Pancaroba dan Ancaman Nyata
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh : Yuliantono
KETIKA awan hitam mulai menggantung sebagai penanda beralihnya musim, alarm bahaya sudah sangat jelas terbaca. Banjir, longsor, hingga pergerakan tanah jadi ancaman nyata.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur menolak diam di balik meja kantor. Para relawan mulai disebar ke wilayah-wilayah rentan bencana. Bagi mereka, langkah ini bukan sekadar urusan birokrasi, melainkan misi kemanusiaan untuk menyelamatkan nyawa sebelum bencana sempat menyapa.
Sekretaris BPBD Cianjur, Asep Sudrajat mengakui kekhawatiran semakin menjadi seiring cuaca terik berganti derasnya hujan. Dia mengingatkan semua pihak, bencana alam mulai dari utara hingga selatan daerah itu bukan pepesan kosong.
Asep mengatakan bencana yang perlu diwaspadai masyarakat di antaranya tanah longsor dan banjir, terutama di sejumlah wilayah dan jalur yang memiliki tingkat kerawanan setelah kemarau panjang.
Wilayah yang mendapat perhatian di antaranya jalur menuju selatan Cianjur mulai dari Cibeber hingga Sindangbarang, terutama di jalur Naringgul-Ciwidey, serta wilayah rawan banjir di sebagian besar wilayah selatan hingga kota Cianjur.
“Kami tempatkan petugas dan relawan di sepanjang wilayah rawan bencana setelah kemarau terutama di wilayah selatan Cianjur, terutama di jalur rawan longsor khususnya di titik Naringgul-Ciwidey,” katanya.
Potensi longsor dapat meningkat setelah kemarau panjang karena kondisi tanah yang mengalami kekeringan dalam waktu lama dapat mengalami retakan sehingga ketika diguyur hujan material tanah lebih mudah terbawa air.
Pihaknya mengimbau masyarakat terutama pengendara yang melintas di jalur rawan longsor memperhatikan rambu peringatan yang telah dipasang guna mengantisipasi hal tidak diinginkan ketika terjadi bencana termasuk tidak berhenti di titik rawan.
Selain itu, masyarakat diminta mewaspadai potensi banjir dengan menjaga kebersihan saluran air, tidak membuang sampah ke sungai atau selokan yang dapat menghambat aliran air.
“Setelah kemarau biasanya tanah mengalami retak-retak dan pecah terutama di perbukitan, ketika hujan turun deras dapat memicu terjadinya longsor, sehingga hal tersebut harus diwaspadai, termasuk menjaga kebersihan saluran air dan sungai,” katanya.
Untuk menghadapi peralihan musim dari kemarau panjang ke musim hujan, pihaknya telah menyiapkan personel termasuk 360 relawan yang tersebar di setiap desa di Cianjur untuk mengantisipasi dan melakukan penanganan cepat ketika terjadi bencana.
“Untuk persiapan sementara sudah dilakukan sosialisasi atau mitigasi ke tiap warga masyarakat dari utara hingga selatan Cianjur, guna meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan menghadapi peralihan musim,” katanya.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan, Jawa Barat masih berada dalam periode musim kemarau dengan puncaknya diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September 2026.
Prakirawan Cuaca dan Iklim BMKG Stasiun Bandung, Muhamad Iid Mujtahiddin mengatakan, hujan yang muncul belakangan ini dipicu gangguan cuaca berskala lokal yang bersifat sementara, bukan karena transisi menuju musim hujan.
“Sekarang itu masih berada dalam periode musim kemarau, dengan puncaknya ada di Agustus dan September. Kita masih berada di periode musim kemarau,” kata Iid.
Menurut dia, fenomena El Nino yang saat ini berkategori kuat masih menjadi faktor dominan yang menekan curah hujan di Jawa Barat. Kondisi tersebut diperkuat oleh fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang turut mengurangi potensi hujan di wilayah Indonesia bagian barat.
Meski demikian, dalam beberapa hari terakhir muncul dinamika atmosfer lokal yang memicu pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah Jawa Barat.
“Dalam beberapa hari ini ada gangguan. Ada dinamika atmosfer, ada gangguan skala lokal. Kurang lebih di bawah satu minggu ini terlihat ada potensi suplai uap air yang terjadi di wilayah Jawa Barat, kemudian ada pertumbuhan awan konvektif juga secara lokal,” ujarnya.
Kondisi tersebut menyebabkan hujan terjadi di sejumlah titik Bandung Raya, termasuk Kota Bandung, kawasan selatan Bandung, hingga sebagian wilayah Bogor, Sukabumi, Purwakarta dan Subang bagian selatan.
BMKG memprediksi, peluang hujan masih berlanjut dalam sepekan ke depan. Namun, sebarannya tidak merata dan hanya terjadi di wilayah tertentu.
“Masih ada potensi dalam sepekan ini, tapi memang tidak merata. Titik-titik tertentu saja. Nanti beberapa jam sebelum terjadi hujan kita mengeluarkan informasi peringatan dini wilayah mana yang berpotensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang,” katanya. (bsf)
Editor : Inilahkoran

