Banjir Cibaduyut Tak Kunjung Tuntas, Drainase Buntu dan Sampah Jadi Persoalan Utama

Pemprov Jabar menemukan drainase buntu diduga akibat terhalang pilar KCIC di Cibaduyut. Saluran baru menuju sungai direncanakan masuk anggaran 2027.

Banjir Cibaduyut Tak Kunjung Tuntas, Drainase Buntu dan Sampah Jadi Persoalan Utama

INILAHKORAN.ID-Banjir yang berulang kali melanda kawasan Cibaduyut, perbatasan Kota Bandung dan Kabupaten Bandung, menyimpan persoalan infrastruktur yang belum terselesaikan. Selain tumpukan sampah, keberadaan pilar jalur kereta cepat Indonesia-China (KCIC) atau Whoosh diduga menghambat aliran Drainase sehingga air tidak dapat mengalir menuju sungai.

Persoalan tersebut terungkap setelah Pemerintah Provinsi Jawa Barat meninjau langsung sejumlah titik rawan banjir di kawasan Cibaduyut. Hasil pemeriksaan menemukan saluran air yang tersumbat sampah, mengalami penyempitan, hingga terputus akibat terhalang konstruksi pilar KCIC.

Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman mengatakan, kondisi drainase yang tidak berfungsi optimal menjadi salah satu pemicu banjir setiap kali musim hujan tiba. Penanganannya pun harus melibatkan Pemerintah Kota Bandung dan Pemerintah Kabupaten Bandung karena titik persoalan berada di wilayah perbatasan.

"Di sana ada jembatan untuk KCIC dan jembatan Tol Cileunyi ya. Dan itu langganan apabila musim penghujan selalu banjir. Kami coba ke lapangan sore kemarin, kami petakan, dan tadi pagi langsung eksekusi," ujar Herman saat ditemui di Kantor DPRD Jabar, Senin (2/11/2026).

Dari hasil peninjauan, ditemukan dua persoalan utama yang menghambat aliran air. Pertama, sampah menumpuk di sejumlah saluran drainase dan sungai. Kedua, terdapat saluran yang buntu karena terhalang pilar KCIC serta drainase yang mengalami penyempitan.

"Ternyata penyebabnya ada dua. Penyebab sampah yang memenuhi drainase dan sungai yang ada di sana baik di Kota Bandung maupun di Kabupaten Bandung, karena itu wilayah perbatasan. Yang kedua, ada drainase yang mentok karena di sana ada pilar KCIC ya, dan ada juga yang mengecil," ucapnya.

Drainase Buntu di Dekat Pilar KCIC

Salah satu titik bermasalah berada di kawasan Cibaduyut, wilayah Kota Bandung. Di lokasi tersebut, saluran drainase tidak memiliki jalur lanjutan yang menghubungkan aliran air ke sungai karena terhalang pilar KCIC.

Kondisi itu menyebabkan air tertahan di sekitar saluran. Ketika hujan deras meningkatkan debit air, kapasitas tampung yang terbatas membuat genangan berpotensi meluas hingga badan jalan.

Herman mengatakan, Pemprov Jabar akan meminta KCIC membangun saluran penghubung menuju sungai yang diperkirakan hanya berjarak sekitar 20 meter dari titik drainase buntu tersebut.

"Di Cibaduyut, di wilayah Kota Bandung-nya. Ada drainase yang mentok, di sana ada pilar KCIC. Makanya kami akan minta KCIC drainasenya disambungkan ke sungai yang kurang lebih di sana paling 20 meteran kok, enggak jauh," ungkap Herman.

Menurutnya, keberadaan saluran tanpa jalur pembuangan justru membuat air terkumpul di satu lokasi. Padahal, penanganan banjir membutuhkan sistem drainase yang mampu mengalirkan air hingga ke sungai, bukan sekadar menampungnya.

"Dan tidak dibuatkan drainase (baru), hanya dibuatkan di sana tempat bermain air gitu, jadi cai mulek (air berputar) disitu. Padahal yang kita butuhkan bukan hanya mulek di sana, tapi ada drainasenya kemudian bisa tersalurkan ke sungai. Karena air mulek di sana akhirnya banyak ya tumpah ke jalan," tuturnya.

Lebih dari 100 Petugas Bersihkan Sampah

Selain membenahi persoalan konstruksi saluran, pemerintah mulai menangani tumpukan sampah yang memperparah kondisi drainase. Lebih dari 100 petugas gabungan dari Kota Bandung dan Kabupaten Bandung dikerahkan untuk membersihkan sungai serta saluran air di kawasan tersebut.

Pembersihan dilakukan secara serentak karena persoalan Banjir Cibaduyut melintasi batas administrasi kedua daerah. Sampah yang menumpuk selama ini menjadi penghambat aliran air dan meningkatkan risiko luapan saat hujan.

Herman menyebutkan, pembersihan di wilayah Kota Bandung telah diselesaikan pada Senin siang. Adapun pekerjaan di Kabupaten Bandung masih membutuhkan tambahan waktu sekitar satu hari karena volume sampah yang ditemukan cukup besar.

"Untuk sampah langsung ditangani. Tadi kami turun dengan para petugas dari Kota Bandung dan Kabupaten Bandung, 100 lebih tadi turun ya, dari dua kabupaten itu beserta para petugas melakukan pembersihan. Drainasenya dibersihkan tadi, kemudian sungai-sungainya juga dibersihkan," katanya.

"Kemungkinan yang Kabupaten Bandung perlu waktu satu hari lagi karena sampahnya luar biasa banyak sekali ya. Kota Bandung sepertinya sudah selesai tadi siang. Ada tambahan waktu untuk Kabupaten Bandung. Itu penanganan sampahnya," imbuhnya.

Namun, pengangkatan sampah hanya menjadi langkah awal. Pemprov Jabar menilai persoalan banjir tidak akan tuntas jika hambatan aliran air akibat konstruksi dan penyempitan drainase tidak dibenahi secara permanen.

Karena itu, pemerintah menyiapkan pembangunan saluran baru yang dapat melewati kawasan pilar KCIC dan tersambung langsung ke sungai. Koordinasi dengan KCIC akan dilakukan untuk menentukan pihak yang bertanggung jawab dalam pengerjaan infrastruktur tersebut.

"Kami akan koordinasi dengan KCIC dan kami minta untuk dibuatkan drainase sambungan. Kami juga antisipasi apakah langsung KCIC atau dibuatkan oleh Kota Bandung, oleh Provinsi. Memang terus terang di sana bukan kewenangan kami, tetapi kan lintas. Kalau diantep (dibiarkan) ya tidak akan selesai-selesai," ujarnya.

Pembangunan drainase penghubung itu ditargetkan masuk dalam penganggaran 2027. Herman menyebut pemerintah provinsi telah berkomunikasi dengan Wali Kota Bandung, Bupati Bandung, serta jajaran sekretaris daerah kedua wilayah untuk menyelaraskan penanganan.

"Alhamdulillah semua support, di 2027 akan dianggarkan untuk pembuatan drainase yang melintasi jembatan KCIC," ungkapnya.

Drainase Menyempit di Wilayah Kabupaten Bandung

Persoalan berbeda juga ditemukan di wilayah Kabupaten Bandung. Di lokasi tersebut, kapasitas drainase menyempit setelah menerima aliran air dari sungai. Kondisi semakin buruk karena saluran memiliki tikungan hingga 90 derajat yang menghambat kelancaran aliran.

Ditambah tumpukan sampah, konfigurasi saluran tersebut membuat air berisiko tertahan dan kembali meluap ke kawasan sekitar.

"Untuk Kabupaten Bandung, ada drainase juga karena dari sungai itu masuk ke drainase mengecil lagi ya, dan kemudian beloknya 90 derajat, ya pasti air akan mental lagi. Sudah banyak sampah, kemudian mengecil," ungkapnya.

Guna mengatasi persoalan tersebut, Pemerintah Kabupaten Bandung telah menyusun Detail Engineering Design (DED) pembangunan drainase baru. Proyek yang diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp2 miliar itu akan menghubungkan saluran hingga ke sungai di ujung kawasan.

"Kami sudah komunikasi, DED-nya informasi dari Kabupaten Bandung sudah dibuatkan, kebutuhannya sampai Rp2 miliar-an ya, akan dibuatkan drainase sampai ke sungai di ujung, sungai Cangkuang apa yang ada di ujung itu," tuturnya.

Sementara itu, usulan peninggian badan jalan yang sempat muncul sebagai alternatif penanganan banjir belum akan direalisasikan. Pemerintah khawatir peninggian jalan justru membuat air berpindah dan menggenangi permukiman warga.

"Tadi sebetulnya ada juga usulan jalannya dinaikkan, tapi kasihan banjirnya jadi ke lingkungan. Makanya untuk peningkatan menaikkan badan jalan sepertinya kita tunda dulu," pungkasnya.***


Editor : JakaPermana