Kekerabatan Digital: Wajah Baru Persaudaraan Pemuda Indonesia
Dosen dan peneliti Universitas Islam Bandung (Unisba), Yulianti memberikan ulasan mendalam mengenai perubahan makna persaudaraan di kalangan pemuda Indonesia di era digital. Melalui pendekatan reflektif dan perspektif komunikasi, tulisan ini mengajak pembaca untuk memaknai kembali empati, kebersamaan, dan nasionalisme dalam ruang digital yang semakin dipengaruhi algoritma.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN,Bandung- Sembilan puluh tujuh tahun lalu, pemuda-pemudi Indonesia bersatu dalam satu tekad: satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Hari ini, generasi penerusnya kembali bersatu-bedanya, bukan lagi di lapangan upacara, melainkan di grup percakapan, forum daring, dan timeline yang tak berujung. Klik join group, setujui syarat layanan, dan voilà: deklarasi nasionalisme versi baru.
Namun, jangan salah. Persaudaraan digital ini bukan sekadar pertemanan virtual yang bisa diblokir sewaktu-waktu. Jika dahulu bahasa persatuan kita adalah Bahasa Indonesia, kini bahasa itu sering berwujud emoji seperti ❤️, emoji suka dan lainnya. Tetapi patut direnungkan, apakah di balik emoji-emoji tersebut kita benar-benar merasa bersaudara?
Data menunjukkan hampir 90 persen pengguna internet di Indonesia adalah generasi muda. Namun di balik angka itu tersembunyi ironi: semakin banyak teman daring, semakin sering pula kita merasa sendiri. Kita memiliki ribuan followers, tetapi tak selalu punya satu telinga yang benar-benar mau mendengarkan. Teori komunikasi hyperpersonal menjelaskan bahwa interaksi daring memang dapat terasa lebih dekat, tetapi sesungguhnya lebih terkendali dan terkurasi seperti ketika kita memasang filter bukan hanya pada wajah, melainkan juga pada persahabatan.
Di sinilah gagasan kekerabatan digital menemukan relevansinya. Para antropolog seperti Daniel Miller dan Mirca Madianou menyebut teknologi sebagai social glue of transnationalism: perekat sosial baru yang memungkinkan ikatan antarmanusia terjalin meski terpisah jarak. Persaudaraan hari ini tidak lagi semata ditentukan oleh kampung halaman atau hubungan darah, melainkan oleh rasa, nilai, dan koneksi yang dibangun melalui jejaring digital.
Namun, kekerabatan digital tidak selalu berjalan mulus. Di tengah riuh tagar dan trending topic, empati kerap menjadi korban, sementara konflik menjelma rutinitas harian. Akun-akun berlomba menjadi juri moral, kolom komentar berubah menjadi arena pertandingan, dan tombol blokir sering dianggap sebagai simbol kemenangan. Kita bersumpah satu nusa, tetapi pada saat yang sama hidup dalam satu “algoritma” yang menentukan siapa yang kita lihat dan apa yang kita pahami.
Karena itu, tugas pemuda Indonesia hari ini bukan hanya berkoneksi, melainkan juga berkekerabatan. Artinya, tidak sekadar berbagi unggahan, tetapi juga berbagi kepedulian; tidak hanya mendukung kampanye lewat tagar, tetapi hadir ketika wifi mati dan tetangga membutuhkan perhatian; tidak hanya berdebat dalam 140 karakter, tetapi berdialog hingga 1.400 kata atau setidaknya melalui satu pesan langsung yang tulus.
Maka, mari kita nyatakan kembali sumpah digital kita:
Satu Nusa Digital: ruang maya sebagai milik bersama yang perlu dijaga, bukan sekadar digunakan.
Satu Bangsa Virtual: komunitas yang bukan hanya saling mengikuti, tetapi juga saling mendukung- intas suku, agama, dan bahkan lintas aplikasi.
Satu Bahasa Empati: bukan sekadar caption indah, melainkan kata dan tindakan yang membuat orang lain merasa, “aku tidak sendirian.”
Mari kita hidupkan empati digital. Sebab bangsa ini tidak dibangun oleh algoritma viral semata, melainkan oleh hati yang memilih untuk memahami, bukan menyerang; mendengar, bukan membisu; serta menguatkan, bukan menjatuhkan. Algoritma mungkin menentukan siapa yang muncul di timeline kita, tetapi hanya hati yang menentukan siapa yang benar-benar kita anggap saudara.***
Penulis
Yulianti
Dosen dan Peneliti Komunikasi, Universitas Islam Bandung
Editor : Ghiok Riswoto

