Farhan Ungkap Penyebab Stunting di Bandung Bukan Sekadar Gizi, Sanitasi Jadi Sorotan

Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mengubah strategi penanganan stunting melalui program Bandung Utama Goes to Zero New Stunting.

Farhan Ungkap Penyebab Stunting di Bandung Bukan Sekadar Gizi, Sanitasi Jadi Sorotan
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan/INILAHKORAN-Yogo Triastopo

INILAHKORAN.ID-Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mengubah strategi penanganan stunting melalui program Bandung Utama Goes to Zero New Stunting. Pemerintah menilai persoalan stunting tidak hanya dipicu kekurangan gizi, tetapi juga dipengaruhi sanitasi, kualitas lingkungan, hingga akses terhadap air bersih.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, selama ini stunting kerap dipahami hanya sebagai persoalan kurangnya asupan gizi. Padahal, menurutnya, terdapat berbagai faktor sistemik yang turut memengaruhi tumbuh kembang anak.

"Stunting bukan hanya masalah ASI atau pemberian makanan tambahan. Ini persoalan yang sangat sistemik. Kalau kita ingin menurunkan angka stunting, maka yang harus kita benahi bukan hanya gizinya, tetapi juga lingkungan, sanitasi, kualitas air, dan seluruh faktor yang memengaruhinya," kata Farhan, Selasa (21/7/2026).

Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di Kota Bandung masih mencapai 22,8 persen, lebih tinggi dibanding target nasional sebesar 16 persen.

Farhan menilai kondisi tersebut harus menjadi perhatian seluruh perangkat daerah. Menurutnya, langkah awal untuk menyelesaikan persoalan adalah mengakui kondisi yang ada agar kebijakan yang diambil benar-benar tepat sasaran.

"Kalau kita menyangkal bahwa kita sedang bermasalah, maka masalah itu akan semakin jauh dari solusi. Kita harus berani mengakui kondisi ini agar bisa mencari jalan keluarnya bersama," ujarnya.

Ia menegaskan, Kota Bandung tidak mengalami kendala dalam ketersediaan pangan. Sebagai kota perdagangan dan jasa, pasokan bahan makanan dinilai mencukupi sehingga penyebab stunting perlu dilihat dari aspek lain.

"Kalau soal suplai makanan, Kota Bandung tidak ada masalah sama sekali. Jadi jangan-jangan persoalannya bukan semata-mata gizi. Ada faktor-faktor lain yang harus kita selesaikan bersama," katanya.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian Pemkot Bandung adalah sanitasi rumah tangga. Berdasarkan data kewilayahan, sekitar 27 persen rumah di Kota Bandung belum memiliki septic tank yang layak, sehingga masih berpotensi melakukan buang air besar sembarangan (BABS).

Farhan menegaskan persoalan tersebut tidak bisa ditangani hanya oleh Dinas Kesehatan, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD), termasuk camat dan lurah untuk memetakan persoalan di masing-masing wilayah.

Selain itu, Pemkot Bandung juga mengoptimalkan Dapur Dahshat di setiap kelurahan guna menyediakan makanan bergizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang mengalami kekurangan gizi.

Di sisi lain, Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) diminta melakukan pemetaan kualitas air, termasuk menguji kandungan bakteri Escherichia coli di sejumlah titik Sungai Cikapundung sebagai dasar penyusunan kebijakan kesehatan lingkungan.

Melalui program Bandung Utama Goes to Zero New Stunting, Pemkot Bandung menargetkan tidak ada lagi kasus stunting baru. Farhan menegaskan target tersebut hanya dapat dicapai melalui kerja sama lintas sektor, evaluasi rutin, dan perbaikan berkelanjutan.

"Zero New Stunting bukan keajaiban, tetapi sebuah proses. Setiap Senin ketiga setiap bulan, saya minta laporan perkembangan sehingga kita tahu apa yang sudah berhasil dan apa yang masih harus diperbaiki," pungkasnya.***


Editor : JakaPermana