DLH Fokus Produksi RDF sebagai Alternatif Pengganti Batu Bara yang Diminati Industri
Pemkab Karawang sukses memasarkan refuse derived fuel (RDF) yang merupakan bahan bakar alternatif pengganti batu bara yang berasal dari sampah yang diolah.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Pemkab Karawang sukses memasarkan refuse derived fuel (RDF) yang merupakan bahan bakar alternatif pengganti batu bara yang berasal dari sampah yang diolah kembali.
Produksi RDF dilakukan karena tidak membutuhkan teknologi tinggi namun memiliki pasar yang jelas. Selain itu, sampah yang sudah dikelola menjadi RDF bisa mengurangi tumpukan sampah yang dibuang ke tempat pembuangan sampah terpadu (TPST).
Kepala Bidang Kebersihan, Penanganan Sampah dan Limbah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Karawang Willy mengatakan saat ini ada tiga TPST yang memproduksi RDF yaitu TPST Mekarjati, Jayakerta dan Cirejak. Masing-masing memproduksi 20 ton RDF dari sampah yang sudah dikelola.
"Satu hari kami produksi RDF 60 ton RDF dari tiga TPST yang sudah ditunjuk. Ke depan jumlahnya akan kami tambah terus untuk mengurangi sampah di setiap TPST," kata Willy, Senin (13/7/2026).
Menurutnya, ada dua keuntungan Pemkab Karawang jika memproduksi RDF yaitu pertama bisa mengurangi tumpukan sampah dan kedua bisa menjadi bahan bakar pengganti batu bara yang dijual ke industri. Dua keuntungan itu yang membuat Pemkab Karawang gencar produksi RDF.
"Dari segi pasar RDF ini punya nilai jual karena menjadi alternatif pengganti batu bara. Makanya kami akan tingkatkan produksinya sebanyak 600 ton perhari dan sekarang sedang proses ke arah sana," ujarnya.
Willy mengatakan, saat ini DLH Karawang sudah mulai melakukan penjualan RDF ke perusahaan industri. Salah satunya dengan pabrik semen PT. Indocement yang menjadi pembeli pertama. Setiap hari Pemkab Karawang akan memasok 20 ton RDF ke PT Indocement.
"Sekarang dalam proses perjanjian kerja sama (PKS) kemudian setelah itu baru melakukan pengiriman ke PT Indocement," katanya.
Menurut Willy, PT Indocement sangat membutuhkan bahan bakar alternatif pengganti batu bara dalam proses produksinya. Ketika ditawarkan RDF produk hasil dari Karawang dan setelah itu dinyatakan sesuai dengan spesifikasi yang mereka minta.
"Kami sudah mengundang sekitar 27 calon offtaker pengguna batu bara. Salah satunya PT Indocement dan ternyata mereka berminat RDF Karawang dan sekarang sedang proses PKS," jelasnya.
Berdasarkan PKS antara DLH dengan PT Indocemet maka setiap bulan DLH memasok 600 ton RDF atau 20 ton setiap hari. Pasokan RDF ke Indocement dari tiga TPST yang sudah ditunjuk.
"RDF produksi Karawang punya nilai jual Rp350 ribu per ton karena sudah memenuhi spesifikasi grade A sesuai keinginan mereka," tambahnya.
Editor : Doni Ramdhani
