Farhan Targetkan Fondasi Penataan Kota Bandung Rampung 2027

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menargetkan fondasi penataan Kota Bandung rampung pada 2027 sebelum masuk fase mempercantik kota.

Farhan Targetkan Fondasi Penataan Kota Bandung Rampung 2027
Wali Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menargetkan fondasi penataan Kota Bandung rampung pada 2027. Setelah pembenahan dasar tersebut selesai, Pemkot Bandung akan memasuki tahap penataan wajah kota dan pengembangan ruang kreativitas pada 2028 hingga 2029.Kota Bandung Muhammad Farhan menargetkan fondasi penataan Kota Bandung rampung pada 2027 sebelum masuk fase mempercantik kota.

INILAHKORAN.ID - Wali Bandung'>Kota Bandung Muhammad Farhan menargetkan fondasi penataan Kota Bandung rampung pada 2027. Setelah pembenahan dasar tersebut selesai, Pemkot Bandung akan memasuki tahap penataan wajah kota dan pengembangan ruang kreativitas pada 2028 hingga 2029.

Farhan mengatakan, fokus pemerintahannya saat ini bukan mengejar terobosan atau gebrakan baru. Menurutnya, agenda yang lebih penting adalah mengembalikan berbagai aspek penataan kota seperti kondisi sebelum pandemi Covid-19.

“Penataannya sebetulnya bukan terobosan baru, gebrakan itu enggak usah. Penataan kembali saja, kembali sebelum Covid. Kita akan kembali ke sana, penataan kembali sebelum Covid,” kata Farhan, Kamis 24 September 2026.

Menurut Farhan, Kota Bandung sempat tertinggal dalam aspek penataan dibandingkan sejumlah ibu kota provinsi di Pulau Jawa. Kondisi pemerintahan dalam beberapa tahun terakhir disebut turut memengaruhi ritme penataan kota.

“Bisa dikatakan Kota Bandung ini tertinggal secara penataan itu dari kota-kota ibu kota provinsi yang ada di Pulau Jawa. Sama Semarang tertinggal, sama Jogja tertinggal, sama Surabaya tertinggal. Jangan dihitung kalau Jakarta,” ujarnya.

Legalitas Aset Jadi Fondasi

Farhan mengatakan pembenahan harus dimulai dari fondasi tata kelola dan legalitas aset. Salah satu sektor yang menjadi perhatian adalah pasar tradisional yang dikelola Perumda Pasar Juara.

Dari 37 pasar tradisional yang dikelola PD Pasar, sebelumnya terdapat 14 pasar yang belum memiliki alas hak atau sertifikat. Dalam sekitar 1,5 tahun terakhir, 13 dari 14 pasar tersebut telah memiliki sertifikat. Satu aset lainnya masih dalam proses penyelesaian di Badan Pertanahan Nasional (BPN).

“37 pasar tradisional yang dimiliki oleh PD Pasar itu, ternyata 14-nya itu belum punya alas hak atau sertifikat. Alhamdulillah dalam 1,5 tahun ini, kita berhasil kembalikan dari 14 dan 13 sudah punya sertifikat,” ujar Farhan.

Menurutnya, kepastian legalitas aset membuka ruang lebih besar bagi Perumda Pasar untuk mengembangkan aset dan menjalin kerja sama dengan pihak ketiga.

“Sehingga kita sekarang sudah punya modal dasar untuk menjadikan PD Pasar sebagai salah satu BUMD paling profitable. Karena apa? Semua asetnya punya dasar hukum, tinggal satu lagi ngantri di BPN,” tuturnya.

Farhan menjelaskan, konsep bisnis Perumda Pasar ke depan akan bertumpu pada asset management. Pengelolaan aset tidak hanya menyangkut bangunan pasar, tetapi juga mempertemukan investor, pedagang, dan konsumen dalam satu ekosistem perdagangan.

“PD Pasar itu pada intinya bisnisnya adalah asset management. Kerjaannya mengundang investor, mengundang pelaku pedagang dan tentu saja mengundang konsumen. Sehingga sebagai pusat perdagangan itu luar biasa,” katanya.

Dia bahkan menggambarkan besarnya potensi aset Perumda Pasar dengan membandingkannya dengan kepemilikan aset perusahaan besar.

“Bayangkan, konglomerat mana yang punya 37 aset di satu kota yang besar seperti Kota Bandung? Hanya PD Pasar! Tetapi untuk jadi konglomerat yang sehat, tentu harus punya alas hak dasar hukum yang kuat,” tegasnya.

Cihapit, Ciroyom dan Pasar Baru Masuk Agenda

Sejumlah pasar juga masuk dalam agenda penataan lanjutan. Farhan menyebut Pasar Cihapit segera memasuki tahap penyelesaian, sedangkan Pasar Ciroyom masih menjalani proses penyelesaian.

Pasar Baru juga dinilai telah memiliki dasar untuk pembahasan kerja sama dengan investor. Sementara ITC Kebon Kelapa masih membutuhkan penyusunan konsep pengelolaan meski dari sisi legalitas dinilai sudah baik.

“Insya Allah Cihapit akan segera ada terobosan penyelesaian. Insyaallah Ciroyom sedang dalam masa penyelesaian. Pasar Baru sudah punya dasar negosiasi sederhana, sudah mulai menarik minat investor. Cihapit sudah akan segera dilakukan perbaikan,” tutur Farhan.

Untuk Pasar Baru, Pemkot Bandung sebelumnya juga melakukan evaluasi terhadap kerja sama pengelolaan untuk memastikan kembali aspek hukum dan skema pengelolaannya.

Infrastruktur dan Transportasi Diperkuat

Selain pasar, pembenahan fondasi juga diarahkan pada infrastruktur. Farhan mengatakan koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat diperkuat agar program pembangunan Kota Bandung selaras dengan arah kebijakan provinsi.

Menurutnya, komunikasi yang lebih intens diperlukan karena sejumlah dokumen perencanaan lama belum sepenuhnya selaras dengan kebijakan pembangunan di tingkat provinsi.

“Penataan infrastruktur ini saya perhatikan kemarin-kemarin tuh ya, secara dokumen-dokumen yang lama, tidak ada yang matching sama provinsi. Dengan komunikasi yang sangat erat saya dengan provinsi, alhamdulillah akhirnya saya mengerti provinsi maunya begini,” ujarnya.

Salah satu contoh koordinasi tersebut berkaitan dengan pengelolaan aset kawasan Cihampelas.

“Termasuk misalnya pengelolaan aset Cihampelas. Dengan diskusi yang lumayan panjang dengan pak gubernur, akhirnya disepakati, oke. Pak gubernur, Cihampelas silakan dikelola oleh pak gubernur,” ucapnya.

Farhan juga menilai Kota Bandung memiliki modal kuat dari sisi konektivitas. Kota Bandung terhubung dengan berbagai moda transportasi, mulai dari pesawat, kereta api, jalan tol hingga kereta cepat.

“Pada saat bersamaan, istilahnya begini. Masyarakat Bandung milikna lagi besar. Tanpa terasa kita adalah kota paling terkoneksi di seluruh Indonesia. Mau terbang bisa, kareta ke mana-mana bisa, jalan tol ke mana-mana bisa,” katanya.

Menurut Farhan, tantangan berikutnya adalah membenahi sistem mobilitas di dalam kota. Pembangunan Bus Rapid Transit (BRT) menjadi salah satu instrumen yang diarahkan untuk memperbaiki sistem angkutan umum Kota Bandung.

“Kita dapat rezeki lagi BRT. Memang pembangunan BRT akan membuat macet. Nah BRT itu akan menjadi momen kita untuk melakukan pembenahan sistem angkutan umum dalam kota. Memang butuh perubahan yang luar biasa,” lanjutnya.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebelumnya juga menyebut BRT sebagai bagian dari upaya menghadirkan transportasi publik yang lebih nyaman dan terintegrasi di Kota Bandung.

2028-2029 Masuk Fase 'Gumeulis'

Farhan menegaskan rangkaian pembenahan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat fondasi kota sebelum masuk ke tahap mempercantik Kota Bandung.

Dia tidak ingin aspek estetika menjadi prioritas sebelum persoalan dasar, seperti tata kelola, legalitas aset, infrastruktur, dan transportasi, dibenahi.

Farhan menargetkan seluruh fondasi utama penataan Kota Bandung selesai pada 2027. Setelah fase dasar tersebut rampung, agenda pembangunan akan bergeser pada peningkatan tampilan kota sekaligus penguatan ruang kreativitas masyarakat.

“Inilah yang sedang kita upayakan untuk bisa betul-betul bebenah secara dadasarna heula. Ketika dadasarna beres, insya Allah tahun 2027 dadasarna beres sadayana, karak urang gumeulis,” ujar dia.

Dia menyebut 2028 dan 2029 sebagai fase Kota Bandung mulai “gumeulis”, atau mempercantik diri. Penataan estetika akan berjalan bersama pemberian ruang yang lebih luas bagi kreativitas warga.

“Nah 2028-2029 urang gumeulis. Kita berikan touch up keindahan, kita berikan ruang-ruang untuk kreativitas dan lain-lain. Gitu kira-kira,” pungkasnya.***


Editor : JakaPermana