Bisnis Hotel Lesu, Pekerja Menanti Kepastian

BISNIS hotel belum pulih, tekanan justru bertambah. Okupansi rendah dan kenaikan tarif PAT membuat pengusaha kian sulit bertahan.

Bisnis Hotel Lesu, Pekerja Menanti Kepastian
HOTEL SEPI: Kebijakan pemerintah yang masih melarang rapat-rapat ASN di hotel dan restoran membuat industri tersebut terpukul. Kenaikan tarif PAT menambah berat persoalan tersebut.(INILAH/REZA ZURIFWAN)

Lampu-lampu hotel tetap menyala. Kamar masih dibersihkan, meja restoran tetap ditata, dan para pekerja masih datang menjalankan tugasnya.

Namun, di balik aktivitas itu, industri perhotelan Jawa Barat tengah berjuang mempertahankan napas.

Tingkat hunian hotel di Jawa Barat saat ini hanya berada di kisaran 35-40 persen. Di Kabupaten Bogor, okupansi juga masih sekitar 40 persen.

Hanya Kota Bandung yang mampu mencapai sekitar 50 persen, meski angka tersebut disebut belum cukup untuk memberikan ruang keuntungan.

Ketua DPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Barat Dodi Ahmad Sofiandi mengatakan kondisi industri semakin berat setelah pemerintah melarang rapat-rapat Aparatur Sipil Negara (ASN) di hotel dan restoran sebagai bagian dari kebijakan penghematan anggaran.

“Hanya di Kota Bandung saja yang masih mencapai 50 persen. Tapi, itupun habis untuk biaya operasional,” kata Dodi Sofiandi kepada wartawan, Rabu (7/10/2026).

Sebelum kenaikan tarif pajak air tanah (PAT), industri perhotelan dan restoran sebenarnya sudah menghadapi tekanan.

Berkurangnya kegiatan pemerintah di hotel dan restoran membuat tingkat hunian dan aktivitas bisnis ikut terdampak.

Kini, tekanan bertambah setelah tarif PAT mengalami kenaikan hingga 120 persen.

“Sekarang, ditambah lagi dengan diberlakukannya kenaikan tarif PAT hingga 120 persen yang sangat tinggi, semakin terpuruk saja kondisi industri ini,” tuturnya.

Persoalan muncul ketika pendapatan menurun, sementara biaya operasional terus berjalan. Listrik, air, internet, perawatan gedung hingga gaji pekerja tetap harus dibayarkan meski kamar yang terisi tidak sebanyak sebelumnya.

Menurut Sofiandi, jika tingkat hunian terus menurun dan pendapatan berkurang jauh sementara biaya operasional meningkat, keberlangsungan usaha hotel akan semakin terancam.

(reza zurifwan/gin)


Editor : Inilahkoran