Diet Anti Inflamasi Benarkah Efektif? Ini Penjelasan Ahli dan Makanan yang Dianjurkan
Diet anti inflamasi diklaim mampu mengurangi peradangan dan mencegah penyakit kronis. Simak manfaat, makanan yang dianjurkan, dan penjelasan ahli.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-diet anti inflamasi semakin populer di media sosial karena diklaim mampu mengurangi peradangan dalam tubuh sekaligus menurunkan risiko berbagai penyakit kronis. Namun, para ahli menegaskan bahwa pola makan ini bukanlah metode pengobatan, melainkan bagian dari gaya hidup sehat yang dapat mendukung kesehatan secara keseluruhan.
Peradangan atau inflamasi merupakan respons alami sistem imun saat tubuh menghadapi infeksi, cedera, atau paparan zat berbahaya. Dalam kondisi normal, proses ini membantu memperbaiki jaringan yang rusak. Namun, jika berlangsung terus-menerus atau menjadi kronis, inflamasi dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit serius.
inflamasi kronis Berkaitan dengan Penyakit Berbahaya
inflamasi kronis diketahui berhubungan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung, diabetes tipe 2, beberapa jenis kanker, hingga penyakit neurodegeneratif.
Kondisi tersebut sering dipicu oleh gaya hidup yang kurang sehat, seperti merokok, kurang aktivitas fisik, makan berlebihan, konsumsi makanan ultra-proses, hingga kebiasaan mengonsumsi alkohol secara berlebihan.
Apa Itu diet anti inflamasi?
Dilansir dari BBC, diet anti inflamasi bukanlah diet ketat yang melarang kelompok makanan tertentu. Pola makan ini lebih menekankan konsumsi makanan utuh yang kaya serat, vitamin, mineral, antioksidan, dan lemak sehat.
Beberapa makanan yang dianjurkan antara lain:
1. sayuran hijau
2. Tomat
3. Buah-buahan segar
4. Kacang-kacangan
5. Ikan berlemak seperti salmon dan sarden
6. minyak zaitun
Sementara itu, makanan yang sebaiknya dibatasi meliputi:
1. Makanan yang digoreng
2. Minuman manis
3. Daging olahan
4. Karbohidrat olahan
5. Makanan ultra-proses
6. Menjaga kesehatan Usus Juga Penting
Ahli gizi Sophie Medlin menjelaskan bahwa pola makan berbasis tumbuhan membantu menjaga keseimbangan mikrobiota usus.
Bakteri baik di dalam usus menghasilkan senyawa yang berperan dalam mengendalikan proses peradangan sehingga kesehatan saluran pencernaan turut memengaruhi kondisi tubuh secara menyeluruh.
diet Mediterania Dinilai Paling Mendekati
Salah satu pola makan yang paling mendekati konsep diet anti inflamasi adalah diet Mediterania.
Pola makan ini menekankan konsumsi buah, sayuran, biji-bijian utuh, ikan, kacang-kacangan, dan minyak zaitun. Berbagai penelitian menunjukkan diet Mediterania berkaitan dengan penurunan penanda inflamasi sekaligus menurunkan risiko penyakit kronis.
Selain itu, pola makan tersebut juga membantu menjaga berat badan tetap ideal. Hal ini penting karena obesitas diketahui memiliki hubungan erat dengan inflamasi kronis.
Tidak Semua Orang Memberikan Respons yang Sama
Meski memiliki banyak manfaat, para ahli mengingatkan bahwa tidak ada satu pola makan yang cocok untuk semua orang.
Penelitian pada tahun 2020 menunjukkan setiap individu memiliki respons metabolisme yang berbeda terhadap makanan yang sama. Karena itu, pola makan perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan, kebutuhan nutrisi, dan gaya hidup masing-masing.
Bagi penderita gangguan pencernaan atau penyakit tertentu, perubahan pola makan sebaiknya dilakukan di bawah pengawasan dokter atau ahli gizi.
pola makan sehat Tetap Menjadi Kunci
Hingga saat ini, bukti ilmiah menunjukkan bahwa diet anti inflamasi dapat mendukung kesehatan tubuh dan membantu mengurangi faktor risiko berbagai penyakit kronis. Namun, pola makan ini bukan terapi untuk menyembuhkan penyakit.
Mengurangi konsumsi makanan ultra-proses, memperbanyak sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, ikan, dan lemak sehat tetap menjadi langkah terbaik untuk menjaga kesehatan sekaligus mengurangi risiko inflamasi kronis dalam jangka panjang.***
Editor : JakaPermana


