Wisata Ramah Muslim Kota Bandung, dari Fasilitas Salat hingga Jaminan Makanan Halal

Disbudpar Kota Bandung mendorong pengembangan wisata ramah Muslim melalui fasilitas salat, tempat wudu yang layak, dan kepastian makanan halal bersertifikat.

Wisata Ramah Muslim Kota Bandung, dari Fasilitas Salat hingga Jaminan Makanan Halal
Pengunjung melihat berbagai penawaran wisata di IHTF 2026.

INILAHKORAN.ID - Pengembangan pariwisata ramah Muslim di Kota Bandung, tidak cukup hanya dengan menyediakan tempat salat. Kepastian makanan halal, fasilitas wudu yang layak dan akses ibadah yang mudah ditemukan juga menjadi bagian penting dalam meningkatkan kenyamanan wisatawan.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung, Adi Junjunan Mustafa mengatakan, konsep Muslim friendly tourism perlu memperhatikan berbagai kebutuhan wisatawan Muslim mulai dari fasilitas ibadah hingga jaminan kehalalan makanan.

"Secara prinsip, karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Muslim. Sudah selayaknya kita menyediakan destinasi wisata yang ramah bagi umat Muslim. Mulai dari fasilitas tempat ibadah yang baik dan nyaman, tempat berwudu yang layak sampai jaminan makanan yang halal," kata Adi Junjunan Mustafa, Jumat (9/10/2026).

Menurutnya, penyediaan fasilitas bagi wisatawan Muslim harus berjalan beriringan dengan upaya menciptakan pengalaman wisata yang aman, nyaman dan berkesan. Dengan demikian, pengelola destinasi tidak hanya memperhatikan kelengkapan fasilitas ibadah, tetapi juga kualitas pelayanan kepada pengunjung.

Dia menjelaskan, lokasi tempat salat menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan. Fasilitas ibadah, sebaiknya berada di tempat yang mudah ditemukan, nyaman dan strategis agar wisatawan tidak kesulitan ketika hendak beribadah.

"Konsepnya adalah, penyesuaian fasilitas dan layanan pariwisata yang memperhatikan kebutuhan umat Muslim. Misalnya menyediakan tempat salat yang jelas lokasinya, nyaman dan strategis, tidak tersembunyi," ucapnya.

Selain tempat salat, fasilitas wudu juga perlu mendapat perhatian termasuk pemisahan area bagi laki-laki dan perempuan. Menurut Adi, kelengkapan fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan layanan pariwisata yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan Muslim.

Aspek lain yang tidak kalah penting, adalah kepastian kehalalan makanan yang dijual maupun disajikan kepada pengunjung. Dia menilai, informasi mengenai status halal perlu didukung sertifikasi dari lembaga berwenang agar wisatawan memiliki kepastian saat memilih makanan.

"Yang tidak kalah penting adalah kejelasan status kehalalan makanan yang dijual dan disajikan, yang sudah dibuktikan dengan sertifikasi halal dari lembaga berwenang. Itulah yang dimaksud dengan pariwisata ramah Muslim," ujar dia.

Adi menambahkan, pembinaan destinasi wisata ramah muslim di Kota Bandung masih terus dilakukan. Penilaian dan perlombaan, menjadi salah satu cara mendorong pengelola meningkatkan kualitas fasilitas dan pelayanan kepada wisatawan.

Destinasi yang memenuhi standar juga mendapatkan penghargaan sebagai bentuk apresiasi. Pengembangan konsep tersebut, mencakup berbagai sektor pariwisata tidak terbatas pada objek wisata religi.

"Semua sektor destinasi wisata. Mulai dari tempat kuliner, akomodasi penginapan sampai pusat perbelanjaan. Termasuk juga kampung wisata kreatif dan objek wisata lainnya," jelasnya.

Salah satu destinasi yang mendapat penghargaan adalah Museum Geologi Bandung. Dia menyebut, museum itu baru saja memperoleh apresiasi karena dinilai memiliki fasilitas pendukung yang baik bagi wisatawan Muslim.

Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASTINDO) Priyadi Abadi mengatakan, pengembangan wisata ramah Muslim juga mencakup perjalanan ke berbagai negara.

Konsep itu tidak hanya berkaitan dengan perjalanan haji dan umrah, tetapi juga paket wisata dan layanan perjalanan yang memperhatikan kebutuhan pelancong Muslim.

Dia menjelaskan, ASTINDO berdiri pada 1999. Organisasi itu dibentuk setelah krisis ekonomi 1998 berdampak pada industri perjalanan, termasuk kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat dan harga tiket.

"Oleh karena itu, bersama 25 biro perjalanan. Kami membentuk asosiasi bernama ASTINDO, dengan tujuan menata kembali tata kelola penjualan tiket," kata Priyadi Abadi.

Seiring perkembangan industri pariwisata, cakupan kegiatan ASTINDO semakin luas. Tidak hanya berkaitan dengan penjualan tiket, tetapi juga paket wisata dan berbagai layanan perjalanan lainnya. Hingga saat ini, ASTINDO telah menyelenggarakan ASTINDO Travel Fair sebanyak 25 kali.

Dalam dua tahun terakhir, ASTINDO juga menggelar Indonesia Halal Travel Fair atau IHTF. Dia menyebut, penyelenggaraan di Bandung pada 2026 merupakan edisi kedua.

"Ini adalah edisi ke-2 di Kota Bandung. Di Jakarta, kami juga menyelenggarakan kegiatan serupa dengan nama yang sedikit berbeda yaitu ASTINDO Muslim Friendly Travel Fair yang akan digelar pada 16–18 Oktober mendatang," ucapnya.

Menurut Priyadi, pameran tersebut menyediakan informasi mengenai perjalanan dan destinasi yang ramah Muslim. Termasuk bagi wisatawan yang berkunjung ke negara dengan penduduk Muslim sebagai kelompok minoritas.

"Artinya yang bepergian ke luar negeri, tempat di mana umat Muslim menjadi minoritas tidak perlu lagi khawatir mencari makanan halal dan tempat ibadah. Kami juga menyediakan informasi mengenai warisan peradaban Islam di berbagai negara," ujar dia.

Melalui informasi dan pilihan perjalanan yang tersedia, wisatawan Muslim diharapkan dapat menikmati perjalanan tanpa mengabaikan kebutuhan beribadah. Termasuk menjalankan salat lima waktu di berbagai destinasi.

Dia pun mengapresiasi DPD ASTINDO Jawa Barat yang telah berinisiatif menyelenggarakan IHTF. Kegiatan tersebut, diharapkan dapat berkembang dan diikuti oleh pengurus ASTINDO di daerah lain.

"Jadi IHTF pada tahun 2025 dan 2026 ini, adalah cikal bakal yang kami harap terus berkembang," pungkasnya.


Editor : Ahmad Sayuti