Jabar Perketat Standar Wisata Ramah Muslim, Bidik Pasar Wisatawan Timur Tengah

Pemprov Jabar mengakselerasi pengembangan wisata ramah muslim sebagai strategi memperkuat daya saing sektor pariwisata, sekaligus membidik pasar wisatawan.

Jabar Perketat Standar Wisata Ramah Muslim, Bidik Pasar Wisatawan Timur Tengah
Wakil Gubernur Jabar Erwan Setiawan saat peluncuran Smiling West Java-Muslim Friendly Tourism (SWJ-MFT) Award 2026 di Kota Depok, baru-baru ini. (istimmewa)

INILAHKORAN.ID - Pemprov Jabar mulai mengakselerasi pengembangan wisata ramah muslim sebagai strategi memperkuat daya saing sektor pariwisata, sekaligus membidik pasar wisatawan dari negara-negara mayoritas muslim.

Langkah tersebut ditandai dengan peluncuran Smiling West Java-Muslim Friendly Tourism (SWJ-MFT) Award 2026 di Kota Depok baru-baru ini, yang mendorong pemerintah kabupaten/kota, pengelola destinasi, hotel, restoran hingga pusat perbelanjaan menerapkan standar layanan wisata ramah muslim.

Bersamaan dengan itu, Pemprov Jabar juga meluncurkan portal data Indeks Pembangunan Kepariwisataan Nasional (IPKN) Jawa Barat, sebagai instrumen penguatan tata kelola sektor pariwisata berbasis data.

Delapan kategori diperebutkan dalam SWJ-MFT Award 2026, mulai dari Kabupaten/Kota Pariwisata Ramah Muslim Terbaik, Hotel Ramah Muslim Terbaik, Restoran Ramah Muslim Terbaik, hingga Desa wisata ramah muslim Terbaik dan Mall Ramah Muslim Terbaik.

Wakil Gubernur Jabar Erwan Setiawan menegaskan, pembangunan sektor pariwisata tidak lagi cukup mengandalkan promosi dan potensi alam semata. Menurutnya, pengelolaan destinasi harus ditopang oleh data yang valid, kebijakan yang tepat, serta kolaborasi yang kuat.

"Pariwisata hari ini tidak bisa dikelola dengan cara yang lama, tapi harus dibangun dengan data yang kuat, kebijakan yang tepat, kolaborasi yang luas dan pendekatan yang inklusif," ujar Erwan dalam keterangannya, Minggu (12/7/2026).

Dia menilai, peluncuran SWJ-MFT Award dan portal IPKN menjadi langkah strategis yang saling melengkapi. Satu sisi meningkatkan kualitas ekosistem wisata ramah muslim, sementara sisi lainnya memperkuat sistem data kepariwisataan yang terintegrasi dan terverifikasi.

"Jabar memiliki potensi pariwisata yang luar biasa, alam yang indah, budaya yang kaya, masyarakat yang ramah serta dukungan infrastruktur yang terus berkembang. Ini adalah modal besar yang harus dikelola dengan cerdas," ucapnya.

Meski memiliki potensi besar, Erwan mengingatkan, tanpa tata kelola yang kuat, keunggulan tersebut tidak akan mampu menghasilkan daya saing yang optimal di tengah persaingan industri pariwisata nasional maupun global.

Sebab itu, keberadaan repositori data IPKN dinilai menjadi fondasi penting dalam penyusunan kebijakan pembangunan pariwisata yang lebih terukur.

"Dengan data yang baik kita bisa mencanangkan dengan lebih tepat, mengendalikan program dengan lebih efektif, mengevaluasi capaian dengan lebih obyektif dan membuka luang investasi yang lebih meyakinkan," katanya.

Sementara itu, Kepala Disparbud Jabar Iendra Sofyan mengatakan SWJ-MFT Award dirancang bukan sekadar memberikan penghargaan, tetapi menjadi instrumen peningkatan kualitas layanan dan fasilitas wisata ramah muslim melalui proses pembinaan yang berkelanjutan.

"Kegiatan ini bukan sekadar ajang penghargaan, namun momentum untuk meningkatkan standarisasi melalui pendampingan dan workshop pelatihan intensif terkait hospitality," ujarnya.

Menurutnya, Disparbud Jabar terus mengembangkan berbagai inovasi guna memperkuat ekosistem wisata ramah muslim. Upaya tersebut mencakup peningkatan aksesibilitas destinasi, promosi melalui media massa dan media sosial, hingga penyusunan paket perjalanan khusus bersama asosiasi pariwisata.

Strategi itu dinilai memiliki peluang besar, mengingat sekitar 97 persen penduduk Jawa Barat beragama Islam. Selain itu, wisatawan dari Malaysia, Singapura dan negara-negara Timur Tengah juga menjadi pasar potensial yang membutuhkan fasilitas wisata sesuai prinsip ramah Muslim.

Tak hanya fokus pada destinasi wisata, Pemprov Jabar juga mulai mengembangkan wisata religi sebagai bagian dari penguatan identitas pariwisata daerah. Masjid At-Thohir direncanakan menjadi salah satu destinasi wisata religi unggulan Jawa Barat.

Di sektor transportasi, Rest Area Km 88 akan ditata dengan konsep wisata ramah muslim yang dilengkapi fasilitas ibadah, sarana pendukung, serta kuliner halal yang memenuhi standar pelayanan wisatawan Muslim. Pengembangan layanan digital juga menjadi bagian dari inovasi yang tengah disiapkan.

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kementerian Pariwisata, Reza Pahlevi mengapresiasi langkah Jawa Barat yang dinilai dapat menjadi model pengembangan destinasi wisata ramah muslim bagi daerah lain.

"Ini bisa menginspirasi daerah lain bagaimana destinasi yang baik khususnya bagi wisatawan muslim," katanya.

Semdangan, Wakil Wali Kota Depok Chandra Rahmansyah menegaskan konsep wisata ramah muslim tidak dimaksudkan untuk membatasi aktivitas wisata. Sebaliknya, pendekatan tersebut bertujuan menghadirkan rasa aman, nyaman, dan kepastian layanan bagi wisatawan.

Dengan penguatan standar layanan, pembangunan wisata religi, serta dukungan sistem data yang terintegrasi, Jabar kini tengah mempersiapkan diri menjadi salah satu pusat destinasi wisata ramah muslim terdepan di Indonesia.


Editor : Doni Ramdhani