743 Ribu Balita Terpapar ISPA, Dinkes Jabar Ingatkan Bahaya Rokok dan Pentingnya ASI
Jabar masih menjadi provinsi dengan jumlah kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) tertinggi di Indonesia sepanjang 2026.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Jabar masih menjadi provinsi dengan jumlah kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) tertinggi di Indonesia sepanjang 2026.
Data Kementerian Kesehatan mencatat hingga pertengahan Agustus 2026, jumlah kasus ISPA di Jabar mencapai 1,85 juta kasus atau tertinggi secara nasional.
Meski demikian, Dinas Kesehatan (Dinkes) Jabar menegaskan tren kasus ISPA di daerah tersebut justru mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Kepala Dinkes Jabar Raden Vini Adiani Dewi mengatakan, berdasarkan data yang dihimpun pihaknya, jumlah kasus ISPA di Jabar selama periode Januari hingga Juli 2026 berada di kisaran 1,4 juta kasus. Menurutnya, angka tersebut lebih rendah dibandingkan capaian tahun 2025 yang mendekati tiga juta kasus.
"Nah sekarang itu sekitar 1,4 juta. Ya, di mana yang 1,4 juta ini dari Januari sampai Juli. Nah, berarti kan kalau asumsinya sudah setengah tahun. Tahun kemarin itu hampir di angka 3 jutaan," ujar Vini saat dihubungi INILAHKORAN.ID, Minggu (23/8/2026).
Dia menilai, kondisi tersebut menunjukkan adanya tren penurunan kasus ISPA di Jabar sepanjang tahun ini.
"Jadi memang tahun ini justru mengalami penurunan kalau berdasarkan data yang ada," ucapnya.
Vini menjelaskan, ISPA merupakan penyakit yang dapat menyerang seluruh kelompok usia, karena sebagian besar disebabkan oleh infeksi virus. Namun, kelompok rentan seperti balita dan lansia menjadi kelompok yang paling berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat penyakit tersebut.
Berdasarkan data Dinkes Jabar, dari total 1,4 juta kasus ISPA sepanjang Januari-Juli 2026, sekitar 743 ribu kasus terjadi pada anak usia balita atau 0-59 bulan.
"Kelompok rentan. Anak-anak ada di 743.000. Kalau data yang masuk ke saya, dari Januari sampai Juli," katanya.
Saat ditanya apakah angka tersebut setara dengan sekitar 50 persen dari total kasus, Vini membenarkannya.
"Iya, betul. Sisanya remaja, dewasa sama lansia," katanya.
Menurut Vini, tingginya kasus pada balita berkaitan erat dengan daya tahan tubuh yang belum optimal sehingga lebih mudah terpapar penyakit saluran pernapasan.
"Makanya ASI eksklusif harus, makan bergizi harus, imunisasi harus. Karena anak itu kan rentan terhadap penularan ISPA," ucapnya.
Dia menegaskan, penyebab ISPA tidak hanya berasal dari faktor individu, tetapi juga dipengaruhi kondisi lingkungan dan perilaku hidup masyarakat.
Faktor-faktor yang berkontribusi antara lain rendahnya cakupan imunisasi, kurangnya asupan gizi, tidak optimalnya pemberian ASI eksklusif, buruknya ventilasi rumah, hingga kebiasaan merokok di dalam rumah.
"Penyebab ISPA itu banyak. Dari mulai imunisasi, daya tahan tubuh yang ditentukan oleh ASI eksklusif, gizi anak, perilaku hidup bersih dan sehat, bagaimana cuci tangan, memakai masker," ucapnya.
Vini menambahkan, penularan ISPA sebenarnya dapat dicegah melalui penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), termasuk rutin mencuci tangan pakai sabun, menggunakan masker saat sakit, menjaga sirkulasi udara di rumah, serta menghindari paparan asap rokok.
"Tidak boleh merokok di dalam rumah atau di ruangan. Tentu hal-hal itu bisa menurunkan infeksi saluran pernapasan akut," tegasnya.
Di tengah puncak musim kemarau yang saat ini berlangsung, Dinkes Jabar juga belum melihat adanya lonjakan signifikan kasus ISPA. Kondisi tersebut berbeda dengan kekhawatiran yang biasanya muncul saat kualitas udara menurun akibat cuaca kering.
"Enggak sih. Ini justru tidak ada peningkatan. Maksudnya sama saja," kata Vini.
Dia menduga, kebiasaan masyarakat menggunakan masker dan meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan menjadi salah satu faktor yang membantu menekan penyebaran penyakit tersebut.
"Alhamdulillah, semoga masyarakat dengan memberikan ASI eksklusif, imunisasinya bagus, itu penting banget. Karena sebetulnya ISPA yang dikhawatirkan kan pada anak dan lansia, kelompok rentan," pungkasnya.
Berdasarkan data Kemenkes, terjadi peningkatan tren ISPA di 2026 ketimbang tahun sebelumnya. Kenaikan signifikan terjadi di musim kemarau.
Sejak awal musim kemarau, pada minggu ke-27 hingga minggu ke-31 2026, kasus ISPA menunjukkan peningkatan dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada minggu ke-32 hingga minggu ke-44. Pada periode tersebut, pola kasus ISPA pada 2025 juga menunjukkan tren yang relatif tinggi dan konsisten.
Berdasarkan data Kemenkes hingga minggu ke-31 2026, Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah kasus ISPA tertinggi, yakni mencapai 1.858.779 kasus.
Disusul Jawa Tengah 1.819.793 kasus, DKI Jakarta 1.241.791 kasus dan Jawa Timur sebanyak 1.007.305 kasus.
Masih dari data Kemenkes, di sepanjang 2025 lalu Jabar mencatat total 2.527.302 kasus ISPA. Jumlah ini turut mencatatkan Jawa Barat sebagai provinsi dengan jumlah kasus ISPA tertinggi di Indonesia secara nasional. Disusul Jateng 2.292.627 kasus, DKI Jakarta 1.845.882 kasus dan Jatim 1.337.901 kasus.
Editor : Doni Ramdhani

