Final Piala Presiden 2026, Saatnya Erick Thohir Mundur

Erick Thohir disorot usai final Piala Presiden 2026 digelar tanpa penonton. Opini ini mengulas etika kepemimpinan, konflik kepentingan, dan krisis PSSI.

Final Piala Presiden 2026, Saatnya Erick Thohir Mundur
Imam Wahyudi, jurnalis senior, anggota PWI Pusat

Oleh: Imam Wahyudi (IW)

LAGA final Piala Presiden 2026, sepatutnya pula menjadi momen final bagi Erick Thohir sebagai Ketum PSSI. Menuai malu dan memalukan, bingung dan membingungkan.

Dua frasa tak terhindarkan hinggap di pundak yang juga sang Menpora RI. Dua jabatan penting digenggam. Betul, tak cuma dia yang rangkap jabatan. Toh, dalih berulang diumbar depan publik -- bahwa tak ada larangan tersurat dalam aturan.

Mendadak lupa dan abai akan ketidakpatutan atau melanggar etika, yang sejatinya membingkai setiap keputusan. Norma atau aturan tak tertulis yang dimaknai berada di atas sebundel aturan perundang-undangan.

Ketika suara kritis tak digubris hingga cemooh publik dianggap angin lalu, turun "kekuatan langit". Peristiwa tak terduga dan tiba-tiba. Mencubit sakit, bahkan bak tersengat lebah yang memicu demam tinggi.

Kiranya tak berlebihan, itulah yang terpaksa dipertontonkan ke publik -- lewat ajang final Piala Presiden 2026. Tak terhindarkan, tak (lagi) bisa bersembunyi. Jutaan peminat sepakbola di tanah air menatap telanjang peristiwa (sepakbola) yang memalukan itu.

Tak cukup kata memprihatinkan. Bahkan saat siaran langsung TV, tampak Erick Tohir duduk dan tertunduk. Jemarinya memainkan keyboard HP di tribun kehormatan. Nyaris tanpa senyum. Diapit sejumlah orang yang praktis hanya hitungan jari.

Penampakkan tak lazim, yang biasanya berjajar sejumlah petinggi dan para undangan VIP. Bahkan, bila merujuk tajuk Piala Presiden 2026 -- secara protokoler, dimungkinkan kehadiran Presiden Prabowo. Tapi itu tak ada.

Laga final sepakbola mirip turnamen catur di ruang sunyi tak berpenghuni. Penulis tak hendak membuat reportase hasil ajang final antara Persib vs Persebaya. Justru lantaran pertanyaan menggumpal, puncak Piala Presiden 2026 di Stadion I Wayan Dwipa, Gianyar, Bali -- digelar tanpa penonton.

Nama Presiden sebagai label turnamen pramusim dipertaruhkan secara sembrono. Jatuh terpelanting di kaki sang Ketum PSSI, yang bahkan menyandang predikat Menteri Pemuda & Olahraga.

Laga final nirpenonton dipastikan kehilangan ruh pertandingan. Di mana pun, tanding sepakbola identik dengan minat dan magnet penonton. Persebaya yang akhirnya juara, mengalahkan Persib lewat adu penalti 6-5 (1-1) -- pun merasakan hambar. Tak cukup membanggakan hadiah uang tunai Rp 8 miliar, justru mereka kehilangan perayaan kemenangan bersama para pendukungnya. Hambar, bahkan kecut.

Lagi, pertandingan sepakbola identik dengan penonton berjubel. Sedari era amatir, setiap pemain yang keluar dari ruang ganti menuju arena -- selalu melirik kanan dan kiri pada kesempatan pertama adalah seberapa banyak penonton memenuhi tribun. Bukan cuma penyemangat tanding, tapi sekali gus harapan bonus pertandingan yang akan dikantongi. Hakikatnya sama dalam setiap turun tanding, penonton adalah segalanya.

Stadion Mendadak Pindah

Suka atau tidak, meski ga habis pikir -- bahwa laga terpaksa digelar tanpa penonton. Begitu perintah kepolisian atas nama tanggung jawab ketertiban dan keamanan warga. Bahkan lokasi stadion pun berpindah menjauh. Satu alasan yang tak bisa diganggu gugat, menyusul potensi kerusuhan antarpendukung.

Tak semeriah acara pembukaan di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kab. Bandung yang dilanjut putaran fase grup-A. Persib, Arema FC, DPMM FC (Brunei Darussalam), dan Tampines Rovers (Singapura). Babak grup-B digelar di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya -- juga empat tim. Juara bertahan Port FC (Thailand), Persebaya, Persija dan PSMS Medan.

Tak ingin mengusik kriteria dan pertimbangan delapan tim peserta Piala Presiden 2026 itu. Justru publik mempertanyakan, hal sengkarut yang berlaku kemudian. Adanya rivalitas antartim.

Peminat sepakbola sudah maklum adanya. Bahkan antara Persib dan PSMS Medan semasa kejuaraan antarperserikatan Divisi Utama PSSI. Kali ini, Persib vs Persija dan Persebaya vs Arema FC.

Hal simpel yang seharusnya sudah dikalkulasi sedari awal. Bagaimana mungkin berharap, antardua tim di atas tidak bertemu dalam babak lanjutan? Setiap tim ingin raih kemenangan dan dimungkinkan bentrok di fase lanjutan.

Bila kemudian, babak semifinal Persib vs Persija dan Persebaya vs Arema FC harus digelar tanpa penonton -- tentu saja mengagetkan. Pun merugikan bagi tim-tim itu yang bagai dipasung dan tersandera minus penonton.

Pada kesempatan pertama, bahkan menampar wajah PSSI sebagai penyelenggara. Mestinya bopeng, tuh. Bukan cuma tanpa penonton, lokasi stadion pun diseberangkan ke Bali. Berbagai dalih, rasanya tak mempan membalikkan akal sehat publik.

Duh, kalau karena alasan bakal memicu kerusuhan -- mengapa tim-tim berseteru itu diundang berturnamen?! Sungguh menggelikan, hingga dipastikan gagal koordinasi dengan pihak kepolisian -- sebelum agenda.

Selanjutnya, bagaimana mungkin tahapan dan jadual pertandingan -- tidak dibarengi penetapan lokasi (stadion). Dengan kata lain penggunaan Stadion I Wayan Dwipa di Gianyar, Bali untuk dua laga semifinal hingga final -- bersifat mendadak atau emergency.

Bagaimana mungkin tradisi Piala Presiden yang sudah episode ke-8, mirip pasein gawat darurat?! Publik sepakbola bakal maklum sepenuhnya, bila terjadi kondisi force majeure. Suatu keadaan memaksa yang terjadi di luar kendali manusia dan tidak dapat diduga sebelumnya. Semisal masa pandemi Covid-19.

Tercatat dua laga final sepak bola bertaraf nasional mau pun internasional, digelar tanpa penonton. Adalah final Piala FA 2020, Chelsea vs Arsenal di Stadion Wembley, London dan final Piala Jerman 2020 dan 2021 di Stadion Olimpiade, Berlin. Keduanya lantaran protokol ketat penyebaran virus korona (covid-19).

Berikutnya, saat laga final Piala Presiden 2026 antara Persib vs Persebaya tanpa penonton. Bukan akibat virus korona, mungkin virus PSSI varian ET -- di antara potensi kerusuhan. Problema etika rangkap jabatan digugat dan tak pernah bijak dijawab.

Aturan (tanpa larangan) dan etika tak pernah seiring sejalan. Konflik kepentingan tumbuh subur di antara itu. Bahkan melanda dunia olahraga yang sarat slogan junjung sportivitas. PSSI untuk kesekian kali kehilangan eksistensinya. Kali ini puncak parah, justru di pentas nama menjulang -- Piala Presiden 2026.

Betapa pun anggaran biaya senilai Rp 90 miliar melulu dari sponsor, bukan bersumber APBN. Tanggung jawab itu melekat secara kelembagaan dan figur pimpinannya. Boleh jadi klaim hadiah uang tunai dengan nominal terbesar. Meliputi juara (Persebaya) Rp 8 miliar, runner-up (Persib) Rp 3,5 miliar, juara-III (Persija) Rp 2,5 miliar dan juara-IV (Arema FC) Rp 1,5 miliar.

Hematnya, Piala Presiden 2026 menjadi momen terbaik bagi Erick Thohir untuk mundur dari jabatan. Tak mesti rangkap jabatan. Lebih dari cukup dan terhormat sebagai Menpora. Cukup sudah melangkah. Saatnya berhenti. Mundur atau dimundurkan. Tinggal pilih kelir acak corak.

*) jurnalis senior, anggota PWI Pusat


Editor : Gin gin T Ginulur