75 Hard Viral di Media Sosial, Ahli Ingatkan Risiko Diet dan Olahraga Ekstrem

Tantangan 75 Hard viral di media sosial. Ahli mengingatkan risiko diet ketat dan olahraga ekstrem serta pentingnya membangun kebugaran secara bertahap.

75 Hard Viral di Media Sosial, Ahli Ingatkan Risiko Diet dan Olahraga Ekstrem
ilustrasi/net

INILAHKORAN.ID-Tantangan diet dan olahraga ekstrem semakin populer di media sosial. Salah satu yang banyak menarik perhatian adalah 75 Hard, program selama 75 hari yang mengharuskan peserta menjalani pola makan tertentu dan berolahraga setiap hari.

Program tersebut menawarkan perubahan fisik sekaligus peningkatan disiplin dalam waktu relatif singkat. Namun, ahli diet olahraga mengingatkan bahwa tantangan seperti 75 Hard tidak selalu cocok untuk semua orang, terutama mereka yang belum terbiasa melakukan aktivitas fisik secara rutin.

Dilansir dari BBC, ahli diet olahraga Renee McGregor mengatakan seseorang perlu memahami alasan mengikuti tantangan kebugaran sebelum memulainya.

Jika tujuan utamanya adalah meningkatkan aktivitas fisik atau mempersiapkan diri menghadapi perlombaan, latihan yang dilakukan secara bertahap dapat memberikan manfaat. Sebaliknya, jika motivasinya hanya mengejar bentuk tubuh tertentu, tantangan ekstrem berpotensi mendorong hubungan yang tidak sehat dengan makanan dan olahraga.

Diet Ketat dan Olahraga Berat Bisa Membebani Tubuh

Salah satu persoalan yang perlu diperhatikan adalah ketika pembatasan makanan dilakukan bersamaan dengan olahraga berat setiap hari.

Tubuh membutuhkan energi bukan hanya untuk berolahraga, tetapi juga untuk menjalankan berbagai fungsi dasar. Ketika asupan energi terlalu rendah sementara aktivitas fisik meningkat secara drastis, tubuh dapat mengalami kesulitan melakukan pemulihan.

Karbohidrat tetap dibutuhkan sebagai sumber energi selama aktivitas fisik. Sementara itu, protein berperan dalam proses pemulihan dan pemeliharaan otot.

Selain kedua zat gizi tersebut, tubuh juga membutuhkan berbagai nutrisi lain seperti zat besi, kalsium, vitamin D, magnesium, serta lemak sehat agar fungsi tubuh tetap berjalan optimal.

olahraga ekstrem Tingkatkan Risiko Cedera

Tantangan olahraga yang dilakukan setiap hari juga perlu disesuaikan dengan kondisi fisik masing-masing individu.

Orang yang sebelumnya jarang berolahraga lalu tiba-tiba menjalani latihan intensif setiap hari belum tentu memiliki kesiapan fisik yang memadai. Tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi terhadap peningkatan beban latihan.

Jika dipaksakan, kondisi tersebut dapat menyebabkan kelelahan berkepanjangan, penurunan performa hingga meningkatkan risiko cedera.

Karena itu, peningkatan intensitas latihan sebaiknya dilakukan secara perlahan. Seseorang yang baru mulai berlari, misalnya, dapat memulainya dengan durasi dan jarak ringan sebelum meningkatkan beban latihan secara bertahap.

kebugaran Tidak Harus Dicapai dalam Waktu Singkat

Popularitas 75 Hard tidak terlepas dari media sosial yang banyak menampilkan perubahan fisik peserta sebelum dan sesudah mengikuti tantangan. Namun, hasil yang terlihat dalam unggahan media sosial belum tentu menggambarkan kondisi kesehatan seseorang secara menyeluruh.

Para ahli lebih menyarankan kebiasaan yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang dibandingkan mengikuti program ekstrem hanya untuk mendapatkan perubahan cepat.

Pola makan seimbang, aktivitas fisik sesuai kemampuan, tidur yang cukup dan waktu pemulihan merupakan bagian penting dalam membangun kebugaran.

Pada akhirnya, tidak semua orang harus mengikuti standar kebugaran yang ditampilkan influencer di media sosial. Kebiasaan sehat yang konsisten jauh lebih penting daripada menyelesaikan satu tantangan ekstrem dalam 75 hari.

Bagi pemula, membangun kebugaran secara bertahap menjadi pilihan yang lebih realistis. Dengan cara tersebut, tubuh memiliki kesempatan untuk beradaptasi sekaligus mengurangi risiko kelelahan dan cedera.***


Editor : JakaPermana