ESPANYOL VS REAL MADRID: DEJA VU MOU
JOSE Mourinho kembali memimpin Real Madrid di pentas La Liga Spanyol dengan sensasi yang jauh berbeda ketimbang tiga belas tahun silam.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Kali ini, cerita bukan tentang ambisi dari seorang pelatih bertangan dingin yang menggemparkan Eropa. Kali ini, hanya tentang takdir pria paruh baya yang terpanggil untuk mengembalikan hegemoni tim tersukses di tanah Spanyol.
Ketika menghadiri sesi jumpa pers dalam perkenalan resmi sebagai pelatih baru Real Madrid, Mourinho bicara dengan suara bergetar, “Rasanya seperti pulang ke rumah.
Secara emosi, ini jauh lebih indah.
Debut kedua Mourinho bersama Los Merengues bakal berlangsung di markas Espanyol, Minggu (23/8) dini hari WIB. Dia sepertinya menatap cermin ruang ganti dengan uban yang kian menebal.
Mou datang membawa serta luka dari petualangan panjangnya di berbagai belahan dunia—dari Inggris, Italia, Turki, hingga kembalinya ia ke pelukan Madrid.
Ia tidak lagi berdiri sebagai “The Special One” yang arogan, melainkan seorang figur ayah yang ingin merangkul kembali ruh kejayaan di Santiago Bernabéu.
Maka, Mou lebih banyak menyentuh sisi psikologis timnya alih-alih bicara soal strategi. Dia ingin, Kylian Mbappe dan kawan-kawan mengembalikan aura Madrid yang dahulu benar-benar begitu ditakuti.
“Saya selalu mengatakan bahwa kami, Madrid, harus selalu memikirkan apa artinya bagi timtim lain untuk bermain melawan Real Madrid. Jika kami tidak memikirkan itu, dan jika kami tidak mempertimbangkannya, maka kami akan mengalami masalah sejak menit pertama,” ungkapnya.
Sayangnya, romantisme kepulangan ini langsung disambut ealitas yang menampar. Di balik senyum simpulnya saat memimpin sesi latihan di Valdebebas, bayang-bayang krisis pertahanan menghantui.
Sakit kepala klasik di jantung pertahanan kembali kambuh, meninggalkan Mourinho dengan opsi yang amat terbatas. Di tengah badai kecil ini, nama Dean Huijsen—bek muda berusia 21 tahun yang sempat kehilangan arah pada musim lalu—malah berdiri di garda terdepan.
Ada cerita humanis di sini. Di mata publik, Huijsen mungkin hanya pemain muda. Namun di mata Mourinho, pemuda jangkung itu adalah cerminan dari dirinya sendiri: seseorang yang haus akan kesempatan kedua.
Sentuhan personal, tepukan di bahu, dan bisikan taktis penuh keyakinan dari sang pelatih asal Portugal telah menghidupkan kembali nyala api di dada sang pemain muda jelang lawatan ke kandang Espanyol.
Teror Suporter Sementara itu, bagi pendukung Periquitos (julukan Espanyol), mendukung klub ini adalah pilihan hidup yang berani.
Mereka terbiasa hidup di bawah bayang-bayang tetangga raksasa mereka, Barcelona, sekaligus harus menerima kenyataan bahwa tim-tim seperti Real Madrid memiliki anggaran belanja yang sanggup membeli sejarah baru dalam semalam.
Namun, di loronglorong luar RCDE Stadium, atmosfer yang berembus bukanlah ketakutan, melainkan gairah kerah biru.
Skuad asuhan Manolo Gonzalez boleh saja kehilangan sang kapten Leandro Cabrera karena skorsing, namun mereka memiliki suporter yang siap menjadi pemain ke-12.
Espanyol membawa memori indah saat mereka berhasil meruntuhkan dominasi peradaban megah Madrid di stadion ini beberapa tahun lalu.
Motivasi romantis itulah yang mereka rawat di kepala mereka menjelang laga ini.
“Kami akan bermain dengan segalanya.
Kami menghadapi tim yang dianggap sebagai unggulan juara dan kami hanya ingin mengalahkan mereka,” tegas Manolo Gonzalez.
(bsf )
Editor : Inilahkoran

