian PTM meningkat setiap tahunnya. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan prevalensi penyakit stroke 10,9 per 1.000, penyakit jantung koroner 1,5%, diabetes mellitus 1,5%, hipertensi 34,1%, dan asma 2,4%.
Ira menyebutkan, tingginya kejadian penyakit tidak menular itu disebabkan perilaku masyarakat yang cenderung tidak sehat atau faktor risiko penyakit tidak menular.
Hasil skrining di Kota Bandung pada 2020 menunjukkan perilaku dengan faktor risiko seperti seperti merokok 26,49%, kurang aktivitas fisik 40,71%, kurang konsumsi sayur dan buah 50,07%, konsumsi minuman beralkohol 6,55%, tekanan darah >140/90 mmHg 16%, indeks massa tubuh >25 28,35%, lingkar perut berlebih 37,32%, gula darah >200 mg/dL 10,16%, dan kolesterol total ≥190 mg/dL 31,03%.
"Capaian pemeriksaan faktor risiko PTM masih jauh dari target. Sampai dengan September 2021, baru mencapai 12,78%," ujar Ira. (*)
Editor : inilahkoran

