Harga Cabai Kian Membara

Harga Cabai Kian Membara
HARGA MELONJAK: Harga cabai rawit merah di Jawa Barat kembali melonjak dan menjadi perhatian utama pemerintah daerah.(ANTARA)

INILAH, Bandung - Kemarau panjang belum juga beranjak dari Jawa Barat. Di tengah tanah yang mengering dan curah hujan yang rendah, harga cabai rawit merah justru bergerak naik, menambah tekanan pada kebutuhan pangan masyarakat.

Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat mencatat, cabai rawit merah menjadi salah satu pemicu inflasi pangan bersama beras pada September 2026. Komoditas ini pun kini menjadi perhatian utama pemerintah daerah.

Kepala DKPP Jabar Linda Al Amin mengatakan, ada tiga komoditas yang perlu mendapat perhatian, yakni cabai rawit merah, cabai merah keriting, dan beras premium.

“Komoditas yang paling perlu mendapat perhatian di Jawa Barat saat ini adalah cabai rawit merah, cabai merah keriting, dan beras premium,” kata Linda dalam keterangannya kepada INILAH, Rabu (7/10).

Berdasarkan Panel Harga Pangan per 7 Oktober 2026, harga rata-rata cabai rawit merah mencapai Rp80.013 per kilogram. Angka itu jauh di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) yang berada pada kisaran Rp40.000 hingga Rp57.000 per kilogram.

Pergerakannya pun sangat fluktuatif. Dalam beberapa hari terakhir, harga cabai rawit merah berada di rentang Rp60.667 hingga Rp100.000 per kilogram. “Artinya, komoditas hortikultura menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi,” ujar Linda.

Tekanan harga cabai tak lepas dari kondisi cuaca. Kemarau panjang menyebabkan kekeringan di sejumlah sentra produksi. Pada saat bersamaan, serangan hama patek turut mengganggu produksi cabai.

Cabai rawit merah bukan satu-satunya komoditas yang mendapat perhatian. Cabai merah keriting dan beras premium juga masuk dalam pantauan pemerintah karena harganya berada di atas acuan.

Harga beras premium di sejumlah daerah Jawa Barat tercatat sekitar Rp15.000 hingga Rp15.500 per kilogram. Angka tersebut berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp14.900 per kilogram.

(yuliantono/gin)


Editor : Inilahkoran