Empat Pengidap AIDS di Kab Bandung Meninggal pada 2019 Lalu

Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Bandung mengaku kecolongan dengan meninggalnya empat warga Kabupaten Bandung akibat AIDS pada  2019 lalu.

Empat Pengidap AIDS di Kab Bandung Meninggal pada 2019 Lalu
Ilustrasi/Dani R Nugraha

INILAH,Bandung- Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Bandung mengaku kecolongan dengan meninggalnya empat warga Kabupaten Bandung akibat AIDS pada  2019 lalu.

Data dari pendampingan sepanjang 2019 itu, tidak ditemukan adanya warga Kabupaten Bandung yang mengidap AIDS.

"Pada 2019 lalu kami kecolongan, ada empat warga yang meninggal karena AIDS," kata Pengelola Program Sekretariat KPA Kabupaten Bandung, Dinan di di Soreang Senin (13/1/2020). 

Dikatakan Dinan, keempat warga Kabupaten Bandung yang meninggal tersebut akibat tidak terjangkaunya pendampingan saat masih berstatus mengidap HIV.  Keempat orang tersebut sulit dijangkau karena aktivitas sehari harinya berada diluar Kabupaten Bandung.

"Penjangkauan sebenarnya dilakukan intens. Tapi keempat warga yang meninggal ini sulit dijangkau karena bekerja di luar Kabupaten Bandung. Mereka pulang ke rumah saat drop dan langsung kritis karena sudah AIDS," ujarnya.  

Sementara itu, sesuai data Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung, jumlah orang dengan HIV di Kabupaten Bandung mencapai 685 orang. Jumlah ini meningkat drastis dari 2018 yang hanya mencapai 217 orang.  Meningkatnya jumlah pengidap HIV di Kabupaten Bandung tersebut, akibat berhasilnya program KPA yang telah menjangkau pengidap HIV bersama LSM Bahtera dan PKBI Klinik Mawar. 

"Naiknya jumlah kasus ini bukan hal yang buruk. Justru ini merupakan keberhasilan program penjangkau yang mampu mengajak orang pengidap HIV masuk ke layanan kesehatan. Jadi ada keinginan pengidap HIV untuk berobat dan terapi menggunakan Antiretrorival (ARV). Sehingga ini bisa menekan penularan HIV di Kabupaten Bandung," katanya.

Menurut Dinan, dari 685 orang pengidap HIV di Kabupaten Bandung, rata-rata berada di populasi Lelaki Seks Lelaki (LSL). Populasi LSL sendiri sangat berpotensi menularkan HIV kepada ibu rumah tangga. 

"LSL tidak selalu yang memiliki orientasi seks sesama jenis. Bisa jadi LSL adalah orang yang telah beristri. Sehingga berpotensi menularkan HIV ke istrinya," katanya. 

Oleh karena itu, populasi ibu hamil harus melakukan screening (tes HIV) untuk memastikan tidak tertular HIV. Pasalnya, banyak populasi jembatan (LSL, pengguna wanita pekerja seks) yang secara terang-terangan mengaku mengidap HIV. 

"Maka dari itu populasi ibu hamil perlu disecreening. Khawatir menjadi korban tertular HIV. Karena mereka paling berisiko tertular selain populasi LSL, WPS, Waria, atau Pengguna Jarum Suntik," ujarnya. (rd dani r nugraha).


Editor : Bsafaat