Menelusuri Hutan, Menyibak Rahasia Alam Biak

KEKAYAAN hayati Biak menjadi sasaran penjelajahan mahasiswa Unpad. Ekspedisi ini juga mengungkap pemanfaatan tumbuhan oleh masyarakat.

Menelusuri Hutan, Menyibak Rahasia Alam Biak
EKSPEDISI BIAK: Mahasiswa Fakultas Pertanian Unpad Padjadjaran yang tergabung dalam Mahatva melaksanakan Ekspedisi Biak BioDiscovery 2026 di Pulau Biak, Papua, 29 Agustus-9 September 2026.(FAPERTA UNPAD)

Hutan di Pulau Biak menyimpan lebih dari sekadar pepohonan dan tumbuhan liar. Di antara lebatnya hutan hujan dataran rendah, tersimpan pula pengetahuan masyarakat tentang tumbuhan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Jejak itu coba ditelusuri sejumlah mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Faperta Unpad) yang tergabung dalam Perhimpunan Mahasiswa Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung (PMPR & PG) Mahatva.

Melalui Ekspedisi Biak BioDiscovery 2026, mereka menyusuri Pulau Biak, Papua, pada 29 Agustus hingga 9 September 2026. Bersama peneliti, para mahasiswa turun langsung ke lapangan untuk mengenali keanekaragaman hayati sekaligus mendokumentasikan pengetahuan lokal masyarakat.

Perjalanan membawa tim ke kawasan Hutan Sopen, Distrik Sopendo, dan Hutan Makmakerbo. Di kawasan tersebut, mereka mengamati kondisi hutan sekaligus mengambil sampel tumbuhan untuk mendata kekayaan flora pada ekosistem hutan hujan dataran rendah Pulau Biak.

Hasilnya, 50 jenis spesimen tumbuhan berhasil dicatat. Penelusuran juga menemukan 12 jenis serangga dan dua jenis reptil.

Namun, perjalanan itu tidak berhenti pada angka dan daftar spesies. Di tengah hutan, tim juga mencoba memahami hubungan masyarakat dengan tumbuhan di sekitarnya. Pendekatan etnobotani digunakan untuk menggali bagaimana kekayaan hayati dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dari pendataan tersebut, ditemukan 15 spesimen yang dimanfaatkan masyarakat untuk pangan dan pengobatan tradisional. Lima di antaranya merupakan tumbuhan pangan, sedangkan 10 lainnya dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat.

Salah satu temuan yang menarik perhatian tim adalah Aibon. Buah dari tumbuhan yang berasal dari ekosistem mangrove itu dimanfaatkan sebagai bahan pangan alternatif dan telah digunakan masyarakat setempat secara turun-temurun.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa biodiversitas tidak berdiri sendiri. Di balik setiap tumbuhan, terdapat pengetahuan dan pengalaman masyarakat yang membuatnya memiliki arti lebih dari sekadar bagian dari ekosistem.

Perjalanan di Biak pun membawa mahasiswa pada pengalaman lain: bertemu langsung dengan masyarakat dan mengenal nilai-nilai budaya setempat.

Saat tiba di kawasan Wardo, tim mendapat sambutan melalui ritual adat yang dilakukan kepala desa dan tokoh adat. Sambutan tersebut menjadi pintu awal untuk membangun hubungan dengan masyarakat. (gin)


Editor : Inilahkoran