Halte BRT Kiaracondong, Farhan Janji Tinjau Ulang Sebelum Beroperasi

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan bernjanji meninjau ulang BRT Kiaracondong sebelum benar-benar beroperasi

Halte BRT Kiaracondong, Farhan Janji Tinjau Ulang Sebelum Beroperasi
Pembangunan halte BRT menjadi perhatian, terkait aksesibilitas penyandang disabilitas dan pengguna jalan. Ilustrasi

INILAHKORAN.ID - Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menyiapkan, evaluasi desain halte bus rapid transit (BRT) di kawasan Kiaracondong menyusul kritik terkait aksesibilitas bagi penyandang disabilitas. Peninjauan akan dilakukan sebelum layanan BRT mulai beroperasi, sehingga penyesuaian masih memungkinkan dilakukan.

Dia menyampaikan, pihaknya akan membicarakan persoalan itu bersama pengelola BRT dan kontraktor yang terlibat dalam pembangunan. Evaluasi diperlukan agar infrastruktur transportasi umum tidak mengabaikan kebutuhan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.

“Bagaimanapun juga, kita akan selalu mendukung agar akses disabilitas kepada transportasi umum itu berjalan dengan baik. Pada saat bersamaan, kami juga tentu saja harus memperhatikan desain yang sudah dibuat oleh BRT,” kata Farhan, Senin (19/10/2026).

Menurutnya, peninjauan tidak hanya berkaitan dengan akses bagi penyandang disabilitas. Pihaknya juga menerima keluhan, mengenai pembangunan halte BRT di Jalan Rajawali yang dinilai menutup akses kendaraan niaga menuju salah satu perusahaan logistik.

Persoalan itu sambung dia, perlu dibahas bersama pihak terkait agar pembangunan fasilitas transportasi umum tidak menimbulkan kendala bagi aktivitas masyarakat maupun kegiatan usaha. Karena itu, koordinasi dengan kontraktor BRT menjadi langkah awal sebelum menentukan bentuk penyesuaian.

Terkait kemungkinan pembongkaran halte, Farhan belum dapat memastikan langkah yang akan diambil. Dia menegaskan, evaluasi dan penyesuaian desain akan dilakukan terlebih dahulu dengan mempertimbangkan kondisi di lapangan.

“Kalau bongkar ulangnya, kita belum tahu ya. Tapi kita lakukan review, kita lakukan penyesuaian. Karena bagaimanapun juga mumpung belum operasional, maka sama-sama kita harus melakukan review,” ucapnya.

Selain persoalan desain halte dan aksesibilitas, dia juga menyinggung kondisi drainase di kawasan Kiaracondong. Pembersihan saluran air menjadi salah satu prioritas, agar aliran air hujan tidak masuk ke permukiman warga khususnya RW 1 Jayanti.

Menurut dia, saluran air perlu dibersihkan dari kotoran dan sarang tikus agar aliran air dapat menuju Sukapura. Kondisi saat ini, dinilai perlu segera ditangani karena air hujan masih masuk ke kawasan permukiman warga.

“Sekarang kita bersihkan saja dulu. Yang paling penting, drainasenya dibersihkan dulu, sarang tikusnya dibuang dulu sehingga nanti saluran air kotornya itu bisa masuk ke arah Sukapura,” ujar dia.

Farhan berharap, penanganan drainase dapat mencegah air dari jalan masuk ke RW 1 Jayanti saat hujan turun. Dia juga menyebut, penataan kawasan akan dikoordinasikan bersama pihak BRT dengan mengacu pada penanganan serupa di kawasan Cicadas.

Meski demikian, dia belum memastikan kebutuhan anggaran maupun pihak yang akan menanggung biaya penyesuaian. Pembahasan bersama pengelola BRT, masih diperlukan sebelum keputusan mengenai desain dan pembiayaan ditetapkan.

“Iya, kita akan bekerja sama dengan BRT untuk dibuat seperti Cicadas,” pungkasnya.


Editor : Ahmad Sayuti