Fasilitas Olahraga di Kota Bandung Belum Maksimal, Ini Kata Kadispora

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Kota Bandung, Sigit Iskandar mengatakan, saat ini terdapat 16 aset olahraga yang tercatat dimiliki. Aset tersebut, belum termasuk fasilitas yang berkaitan dengan bidang kepemudaan.

Fasilitas Olahraga di Kota Bandung Belum Maksimal, Ini Kata Kadispora
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Kota Bandung, Sigit Iskandar mengatakan, saat ini terdapat 16 aset olahraga yang tercatat dimiliki. Aset tersebut, belum termasuk fasilitas yang berkaitan dengan bidang kepemudaan.

INILAHKORAN, Bandung - Kepala Dinas Pemuda dan olahraga (Kadispora) Kota Bandung, Sigit Iskandar mengatakan, saat ini terdapat 16 aset olahraga yang tercatat dimiliki. Aset tersebut, belum termasuk fasilitas yang berkaitan dengan bidang kepemudaan.

Ia menyebut, pihaknya terus berupaya meningkatkan kualitas pengelolaan aset-aset tersebut. Peningkatan fasilitas olahraga, menjadi salah satu tugas utama yang diberikan langsung oleh Wali Kota Bandung.

"Bagaimana meningkatkan kualitas sarana olahraga agar bisa dimanfaatkan masyarakat dengan lebih layak, itu salah satu arahan langsung dari Pak Wali Kota," kata Sigit Iskandar pada Kamis 18 September 2025.

Selain Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) yang menjadi ikon utama, ia mencontohkan beberapa aset lain yang tersebar di sejumlah wilayah. Di kawasan Lodaya, misalnya terdapat fasilitas olahraga untuk bulu tangkis, sepak bola, softball, lapangan tembak, squash dan voli pasir.

"Sementara di kawasan Caringin, terdapat fasilitas untuk futsal dan tenis. Untuk cabang olahraga hoki, fasilitas tersedia di sekitar kawasan Cikutra," ucapnya.

Namun demikian, Sigit mengakui bahwa kondisi dari aset-aset tersebut belum sepenuhnya ideal. Sebagian dinilai cukup laik, sementara sebagian lainnya masih membutuhkan perbaikan signifikan. "Kalau ditanya berapa yang layak digunakan, mungkin saat ini masih di bawah 50 persen," ujar dia.

Menurut ia, keterbatasan anggaran menjadi salah satu tantangan utama dalam proses peningkatan kualitas sarana olahraga di Kota Bandung. Oleh karena itu, pihaknya tidak hanya mengandalkan pembiayaan dari APBD, tetapi juga membuka peluang kolaborasi dengan pihak-pihak lain.

"Bentuk kolaborasinya bisa melalui sistem sewa atau kerja sama pemanfaatan (KSP). Dengan begitu, kami harap fasilitas olahraga ini bisa menjadi lebih layak dan benar-benar bermanfaat bagi masyarakat," jelasnya.

Sigit menambahkan, dorongan dari legislatif serta sinergi antarinstansi menjadi kunci agar fasilitas olahraga di Kota Bandung bisa terus ditingkatkan. "Hal ini diharapkan tidak hanya mendukung kegiatan masyarakat, tetapi juga berdampak pada peningkatan prestasi olahraga di tingkat kota," tandas dia. ***


Editor : JakaPermana