Farhan Akui Sosialisasi BRT Bandung Belum Maksimal, Warga Perlu Tahu Dampak Kemacetan

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengakui sosialisasi proyek BRT belum maksimal dan meminta tim memperluas informasi terkait potensi kemacetan.

Farhan Akui Sosialisasi BRT Bandung Belum Maksimal, Warga Perlu Tahu Dampak Kemacetan
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan meminta, sosialisasi pembangunan BRT diperluas untuk mengantisipasi keluhan warga.

INILAHKORAN.ID - Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengakui, sosialisasi pembangunan bus rapid transit (BRT) belum menjangkau masyarakat luas terutama terkait potensi kemacetan akibat pekerjaan konstruksi.

Sosialisasi selama ini, disampaikan dia lebih banyak menyasar pedagang kaki lima (PKL) yang terdampak langsung pembangunan. Sementara itu, informasi mengenai dampak pekerjaan terhadap kelancaran lalu lintas masih perlu disampaikan secara lebih luas kepada masyarakat.

"Sosialisasi kepada pedagang yang terdampak langsung sudah berjalan dengan baik. Namun sosialisasi mengenai proyek BRT yang berpotensi menimbulkan kemacetan, masih menjadi pekerjaan rumah," kata Farhan, Selasa (20/10/2026).

Menurut dia, masyarakat perlu mendapatkan informasi mengenai tahapan pembangunan, lokasi pekerjaan dan dampaknya terhadap arus lalu lintas. Informasi itu, dinilai penting agar pengguna jalan dapat mengantisipasi perjalanan selama pekerjaan berlangsung.

Dalam satu minggu ke depan, Farhan akan meminta tim BRT memberikan sosialisasi mengenai proyek yang sedang berjalan maupun yang akan dikerjakan. Langkah itu diharapkan, membuat masyarakat lebih memahami perkembangan pembangunan dan potensi gangguan lalu lintas di sejumlah ruas jalan.

"Saya ingin memastikan proyek itu berjalan dengan baik, dan tidak merugikan masyarakat Kota Bandung," ucapnya.

Pembangunan BRT, saat ini berlangsung di kawasan Cicadas dan Jalan Jakarta. Pekerjaan berikutnya direncanakan menyasar Jalan Ahmad Yani, Asia Afrika, Jenderal Sudirman, Jalan Rajawali hingga kawasan Pasar Baru.

Dia menilai, komunikasi yang terbuka diperlukan agar masyarakat tidak hanya mengetahui pembangunan setelah pekerjaan dimulai. Terlebih aktivitas konstruksi di sejumlah ruas jalan, berpotensi memengaruhi mobilitas warga dan menimbulkan kepadatan kendaraan.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah beredarnya konten mengenai ambulans yang terhambat akibat pekerjaan pembangunan BRT di Cicadas. Menurutnya, pembangunan transportasi publik yang bertujuan memperlancar mobilitas tidak boleh justru menghambat perjalanan masyarakat.

"Saya bukan tidak mendukung BRT. Saya justru ingin memastikan bahwa pembangunan transportasi publik itu memberikan manfaat dan tidak menimbulkan kerugian bagi warga," ujar dia.

Selain keluhan terkait lalu lintas, penolakan pembangunan BRT juga muncul di kawasan Ledeng melalui pemasangan spanduk. Farhan meminta, tim BRT melakukan sosialisasi dan pendekatan kepada masyarakat seperti penanganan persoalan yang muncul di Cicaheum dan Leuwi Panjang.

"Kami berharap, komunikasi yang terbuka dapat membantu menjelaskan rencana pembangunan sekaligus memberi ruang bagi masyarakat menyampaikan keresahan. Dengan demikian, pelaksanaan proyek BRT dapat berjalan dengan mempertimbangkan kebutuhan transportasi dan kepentingan warga," pungkasnya.


Editor : Ahmad Sayuti