Erick Thohir Minta Publik Tak Salahkan Klub soal Cedera Ole Romeny: “Risiko Cedera Tidak Hanya Pada Ole”

Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, angkat bicara soal cedera parah yang menimpa penyerang timnas Indonesia, Ole Romeny. Ia menegaskan bahwa cedera adalah bagian dari risiko dalam dunia sepak bola, dan meminta publik untuk tidak mencari kambing hitam dalam insiden tersebut.

Erick Thohir Minta Publik Tak Salahkan Klub soal Cedera Ole Romeny: “Risiko Cedera Tidak Hanya Pada Ole”
Erick Thohir Minta Publik Tak Salahkan Klub soal Cedera Ole Romeny: “Risiko Cedera Tidak Hanya Pada Ole”

INILAHKORAN, Bandung – Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, angkat bicara soal cedera parah yang menimpa penyerang timnas Indonesia, Ole Romeny. Ia menegaskan bahwa cedera adalah bagian dari risiko dalam dunia sepak bola, dan meminta publik untuk tidak mencari kambing hitam dalam insiden tersebut.

Romeny mengalami cedera kaki serius usai ditekel pemain Arema FC, Paulinho Moccelin, dalam laga Piala Presiden 2025 yang digelar di Bandung pada 10 Juli lalu.

Cedera itu membuat Romeny harus naik meja operasi dan dipastikan absen panjang, termasuk dalam laga penting putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia yang akan berlangsung Oktober mendatang.

“Cedera, ya cedera. Itu yang saya bilang, risiko cedera tidak hanya pada Ole. Ragnar (Oratmangoen) juga cedera, tapi tidak ada yang menyalahkan Ragnar atau timnya. Begitu juga (Victor) Dethan sekarang belum bisa main, terus disalahin Dethannya, disalahin klubnya?” ujar Erick Thohir seperti dikutip dari ANTARA.

Erick menilai bahwa atmosfer sepak bola nasional seharusnya tidak dikotori dengan saling menyalahkan. Menurutnya, tekanan yang berlebihan terhadap klub atau individu justru kontraproduktif terhadap perkembangan tim nasional.

“Nanti dibilang saya anti-kritik, salah lagi. Yang penting kita fokus pada solusinya,” lanjut mantan Presiden Inter Milan tersebut.

Ia menekankan pentingnya regenerasi pemain sebagai langkah strategis menghadapi risiko seperti cedera. Menurut Erick, PSSI telah merancang kerangka regenerasi lewat kelompok umur U-17, U-20, dan U-23 agar timnas senior selalu punya pelapis yang siap tampil.

“Makanya dari awal kita siapkan pelapis (untuk timnas senior). Di kiri ada tiga bek, di kanan juga tiga bek. Di tengah dan depan masih sedikit kurang, itu yang kita dorong,” ungkap Erick.

Dalam kesempatan yang sama, ia juga menyoroti perkembangan pemain muda potensial seperti Jens Raven. Namun Erick mengingatkan bahwa promosi ke tim nasional senior harus dilakukan melalui proses yang matang, bukan jalan pintas.

“Main dulu di U-23. Siapa tahu bagus. Tapi jangan juga keburu besar kepala,” pungkasnya.***


Editor : Yosep Saepul Ramadan