Keracunan MBG di Cipeundeuy, Dinkes KBB Terkendala Hilangnya Sampel Makanan

Dinkes KBB hingga Senin (14/9/2026) belum dapat memastikan penyebab pasti dugaan keracunan MBG di Cipeundeuy.

Keracunan MBG di Cipeundeuy, Dinkes KBB Terkendala Hilangnya Sampel Makanan
Sejumlah korban kasus keracunan MBG di Cipeundeuy. (tangkapan layar)

INILAHKORAN.ID - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung Barat (KBB) hingga Senin (14/9/2026) belum dapat memastikan penyebab pasti dari sejumlah kasus gangguan kesehatan yang dialami siswa dan warga masyarakat yang diduga kuat berkaitan dengan program makan bergizi gratis (MBG). 

Ketidakpastian itu muncul di tengah kendala krusial berupa hilangnya sampel MBG yang diduga menjadi pemicu keracunan para siswa, sehingga menghambat kecepatan verifikasi teknis.

Kepala Dinkes KBB Lia Nurliana menjelaskan, timnya tengah melakukan pendalaman investigasi menyeluruh guna melacak jejak keamanan pangan mulai dari hulu ke hilir. 

"Penelusuran mencakup seluruh siklus operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), mulai dari kedatangan bahan baku, proses pengolahan di dapur, sistem penyimpanan, pengemasan, hingga distribusi sampai ke tangan penerima manfaat," kata Lia, Senin (14/9/2026).

Kendati begitu, upaya ini terhambat secara signifikan karena tidak tersedianya sampel makanan yang dikonsumsi korban di lokasi penyediaan.

“Terus terang kami tidak mendapatkan sampel karena kejadian berlangsung hari Rabu, namun laporan baru masuk hari Jumat. Ada jeda waktu yang cukup di mana makanan tersebut sudah tidak tersedia lagi di dapur SPPG,” ungkapnya. 

Meskipun tanpa bukti fisik makanan, pihaknya tetap melanjutkan investigasi melalui wawancara mendalam dengan pasien, penggalian riwayat kesehatan, serta verifikasi data dari berbagai pihak terkait.

Berdasarkan data sementara yang dikumpulkan melalui sistem satu pintu di bawah Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Kejadian, tercatat sedikitnya 34 orang mengalami keluhan kesehatan dan telah mendapatkan penanganan medis di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan. 

Rinciannya, 9 orang di RS IMC Cimareme, 1 orang di Graha Padalarang, 7 orang di Klinik Harapan Sehat, 2 orang di RS Karisma, dan 14 orang di RS Cibabat. 

"Dari jumlah pasien di RS Cibabat, 4 orang telah dipulangkan, 1 orang dirujuk ke RS IMC Cimareme, dan sisanya masih menjalani perawatan intensif sesuai kondisi klinis," sebutnya.

Analisis medis dan wawancara awal menunjukkan gejala yang mengarah pada gangguan kesehatan akibat pencemaran, namun, Lia memastikan belum ada kesimpulan pasti bahwa ini adalah kasus keracunan yang mutlak disebabkan oleh makanan MBG

"Dugaan keterkaitan muncul karena keluhan serupa terjadi secara berkelompok setelah mengonsumsi makanan yang sama, namun faktor lain seperti asupan makanan di rumah juga harus diperhitungkan dan diselidiki secara objektif," ucapnya.

Menurutnya, kondisi kesehatan para pasien sejauh ini dilaporkan relatif stabil dengan tingkat keluhan ringan hingga sedang, belum ada kasus yang berstatus kritis. Fokus utama penanganan adalah mencegah perburukan kondisi serta mempercepat pemulihan. 

"Sebagai langkah antisipasi, Dinkes telah berkoordinasi dengan sejumlah rumah sakit rujukan untuk menyiapkan tempat tidur, tenaga medis, dan logistik obat-obatan guna mengantisipasi kemungkinan penambahan kasus. Satu rumah sakit bahkan telah menyiapkan sembilan tempat tidur siap pakai," tuturnya.

Untuk melengkapi data dan menegakkan kebenaran fakta, tim gabungan yang beranggotakan unsur kecamatan dan pemerintah desa dijadwalkan akan turun langsung ke lokasi SPPG. 

Pemeriksaan akan mencakup evaluasi ketat terhadap kepatuhan Standar Operasional Prosedur (SOP), kualitas bahan baku, kebersihan pengolahan, serta manajemen distribusi. 

"Kepastian penyebab masih menunggu hasil pendalaman tim, rekapan data korban serta hasil investigasi terhadap SPPG yang berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi para korban," tandasnya.


Editor : Doni Ramdhani