Domba Garut Jadi Magnet Wisata Budaya di Desa BRILiAN Sukalaksana Garut
HUT ke-81 RI di Desa BRILiAN Sukalaksana Garut berlangsung meriah. Domba Garut, pencak silat dan Kabarulem menjadi daya tarik wisata budaya.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Kemeriahan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Desa BRILiAN Sukalaksana, Kabupaten Garut, berlangsung semarak pada Sabtu (22/8/2026).
Ratusan warga antusias mengikuti berbagai perlombaan tradisional 17 Agustus yang digelar PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Regional Office 09 Bandung. Sejumlah lomba seperti balap karung, panjat pinang, dan tarik tambang berhasil menciptakan suasana penuh kegembiraan sekaligus mempererat kebersamaan masyarakat.
Tak hanya perlombaan rakyat, kemeriahan juga diwarnai pertunjukan seni dan budaya khas Desa Wisata Sukalaksana. Pengunjung disuguhi penampilan pencak silat, tradisi Kabarulem, hingga atraksi yang paling dinanti, yakni Seni Ketangkasan Domba Garut.
Domba Garut Jadi Magnet Wisata Budaya
Pertunjukan Seni Ketangkasan Domba Garut tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat. Atraksi tersebut juga memperlihatkan potensi ekonomi dari pengembangan dan pembudidayaan Domba Garut di Desa Sukalaksana.
Domba Garut, khususnya jenis ketangkasan atau kontes, memiliki nilai ekonomi tinggi. Harga jualnya dapat mencapai puluhan juta rupiah per ekor, tergantung pada faktor seperti silsilah, bentuk tanduk, kualitas fisik, dan performa di arena.
Selain memiliki nilai jual tinggi, Domba Garut juga dikenal memiliki pertumbuhan relatif cepat dengan bobot tubuh jantan yang dapat mencapai sekitar 80 hingga 100 kilogram.
Potensi tersebut membuat Domba Garut tidak hanya bernilai sebagai komoditas peternakan, tetapi juga dapat mendukung kebutuhan hewan kurban dan konsumsi daging.
Budidaya Domba Garut juga membuka peluang pengembangan agrowisata. Peternakan dapat dikembangkan menjadi destinasi edukasi yang menawarkan pengalaman melihat proses pemeliharaan, pelatihan perawatan domba hingga latihan seni ketangkasan.
Ekosistem ekonominya pun cukup luas. Selain penjualan ternak, aktivitas peternakan dapat menggerakkan usaha penyedia pakan, pengolahan kotoran menjadi pupuk organik hingga pemanfaatan kulit sebagai bahan kerajinan.
BRI Dorong Pelestarian Budaya Desa Sukalaksana
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya BRI mengangkat potensi wisata budaya Desa Sukalaksana yang telah mendapatkan pembinaan melalui program Desa BRILiAN.
Regional CEO BRI Region 09 Bandung, Dewi Hestiningrum, mengatakan seni ketangkasan Domba Garut, pencak silat dan Kabarulem merupakan bagian penting dari identitas Desa Wisata Sukalaksana.
“Seni Ketangkasan Domba Garut, Pencak Silat, dan Kabarulem adalah identitas serta magnet utama Desa Wisata Sukalaksana. Melalui kegiatan Semarak Merah Putih ini, BRI ingin menjaga kelestarian tradisi leluhur sekaligus mempromosikan potensi pariwisata daerah ke tingkat yang lebih luas,” ujar Dewi.
Menurutnya, pelestarian budaya lokal dapat berjalan beriringan dengan pengembangan ekonomi masyarakat. Ketika tradisi dan kesenian lokal dikemas sebagai daya tarik wisata, masyarakat memiliki peluang memperoleh manfaat ekonomi dari meningkatnya kunjungan wisatawan.
Pemerintah Desa Apresiasi Kolaborasi BRI
Kepala Desa Sukalaksana, Drs. Oban Sobana, menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, perhatian terhadap kesenian dan tradisi lokal turut memperkuat karakter Desa Sukalaksana sebagai desa wisata.
“Kami sangat bangga dan berterima kasih atas kepedulian BRI terhadap kebudayaan lokal kami. Pertunjukan Domba Garut, Kabarulem, dan Pencak Silat bukan hanya hiburan, tapi kebanggaan warga Sukalaksana,” kata Oban.
Ia menilai kegiatan tersebut membuat kekayaan budaya Desa Sukalaksana semakin dikenal masyarakat luas sekaligus meningkatkan semangat warga dalam merayakan HUT Kemerdekaan RI.
Perpaduan perlombaan tradisional dan pertunjukan kesenian lokal akhirnya menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkumpul dan memperkuat tali silaturahmi.
Kegiatan tersebut sekaligus mempertegas posisi Desa Wisata Sukalaksana sebagai salah satu destinasi berbasis budaya di Jawa Barat, dengan potensi yang tidak hanya mengandalkan keindahan alam tetapi juga tradisi, kesenian dan ekonomi masyarakat lokal.***
Editor : JakaPermana

