Duh, Problem Sampah di Pasar Sayati Tak Kunjung Tuntas

 Masalah sampah di Pasar Sayati Indah di Desa Sayati Kecamatan Margahayu Kabupaten Bandung tak kunjung beres. 

Duh, Problem Sampah di Pasar Sayati Tak Kunjung Tuntas
Masalah sampah di Pasar Sayati Indah di Desa Sayati Kecamatan Margahayu masih menggunung
INILAH,Bandung- Masalah sampah di Pasar Sayati Indah di Desa Sayati Kecamatan Margahayu Kabupaten Bandung tak kunjung beres. 
 
Ternyata, operasi bersih yang kerap dilakukan tak jadi solusi. Sampah, selalu kembali menggunung dan berceceran.
 
Berdasarkan pantauan, di bagian belakang pasar, sampah menumpuk di badan jalan. Akibatnya, akses jalan tidak bisa dilintasi baik dari jalur kanan dan kiri. Kemudian, bak sampah yang terisi sampah tergeletak di badan jalan.  
 
Bau busuk tercium saat melintas dijalur tersebut terlebih kondisi sampah yang basah dan jalan yang becek dan penuh lumpur. Beberapa kios terpaksa tutup karena lokasi tempat jualannya terhalangi sampah. Meski begitu, masih ada kios yang buka dan di sampingnya di penuhi oleh kios.
 
Salah seorang pedagang, Evi (65) mengatakan, dari 29 Januari lalu hingga 20 Februari kemarin, truk yang mengangkut sampah hanya sekitar 6 ritase. Akibatnya, sampah kembali menumpuk, selain itu jumlah tenaga kebersihan yang ada di pasar hanya satu orang.
 
"Katanya mesin hydrolicnya rusak jadi enggak bisa ngangkut sampah. Petugas kebersihan juga satu orang harusnya empat orang jadi biar bisa nyusun sampah tidak tercecer," kata Evi saat ditemui di Pasar Sayati Indah, Kamis (21/2/2019).
 
Evi mengaku heran dengan alasan-alasan yang disampaikan oleh petugas kebersihan jika mobil tidak bisa beroperasi. Sebab, jika mau mobil-mobil lainnya bisa digunakan untuk mengambil sampah tersebut. 
 
Jika permasalahannya adalah dana maka pihaknya mengajak dinas terkait untuk berembug membahas permasalahan tersebut.
 
 "Kita bisa mengadakan penggalangan dana untuk menyelesaikan masalah sampah disini," katanya. 
 
Evi mengaku bosan dengan kondisi pasar yang selalu dipenuhi sampah yang menumpuk. Dirinya berharap agar masalah sampah tidak berlanjut dan tidak sampai penuh ke jalan. 
 
"Tiap opsih juga beres dari itu, empat hari kemudian sampah gak diangkut ya jadi numpuk lagi," katanya. Terlebih ia mengaku retribusi kebersihan masih
 
Pedagang lainnya, Deni (35) mengaku terpaksa membuka kiosnya meski didepannya terdapat tumpukan sampah. Sebab, sumber keuangan keluarga berasal dari usaha yang dilakoninya di Pasar Sayati.
 
"Mau bagaimana lagi, ini nafkah kami satu satunya. Walaupun orang mungkin enggan datang berbelanja yah kami tetap buka dan berharap ada keajaiban datang pembeli. Selain itu kami juga berharap ada keajaiban pemerintah ngangkut sampah sesegera mungkin dan masalah sampah di pasar ini segera tuntas,"ujarnya. 


Editor : inilahkoran