Dari Tandan Kosong Menuju Energi

LIMBAH sawit membuka jalan menuju energi baru. Pemerintah dan Pertamina tengah menguji peluang mengolah TKKS menjadi bioetanol.

Dari Tandan Kosong Menuju Energi
PROSES FERMENTASI: Industri bioetanol di Mojokerto, Jawa Timur, PT Energi Agro Nusantara (Enero), anak perusahaan PTPN I, mengolah gas karbon dioksida (CO2) dari proses fermentasi menjadi CO2 Cair (Food Grade Liquid CO2).

Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) selama ini lebih sering dipandang sebagai sisa dari proses produksi minyak sawit. Namun, di balik tumpukan limbah itu tersimpan peluang untuk menghasilkan energi sekaligus memberi nilai tambah pada sumber daya yang melimpah di Indonesia.

Peluang tersebut tengah dijajaki Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama PT Pertamina (Persero) melalui pengembangan bioetanol generasi kedua berbahan TKKS.

Langkah awalnya dilakukan dengan menjajaki kerja sama teknologi bersama Praj Industries dari India. Teknologi yang ditawarkan akan dikaji lebih lanjut, termasuk kemungkinan membangun pilot plant berskala kecil di Indonesia.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengatakan, skala kecil dipilih agar karakteristik TKKS Indonesia dapat dipelajari secara lebih mendalam sebelum pengembangan dilakukan dalam skala lebih besar.

“Kita coba dulu dalam skala kecil untuk memahami parameter TKKS Indonesia dan memastikan inovasinya memberi nilai tambah,” kata Brian dalam keterangannya di Jakarta, seperti dikutip dari ANTARA, Kamis (20/8).

Pilihan terhadap TKKS bukan tanpa alasan. Indonesia memiliki sumber bahan baku yang besar, termasuk yang berasal dari perkebunan rakyat. Dengan mengolah sisa produksi kelapa sawit menjadi bioetanol, pemerintah berharap nilai ekonomi komoditas tersebut dapat diperpanjang tanpa harus membuka lahan baru.

Di titik ini, sisa tidak lagi sekadar sisa. Tandan kosong yang sebelumnya berada di ujung proses produksi dapat masuk ke rantai baru sebagai bahan baku energi.

Bagi Pertamina, pengembangan teknologi juga menjadi bagian penting dari upaya membangun kemampuan nasional. Wakil Direktur Utama PT Pertamina Oki Muraza mengatakan, besarnya potensi bahan baku harus diikuti dengan penguasaan teknologi.

“Tujuan kami, kalau bisa kita punya teknologi sendiri. Potensi bahan bakunya besar, sehingga teknologinya juga perlu kita kuasai,” ujar Oki.

Namun, perjalanan dari limbah sawit menuju bahan bakar tidak sesederhana mengubah bahan baku menjadi produk. Ada banyak mata rantai yang harus disiapkan, mulai dari teknologi, investasi, kelayakan ekonomi, hingga kesinambungan pasokan. (gin)


Editor : Inilahkoran