Dewi Sartika Menjadi Simbol Emansipasi Wanita Jabar

Peringatan hari ulang tahun Dewi Sartika menjadi simbol emansipasi wanita di Jawa Barat. Sebagai pahlawan nasional, Raden Dewi Sartika sudah banyak berjasa dalam bidang pendidikan, khususnya pendidikan bagi kaum perempuan.

Dewi Sartika Menjadi Simbol Emansipasi Wanita Jabar
istimewa

INILAH, Bandung - Peringatan hari ulang tahun Dewi Sartika menjadi simbol emansipasi wanita di Jawa Barat. Sebagai pahlawan nasional, Raden Dewi Sartika sudah banyak berjasa dalam bidang pendidikan, khususnya pendidikan bagi kaum perempuan.

Salah satunya adalah Sekolah Kautamaan Istri yang didirikan Rd Dewi Sartika. Dewi Sartika amat gigih dalam memperjuangkan nasib dan harkat kaum perempuan. Pada 16 Januari 1904, dia mendirikan sekolah istri atau sekolah untuk perempuan di Bandung.

Pada tahun 1910, sekolah istri berganti nama menjadi sakola kautamaan istri. Sekolah Istri tersebut terus mendapat perhatian positif dari masyarakat. Murid- murid bertambah banyak, bahkan ruangan Kepatihan Bandung yang dipinjam sebelumnya juga tidak cukup lagi menampung murid-murid.

Untuk mengatasinya, Sekolah Istri pun kemudian dipindahkan ke tempat yang lebih luas. Seiring perjalanan waktu, enam tahun sejak didirikan, pada tahun 1910, nama Sekolah Istri sedikit diperbarui menjadi Sekolah Keutamaan Istri. Perubahan bukan cuma pada nama saja, tapi mata pelajaran juga bertambah.

Untuk menghargai jasanya tersebut, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat (Jabar) menggelar Peringatan Hari Ulang Tahun Dewi Sartika di Monumen Perjuangan Rakyat Jabar.

"Kita ingin mengenalkan sejarah bangsa kepada generasi milenial ataupun masyarakat umum. Dengan mengenal sejarah bangsa kita, kita akan memahami perjuangan pahlawan. Tak terkecuali sejarah tentang Dewi Sartika," ucap Kepala Unit Pelayanan Tugas Dinas (UPTD) Pengelolaan Kebudayaan Daerah Disparbud Jabar Erik Herdiana, Jumat (20/12/2019).

Erik menuturkan, tujuan dari acara ini untuk  menggelorakan semangat pahlawan kepada generasi muda saat ini. Beliau adalah salah satu tokoh pendidikan pada masanya. Tak hanya memberikan ide atau gagasan, beliau juga mengimplementasikan secara nyata dengan mengajar di sekolah yang beliau dirikan.

"Beberapa rangkaian kegiatan dalam peringatan tersebut, antara lain pameran bentang sejarah peninggalan Raden Dewi Sartika, seminar bertajuk "Dewi Sartika Kekinian", pemutaran film pendek seputar Raden Dewi Sartika, dan penampilan monolog dari Sanggar Seni Manikam Khatulistiwa," imbuh Erik.

Salah seorang siswa, Witri Irmawati mengaku sangat terkesan dengan pengorbanan dan perjuangan Raden Dewi Sartika dalam memperjuangkan hak pendidikan bagi kaum perempuan. Salah satu hal sederhana yang akan ia lakukan untuk meneruskan semangat Rd. Dewi Sartika adalah belajar dengan tekun. 

"Selain itu, sebagai perempuan kita juga harus mempunyai keahlian lain, seperti menjahit atau yang lainnya. Pokoknya, harus selalu memiliki tekad yang kuat," ujar siswi SMKN 10 Bandung tersebut.

Dalam acara tersebut, hadir puluhan peserta dari berbagai kalangan. Mulai dari perwakilan Dinas Pendidikan (Disdik) Jabar, Dinas Sejarah TNI AD, kepala museum di Kota Bandung, pengurus Yayasan Dewi Sartika, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah di Kota Bandung serta siswa sekolah menengah atas (SMA). (Okky Adiana)


Editor : Doni Ramdhani