Makan Tanpa Lapar? Kenali Pemicu Emotional Eating dan Cara Mengatasinya

Makan tanpa lapar bisa menjadi tanda emotional eating. Kenali pemicu, dampak, dan cara mengatasi kebiasaan makan akibat stres, bosan, atau kurang tidur.

Makan Tanpa Lapar? Kenali Pemicu Emotional Eating dan Cara Mengatasinya
ilustrasi/net

INILAHKORAN.ID-Pernah menghabiskan sebungkus biskuit atau camilan meski sebenarnya tidak merasa lapar? Kebiasaan makan tanpa rasa lapar ternyata bisa dialami siapa saja dan tidak selalu berkaitan dengan rasa sedih atau stres.

Dokter dan ahli diet menjelaskan, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan emotional eating atau makan secara emosional. Kebiasaan ini bisa muncul ketika seseorang merasa bosan, kesepian, kurang tidur, stres, atau sedang mencari rasa nyaman melalui makanan.

Dikutip dari BBC, emotional eating umumnya ditandai dengan keinginan makan yang muncul secara tiba-tiba, mengidam makanan tertentu, makan ketika bosan atau stres, hingga tetap ingin makan meski tubuh sebenarnya sudah kenyang.

Rasa bersalah setelah makan juga dapat muncul. Jika berlangsung berulang, perasaan tersebut justru berpotensi memperkuat siklus makan emosional.

kurang tidur Bisa Memicu Keinginan Makan

Salah satu pemicu yang sering tidak disadari adalah kurang tidur. Waktu tidur yang tidak cukup dapat meningkatkan rasa lapar dan membuat seseorang lebih tertarik mengonsumsi makanan tinggi gula atau karbohidrat.

Ketika tubuh kekurangan energi, makanan yang mampu memberikan energi secara cepat menjadi lebih menarik. Kondisi ini dapat membuat seseorang lebih sulit mengendalikan keinginan untuk ngemil, terutama pada malam hari.

Karena itu, menjaga waktu tidur menjadi salah satu bagian penting dalam mengendalikan pola makan.

Stres dan Bosan Membuat Makanan Terasa Lebih Menarik

Selain kurang tidur, stres dan kebosanan juga dapat mendorong seseorang mencari makanan sebagai bentuk pengalihan perhatian atau sumber kenyamanan.

Makanan yang tinggi gula dan lemak dapat memberikan rasa senang sementara karena memengaruhi sistem penghargaan di otak. Namun, efek tersebut dapat membuat seseorang kembali mencari makanan yang sama ketika menghadapi emosi yang tidak nyaman.

Meski demikian, makan secara emosional sesekali bukan berarti selalu menjadi masalah. Hal yang perlu diperhatikan adalah ketika makanan menjadi satu-satunya cara untuk menghadapi stres, kesepian, kebosanan, atau suasana hati yang buruk.

Coba Berhenti Sejenak Sebelum Mengambil Makanan

Salah satu cara sederhana untuk mengenali emotional eating adalah berhenti sejenak sebelum mengambil makanan.

Tanyakan kepada diri sendiri, “Apakah saya benar-benar lapar, atau sedang merasa bosan, stres, atau kesepian?”

Jika tubuh memang lapar, makan merupakan hal yang wajar. Namun, jika dorongan makan muncul karena emosi, seseorang dapat mencoba aktivitas lain terlebih dahulu.

Beberapa pilihan yang dapat dilakukan antara lain berjalan-jalan, mandi, melakukan olahraga ringan, menelepon teman, melakukan aktivitas yang disukai, atau beristirahat.

Terapkan mindful eating

Kebiasaan makan secara teratur juga dapat membantu menjaga pola makan. Selain itu, tidur setidaknya tujuh jam, mengenali situasi yang memicu keinginan makan, serta menerapkan mindful eating dapat menjadi langkah yang membantu.

mindful eating berarti makan dengan lebih sadar, termasuk memperhatikan rasa lapar, rasa kenyang, rasa makanan, serta kondisi tubuh selama makan.

Dengan cara tersebut, seseorang dapat lebih mudah membedakan kebutuhan makan karena lapar dengan keinginan makan yang muncul akibat emosi.

Jangan Menyalahkan Diri Sendiri

Hal penting lainnya adalah tidak langsung menyalahkan diri sendiri ketika makan karena emosi. Rasa malu dan bersalah justru dapat memperpanjang siklus emotional eating.

Tujuannya bukan menghilangkan kebiasaan tersebut secara sempurna, melainkan membangun lebih banyak cara sehat untuk menghadapi stres, kesepian, kebosanan, dan emosi tidak nyaman selain melalui makanan.

Dengan mengenali pemicu dan memahami sinyal tubuh, kebiasaan makan dapat perlahan menjadi lebih terkontrol dan sehat.***


Editor : JakaPermana