Dorong Genteng Plered Masuk Program Gentengisasi, Ini Target Dedi Mulyadi
Genteng Plered Kabupaten Purwakarta masuk dalam program gentengisasi dengan target mencapai 600 truk di Mei 2026
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memperluas cakupan program gentengisasi, dengan mengusulkan keterlibatan sentra produksi baru.
Dalam pertemuan bersama Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait di Jakarta, Dedi mendorong agar genteng asal Plered, Kabupaten Purwakarta, ikut masuk dalam rantai pasok nasional.
Selama ini, program tersebut diketahui banyak menyerap produksi genteng dari Jatiwangi, Kabupaten Majalengka. Namun, Dedi menilai potensi daerah lain di Jawa Barat tidak boleh diabaikan.
"Hari ini saya di Jakarta ketemu Pak Menteri, ngurusin genteng. Itu bukan hanya dari Majalengka, tapi juga ada genteng dari Purwakarta, yaitu genteng Plered," ujar Dedi dikutip dari akun media sosialnya, Rabu 24 Maret 2026.
Menurutnya, pelibatan lebih banyak sentra produksi akan berdampak langsung pada pemerataan ekonomi, khususnya bagi para perajin genteng lokal di berbagai daerah di Jawa Barat.
Sisi lain, Maruarar memastikan distribusi genteng dari Jawa Barat sejauh ini berjalan optimal. Ia menilai kualitas produk memenuhi standar dan harga yang ditawarkan tetap kompetitif.
"Kemarin hasilnya bagus, kualitasnya baik, harganya masuk. Awalnya ada 14 truk, nanti bulan ini disiapkan jadi 600 truk," ungkapnya.
Peningkatan distribusi tersebut ditargetkan mulai terealisasi pada Mei 2026. "600 truk di bulan Mei," ucapnya.
Saat ini, pemerintah tengah mematangkan kesiapan produksi hingga pengiriman agar mampu memenuhi kebutuhan program perumahan nasional yang terus meningkat.
Program gentengisasi sendiri merupakan bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kualitas hunian masyarakat sekaligus menggerakkan industri lokal.
Kebijakan ini juga sejalan dengan gagasan Presiden Prabowo Subianto, yang mendorong penggantian atap rumah berbahan seng dan asbes dengan genteng.
Sebelumnya, Dedi juga menyambut positif arah kebijakan tersebut. Ia menilai penggunaan genteng bukan hanya soal fungsi, tetapi juga berkaitan dengan estetika dan kenyamanan lingkungan permukiman.
"Jawa Barat itu dari dulu sudah mengkritisi rumah yang pakai asbes dan seng, karena secara tampilan tidak sesuai dengan prinsip estetika," katanya.
Editor : Ahmad Sayuti

