Musda VI Demokrat Jabar, AHY Bidik Kebangkitan Partai Menuju Pemilu 2029
Partai Demokrat Jabar mulai menata ulang kekuatan politiknya, untuk menghadapi Pemilu 2029 dengan memperkuat konsolidasi, evaluasi, dan pembenahan struktur.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Partai Demokrat Jabar mulai menata ulang kekuatan politiknya, untuk menghadapi Pemilu 2029.
Melalui Musyawarah Daerah (Musda) VI, Demokrat Jabar menegaskan pentingnya konsolidasi, evaluasi, dan pembenahan struktur partai agar kembali menjadi kekuatan besar di Jabar.
Musda VI Demokrat Jabar yang berlangsung di Ballroom Trans Hotel, Jalan Gatot Subroto, Kota Bandung, Senin (24/8/2026) malam, menjadi forum evaluasi perjalanan organisasi sekaligus penyusunan strategi politik lima tahun ke depan.
Ketua Umum DPP Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menilai, Jabar menjadi salah satu wilayah kunci bagi masa depan Demokrat secara nasional.
AHY meminta kader Demokrat Jabar menjadikan Musda, sebagai momentum memperkuat barisan dan menyatukan langkah menghadapi tantangan politik ke depan.
"Yang pertama adalah mari kita rapatkan barisan. Ini adalah esensi dari konsolidasi melalui Musda yang nanti akan diikuti dengan Musyawarah Cabang," kata AHY dalam sambutannya secara daring.
Menurutnya, kekuatan partai tidak cukup hanya dibangun melalui struktur organisasi, tetapi juga melalui kualitas kader yang memiliki kemampuan politik sekaligus kepedulian terhadap masyarakat. Sebab itu, dia mendorong Demokrat menjadi partai modern yang tetap dekat dengan masyarakat akar rumput.
"Kita ingin menjadi smart party, tapi tidak kehilangan sensitivitas kita pada masyarakat yang ada di bawah, grassroots yang juga harus selalu disapa dan dibantu," ucapnya.
AHY mengingatkan kader Demokrat Jabar agar tidak terlena dengan catatan sejarah masa lalu. Menurutnya, keberhasilan Demokrat pada era sebelumnya harus menjadi pijakan untuk menciptakan capaian baru, bukan sekadar kebanggaan.
"Jangan sampai kita terjebak pada nostalgia masa lalu. Kita hanya senang mengingatkan keberhasilan di masa Pak SBY, tapi kita lupa bahwa masyarakat tidak terlalu memedulikan nostalgia, yang mereka pedulikan adalah harapan masa depan," katanya.
Dia menegaskan, Demokrat harus mampu menghadirkan gagasan politik yang relevan dengan persoalan masyarakat, terutama dalam bidang ekonomi, keadilan, dan demokrasi.
AHY menyebut, isu ekonomi menjadi perhatian utama masyarakat karena berkaitan langsung dengan kebutuhan sehari-hari.
"Ekonomi segala-galanya hari ini. Masyarakat kalau harus memilih tentu ingin di-address terlebih dahulu isu dan permasalahan ekonomi: lapangan pekerjaan, penghasilan yang layak, daya beli untuk diri dan keluarganya agar tidak makin sulit kehidupannya," ujarnya.
Selain memperjuangkan kesejahteraan ekonomi, AHY juga menekankan pentingnya menjaga demokrasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
"Demokrasi yang baik bukanlah demokrasi yang hanya memberikan ruang kebebasan, tapi demokrasi yang membawa kesejahteraan untuk semua," kata AHY.
Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat, Herman Khaeron mengungkapkan, Musda VI Demokrat Jabar digelar melalui Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub) karena adanya percepatan agenda organisasi.
Menurut Herman, masa kepengurusan Demokrat Jabar saat ini baru berjalan empat tahun empat bulan, sementara berdasarkan AD/ART, Musda idealnya digelar setelah lima tahun.
"Musyawarah Daerah ke-6 Partai Demokrat Provinsi Jawa Barat melalui Musdalub karena ada percepatan, baru 4 tahun 4 bulan, semestinya di dalam AD/ART 5 tahun," kata Herman.
Ia menjelaskan, proses pencalonan Ketua DPD Demokrat Jabar tetap dilakukan secara terbuka dengan syarat dukungan minimal 20 persen dari pemilik suara.
"Dalam Demokrat, pelaksanaan Musyawarah Daerah menurut AD/ART itu memang sepenuhnya menjadi kewenangan Ketua Umum. Dan pelaksanaannya tetap kami buka secara demokratis, minimal mendapatkan dukungan 20 persen," katanya.
Herman menyebut, hingga tahap akhir verifikasi, hanya satu kandidat yang memenuhi persyaratan dan memperoleh dukungan dari seluruh pemilik suara.
"Sampai terakhir kami menerima pencalonan dan terverifikasi hanya satu nama yang mencalonkan dan didukung oleh seluruh pemilik suara," ungkapnya.
Dengan kondisi tersebut, Musda VI Demokrat Jabar berpeluang berakhir lebih cepat melalui mekanisme aklamasi.
"Oleh karenanya, Insya Allah mungkin lebih cepat Musyawarah Daerah ini karena hanya satu nama dan bisa ditetapkan secara aklamasi," ujarnya.
Meski demikian, Herman menegaskan keputusan final tetap berada di tangan Ketua Umum AHY setelah calon tunggal tersebut diusulkan.
Ia menambahkan, Musda VI juga menjadi ruang evaluasi perjalanan Demokrat Jabar sekaligus menentukan target organisasi menghadapi agenda politik mendatang.
Herman meminta kader Demokrat kembali memperkuat kedekatan dengan masyarakat Jawa Barat. Ia menilai, karakter pemilih Jabar yang menentukan pilihan berdasarkan kedekatan emosional harus menjadi perhatian partai.
"Masyarakat Jabar itu masyarakat yang memilih dengan hati. Oleh karena itu juga kami akan mengingatkan bahwa para kader di Jawa Barat harus betul-betul dekat dengan rakyat, seperti Pak Gubernur, Pak KDM dekat dengan rakyat. Tirulah Pak KDM sehingga juga Demokrat ke depan bisa dicintai," ucapnya.
Ketua DPD Partai Demokrat Jabar Anton Sukartono Suratto menyampaikan, Demokrat Jabar memiliki modal politik yang cukup kuat berdasarkan hasil Pemilu dan Pilkada 2024.
Pada Pemilu 2024, Demokrat berhasil mengamankan 98 kursi DPRD kabupaten/kota dengan raihan sekitar 1,9 juta suara. Sementara di tingkat DPRD Jawa Barat, Demokrat memperoleh delapan kursi dengan total suara sekitar 1,7 juta.
Adapun untuk DPR RI dari daerah pemilihan Jawa Barat, Demokrat meraih enam kursi dengan perolehan suara sekitar 1,7 juta.
Tak hanya itu, Demokrat juga mencatatkan kemenangan di 13 daerah pada Pilkada Serentak 2024 serta menjadi bagian dari kemenangan pasangan Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan dalam Pemilihan Gubernur Jabar.
Anton menilai, capaian tersebut bukan alasan untuk berpuas diri, melainkan menjadi bahan evaluasi agar organisasi semakin solid dan mampu melakukan percepatan menuju Pemilu 2029.
"Demokrat harus berani melakukan evaluasi, berbenah, dan melakukan lompatan," ujar Anton.
Dalam kesempatan tersebut, Anton juga menyatakan kesiapannya untuk kembali memimpin Demokrat Jabar periode 2026-2031 apabila mendapat kepercayaan dari seluruh pemilik suara Musda VI.
Dia mengajak kader Demokrat memperkuat kebersamaan dengan mengedepankan nilai budaya Sunda, yakni silih asah, silih asih, dan silih asuh sebagai fondasi organisasi.
Sementara itu, Gubernur Jabar Dedi Mulyadi berharap hubungan kemitraan antara Pemprov Jabar dan Partai Demokrat terus berjalan baik.
Menurut Dedi, Demokrat selama ini telah menjadi bagian dari proses pembangunan Jawa Barat melalui peran partai dan Fraksi Demokrat di DPRD Jabar.
"Harapan terbesarnya tentunya sebagaimana yang sudah terjalin selama ini, Demokrat menjadi sahabat pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui representasi partai dan fraksinya bisa terus secara bersama-sama menyelesaikan seluruh konsepsi dan teknokrasi pembangunan yang ada di Jawa Barat," kata Dedi.
Dedi menilai, komunikasi politik dengan jajaran Demokrat Jabar berjalan positif dan menjadi modal penting dalam menjaga stabilitas pembangunan daerah.
"Selama ini bisa berjalan dengan baik. Komunikasi saya dengan jajaran pimpinan partai, DPD, kemudian pimpinan fraksi berjalan dengan baik, dan kita bisa melihat dinamika di DPRD selama ini juga relatif baik," ungkapnya.
Melalui Musda VI, Demokrat Jabar kini menatap agenda konsolidasi lanjutan di tingkat kabupaten/kota sebagai bagian dari persiapan menghadapi Pemilu 2029.
Editor : Doni Ramdhani

