Mau Diapakan Jalur Maut Gunung Piramid Bondowoso?

Gunung Piramid kembali menelan korban. Tragedi berulang mendorong desakan regulasi, SOP, dan pengelolaan profesional demi keselamatan pendaki.

Mau Diapakan Jalur Maut Gunung Piramid Bondowoso?
Tim Wanadri melakukan survei dan pemetaan potensi bahaya jalur Gunung Piramid, 30 November 2020. (Dokumentasi Wanadri)  

Oleh: Mochamad Rona Anggie

Petaka terulang di Gunung Piramid (1.521 mdpl). Pada 2019, korbannya Thoriq Rizki Maulidan (15). Selang setahun, Multazam (18) meregang nyawa di lintasan yang sama. Tahun 2026, Maliya Finda (51) dan Irfan Nasrul Laili (35), tak pulang lagi ke rumah setelah mencapai puncak Piramid.

Apa yang harus dilakukan instansi berwenang agar tragedi serupa tak terjadi kembali?

Koordinator tim search and rescue (SAR) Wanadri yang menemukan jasad Thoriq, Eko W Prasetyo (W 1155 TABA) menegaskan, mesti ada regulasi resmi yang mengatur pendakian Gunung Piramid. Pascamusibah Thoriq hingga sekarang, kata dia, aktivitas pendakian ke Piramid masih berlangsung.

“Instansi terkait memang menyatakan status Piramid tidak dibuka untuk umum. Tapi fakta di lapangan, kedatangan para pendaki meningkatkan ekonomi mikro warga. Penitipan motor dan warung-warung buka,” ujarnya kepada penulis, Ahad (9/8/2026).

Standar operasional prosedur (SOP) pendakian Piramid, lanjut dia, wajib diberlakukan pula. Jangan lagi ada pendaki dibiarkan naik ke puncak tanpa bantuan alat pengaman dan pendampingan dari pemandu profesional yang berlisensi.

“Setelah ada regulasi dan SOP baku, pasang rambu di titik rawan, tentukan kapan boleh atau dilarang muncak. Sehingga risiko pendaki celaka dapat diminimalisasi,” tutur lelaki yang kini bermukim di Jombang, Jawa Timur.

Terkenang Penemuan Jasad Thoriq

Eko masih 25 tahun ketika turun ke jurang di hari ke-14 pencarian Thoriq, Kamis sore (4/7/2019). Tim hendak kembali ke flying camp di Pos 2, namun ingin menjajal rapelling di titik yang dicurigai. Selain Eko ada Iwan Nirwana (Tapak Lembah), Rohmat (Elang Kabut), dan Andre (Topan Rimba). Sementara Julian (Angin Kabut) siaga di Pos 2.  

“Sudah mau balik ke Pos 2 waktu itu. Ah, cobalah turun, setidaknya menghabiskan satu tali,” katanya. Kernmantel statis 100 meter pun terurai ke bawah tebing curam yang rimbun rerumputan.

Tali tertambat ke anchor utama di batu, didukung empat besi beton sepanjang satu meter sebagai anchor tanam. Jarak penancapannya masing-masing satu meter. “Antisipasi kalau pengaman batu tak kuat menahan beban, ada empat besi anchor tanam,” ujarnya.

Kabut mengurung. Temaram senja menyuguhkan nuansa mistis. Tali bergulir lancar dari figure of eight yang terhubung dengan cincin kait (carabiner) di body harness yang dipakai Eko. Mendekati ujung tali, pemuda gondrong itu terkejut: di antara batang pohon tertelungkup jasad manusia: Thoriq! Dia kumandangkan azan untuk melawan sunyi.

Tim di lokasi penemuan segera mengontak Polres Bondowoso. Pimpinan kepolisian di sana yang memberi izin operasi SAR dibuka kembali, usai sepuluh hari pencarian yang dikomando Basarnas, nihil. Ada delapan personel menerima surat perintah (sprin) misi SAR lanjutan. Total yang terlibat 11 orang: lima dari Wanadri.

“Wakapolres minta jenazah langsung dievakuasi,” kata Eko. Namun pihaknya mempersilakan regu lain yang melakukan. Mengingat sudah malam, dan kondisi tim pencari memerlukan istirahat. “Tadinya anggota polres mau naik, tapi urung.”

Jumat pagi (5/7/2019), relawan deras bergerak. Eko dan Andre rapelling ke titik jasad Thoriq, sambil menyeting tali dan pulley (katrol) guna memudahkan tim di atas menarik kantong mayat. Tiba di jalur “punggung naga”, jenazah dioper tangan ke tangan, dalam barisan manusia.

“Relawan berjubel di jalur. Bukan digotong, tapi dioper! Ini memudahkan dan mempercepat jenazah sampai ke desa,” kenang lelaki yang kini berusia 32 tahun, dan bekerja di sebuah lembaga psikotes.

Saran dari APGI Bondowoso

Terkait kejadian terbaru – yang menewaskan Maliya dan Irfan – Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) Kabupaten Bondowoso, Fathorrohman Hidayah meminta pengelolaan pendakian Gunung Piramid dilakukan secara profesional.

Sebetulnya, kata dia, pascainsiden Thoriq tahun 2019, pemerintah setempat sudah membatasi akses ke Gunung Piramid. Hanya pendaki profesional yang diizinkan naik ke puncak. Sayangnya, belum ada pengelola pendakian resmi Gunung Piramid. Tanpa kejelasan pengawasan, semua tetap bisa mendakinya.

“Perhutani sudah welcome, kalau ada yang minat membuka base camp pendakian Piramid. Biar pengunjung terawasi, tidak mendaki diam-diam yang bisa membahayakan keselamatan,” terang Fathorrahman alias Jangkar yang pada operasi SAR Maliya-Irfan didaulat menjadi On Scene Coordinator (OSC).

Proses Pencarian Maliya dan Irfan

Tim SAR berisikan komunitas pencinta alam Bondowoso dan pemandu gunung berpengalaman. Mereka merapat ke kaki Gunung Piramid di Desa Curahdami, Kecamatan Curahdami, Kabupaten Bondowoso, Senin (3/8/2026).

“Sudah isya ketika saya dan teman-teman sampai di rumah warga yang dititipi motor oleh kedua survivor,” cerita Jangkar.

Sebagai OSC, dia menugaskan tiga personel search and rescue unit (SRU) 1 bergerak ke Pos 2 untuk berkemah. Jarak tempuhnya dua jam. Sementara ke puncak Piramid membutuhkan empat jam. Melewati Pos 1, 2, plakat in memoriam Thoriq, “punggung naga”, baru puncak.

“Apa ada unsur pemerintah (Basarnas, TNI/Polri) malam itu?” tanya saya.

“Tidak ada,” jawab Jangkar yang juga penduduk Kecamatan Curahdami.

Menghimpun Informasi Awal

Ahad malam (2/8/2026), keluarga Maliya di Wonokromo, Surabaya, resah. Sang ibu belum pulang ke rumah. Anak perempuannya mengontak kenalan pencinta alam di Bondowoso. Bocoran dari si anak, ibunya janjian dengan Irfan yang seorang pemandu pendakian Gunung Piramid.

“Pak Irfan menjemput di terminal sini,” ujar Jangkar.

Senin pagi (3/8/2026), tim di Bondowoso mendatangi kediaman Irfan. Keluarganya pun cemas, anak tunggal itu belum pulang. Tas milik Bu Maliya dititipkan di situ. “Artinya ada trouble, yang membuat keduanya belum kembali,” sahut Jangkar.

Anggota Wanadri angkatan Hujan Lembah (2022) itu mendapat keterangan tambahan, bahwa Maliya baru saja mengikuti ajang lari lintas alam di Gunung Arjuno-Welirang yang diadakan oleh Malang Trail Run (Mantra) pada 5-6 Juli 2026. “Secara fisik, Bu Maliya terlatih. Siap mendaki Piramid,” tegasnya lantas mengungkap Irfan bukan pemandu berlisensi. “Pengalamannya tidak dikenal luas,” imbuhnya.

Jumpa Tim Puskesmas Curahdami

Berikutnya, Jangkar mengulik keterangan dari pendaki lain yang sempat berjumpa Maliya dan Irfan di Pos 2. Sebanyak 19 tenaga kesehatan (nakes) dari Puskesmas Curahdami, mendaki Piramid di hari yang sama dengan kedua survivor, Ahad pagi (2/8/2026).

Infonya, Maliya-Irfan meneruskan perjalanan ke puncak, sedangkan tim puskesmas mencukupkan di area in memoriam Thoriq. Masih 1,5 sampai dua jam pendakian untuk ke titik tertinggi Piramid.

“Tim puskesmas melihat dua orang di puncak. Setelah itu rombongan nakes pun turun,” ucap Jangkar yang mengaku awalnya kesulitan menggali data, namun akhirnya berhasil meyakinkan mereka yang bertemu Maliya dan Irfan untuk berbagi cerita.

Ceceran Tisu Berdarah

Selasa pagi (4/8/2026), SRU 1 bergerak meninggalkan Pos 2 untuk menyisir ke atas. Mereka menemukan ceceran tisu dengan bercak darah di lintasan “punggung naga” – sekitar 20 menit menjelang puncak. Jurang menganga di kanan dan kiri jalur. Vegetasi rerumputan kering.

“Bisa jadi survivor luka akibat goresan batu. Darahnya masih baru, belum kering sekali,” tutur lelaki di video yang dikirimkan Kusnandar Badawi (W 648 BARA) kepada penulis.

Tim SAR terus mendaki. Meniti “punggung naga” nan tipis. Ini rute berbahaya sekaligus tantangan yang membuat penasaran para pendaki Piramid.

Kedua Survivor Wafat

Menjelang siang, Jangkar mengerahkan SRU 2 untuk menyusul SRU 1. Total delapan orang. Perlengkapan tali kernmantel, body harness, jumar (ascender), dibawa oleh mereka. Bersiap rapelling, menuruni tebing curam.

Melalui komunikasi radio, Jangkar menganalisis peta dan memerintahkan personel di lapangan untuk peka mengamati sekitar. Jalur “punggung naga” rentan menelan korban. Pendaki tujuh puncak benua (world seven summits), Nurhuda (W 876 BW) berkomentar, beruntung siapa yang dapat melintasinya. Nyawa taruhannya!

Tidak jauh dari puncak, relawan pencari mencurigai rebahan rerumputan. Jangkar menanyakan, apakah bisa dituruni untuk memastikan keadaan di bawahnya? “Bisa!” Mereka kemudian susah-payah menuruninya. Menjaga pijakan agar tidak terperosok, sambil meneliti dasar jurang, sampai akhirnya melihat tubuh manusia tersangkut batang pohon. Posisi tubuhnya miring, tampak mukanya.

Tim mendekatinya, dan ternyata itu Irfan: memakai legging hitam dipadu celana pendek krem serta kaus hitam berbalut hydro bag merah. Allahuakbar! Di bawahnya yang lebih curam dengan rimbun belukar, didapati tubuh perempuan tertelungkup berkaus lengan panjang oranye, bercelana panjang krem: Maliya!

Kaus kaki masih menempel di kaki Irfan dan Maliya, sementara sepatu oranye dan hitam keduanya berceceran. “Botol kosong ditemukan pukul 12.14 WIB, di kedalaman 90 meter,” beber Jangkar yang segera mengabari Basarnas untuk proses evakuasi.

“Tidak bisa langsung digotong dari bawah, karena medan curam. Harus pakai alat vertical rescue,” tambah lelaki 30 tahun itu.

Wanadri Petakan Bahaya Jalur Piramid

Enam tahun berlalu. Tepatnya 9 Agustus 2020, Multazam (18) mendaki Piramid bersama empat kawannya. Nahas setelah menggapai puncak pukul 06.00 WIB, di perjalanan turun melintasi “punggung naga”, pelajar SMA itu terpeleset dan jatuh ke jurang. Temannya cepat mencari pertolongan ke bawah. Sore harinya, Multazam ditemukan tak bernyawa.

Tak lama setelah kejadian pilu itu, kata Jangkar, tim Wanadri terpanggil untuk memetakan potensi bahaya di jalur Piramid. “Ada Kang Saban (W 737 KL) dan Nurhuda yang melakukan survei. Mereka membawa perlengkapan panjat tebing,” tutur pramuwisata dan guide pendakian gunung itu.

Hasil survei diserahkan kepada Pemkab Bondowoso. Kini, publik menanti keseriusan pemerintah daerah setempat terkait aktivitas pendakian Gunung Piramid. Mau ditutup total atau dikelola secara profesional?

Jangan tunggu ada nyawa melayang lagi!

*) Penulis tinggal di Kota Cirebon. Mendaki gunung sejak 2001. Aktif mengulas event petualangan di dalam dan luar negeri.   


Editor : Gin gin T Ginulur