Soal Kasus Keracunan Massal di Cipeundeuy, Belum Ada Bukti Pasti Keterkaitan MBG

Ketua Satgas MBG Kabupaten Bandung Barat (KBB) Fauzan Azima angkat suara terkait kasus keracunan massal yang menimpa puluhan siswa di SDN Cipeundeuy.

Soal Kasus Keracunan Massal di Cipeundeuy, Belum Ada Bukti Pasti Keterkaitan MBG
Ketua Satgas MBG KBB Fauzan Azima mengakui belum ada kesimpulan soal kasus keracunan massal di Cipeundeuy. (agus satia negara)

INILAHKORAN.ID - Ketua Satgas Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Bandung Barat (KBB) Fauzan Azima angkat suara terkait kasus keracunan massal yang menimpa puluhan siswa di SDN Cipeundeuy belum lama ini.

Dia menegaskan, timnya masih menanti hasil verifikasi medis mendalam serta pemeriksaan menyeluruh guna memastikan akar penyebab pasti dari keluhan yang dialami sejumlah warga.

“Berdasarkan data terbaru yang dihimpun Dinas Kesehatan, tercatat 30 orang mengalami keluhan kesehatan," kata Fauzan, Selasa (15/9/2026).

Kemudian, sebanyak lima orang telah diizinkan pulang ke rumah untuk pemulihan, sedangkan 25 orang lainnya masih menjalani perawatan intensif di dua rumah sakit dan satu klinik wilayah tersebut.

Hingga saat ini, terang Fauzan, belum ada kesimpulan pasti yang menyatakan bahwa keracunan massal tersebut berkaitan langsung dengan konsumsi makanan dari program MBG

"Hal ini didasari temuan adanya jeda waktu yang cukup signifikan antara peristiwa penyajian makanan dengan timbulnya gejala klinis pada para korban," terangnya.

Sebab, dia menjelaskan, menu yang dimaksudkan didistribusikan dan dibagikan pada hari Rabu namun keluhan kesehatan baru terdeteksi dan dilaporkan secara beruntun pada Jumat. 

Rentang waktu tersebut menjadi salah satu aspek kritis yang sedang ditelusuri tim investigasi medis dan teknis.

“Semua masih dalam pemeriksaan dari sisi kesehatan untuk memastikan apakah keluhan tersebut memang akibat mengonsumsi menu MBG atau bukan,” ujarnya.

Di sisi lain, hasil inspeksi menyeluruh ke lokasi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) juga mencatat adanya kekurangan tidak hanya pada aspek higiene peralatan, namun juga alur kerja dan disiplin penerapan prosedur di ruang produksi. 

"Seluruh berita acara temuan telah diserahkan secara resmi kepada kepala SPPG beserta mitra kerja sama pengelolaan sebagai bahan perbaikan total. Pemenuhan standar ketat menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi sebelum izin operasional dapat dipertimbangkan kembali," paparnya.

Fauzan menegaskan, seluruh rangkaian pengawasan dan evaluasi ini memiliki tujuan yakni mengembalikan kepercayaan masyarakat serta memastikan tidak ada lagi celah yang membahayakan keamanan pangan. 

Mulai dari tahap pengolahan bahan baku, kebersihan alat produksi, hingga sistem distribusi harus sejalan dengan regulasi yang berlaku.

“Kami lebih fokus kepada dapur atau SPPG. Intinya, jangan sampai kejadian seperti ini kembali terjadi. Itu yang tidak kita inginkan,” tandasnya.


Editor : Doni Ramdhani