Dedi Mulyadi Tepis Isu Jaringan SSB, Sindir Balik Tudingan Said Didu dengan Guyonan
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi angkat bicara terkait tudingan yang mengaitkan dirinya dengan jaringan yang disebut sebagai SSB atau Singapura-Solo-Bandung.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Gubernur Jabar Dedi Mulyadi angkat bicara terkait tudingan yang mengaitkan dirinya dengan jaringan yang disebut sebagai SSB atau Singapura-Solo-Bandung.
Nama Dedi Mulyadi mencuat, setelah disebut dalam analisis politik yang disampaikan Said Didu dalam sebuah podcast bersama mantan Ketua KPK Abraham Samad.
Alih-alih merespons dengan nada serius, Dedi memilih menjawab tudingan tersebut lewat sindiran dan humor. Menurutnya, SSB yang selama ini ia kenal bukanlah Singapura-Solo-Bandung, melainkan Sekolah Sepak Bola Bandung.
"SSB: Sekolah Sepak Bola Bandung. Bukan SSB yang Bapak maksud yaitu Singapura-Solo-Bandung. Saya makin enggak ngerti, Pak," ujar Dedi dikutip dari akun media sosial pribadinya, Jumat (21/8/2026).
Pernyataan itu merespons analisis Said Didu yang mengungkap adanya dugaan poros kekuatan tertentu, yang ia sebut sebagai segitiga SSB.
"Ada segitiga SSB: Singapura-Solo-Bandung," kata Said dalam podcast tersebut.
Ketika diminta menjelaskan dasar pernyataannya, Said mengaku memperoleh informasi dari berbagai sumber yang menurutnya berada di lingkaran dalam.
"Ah, banyak sekali informasi saya yang sudah dapat sampai saat ini dipasok lihat sama kalangan-kalangan di dalam ya. Saya kan tiap hari muter aja ke mana-mana dapat informasi. Nah, dan tanda-tandanya sangat jelas," katanya.
Dedi: Saya Tidak Punya Hubungan dengan Narasi Itu
Menanggapi tudingan tersebut, Dedi menyebut analisis Said Didu sebagai sesuatu yang menarik. Namun ia menegaskan tidak memiliki keterkaitan dengan pihak-pihak yang disebut dalam narasi tersebut.
"Analisisnya tajam banget. Dia melihat saya itu masuk dalam kelompoknya SSB. Ini hebat analisisnya. Betul, Pak, saya ini memang orang yang saat ini sangat menekuni SSB. Bahkan dari dulu saya merintisnya," ucapnya.
Dia juga membantah memiliki relasi dengan Singapura, maupun figur pengusaha yang disebut-sebut dalam pembahasan tersebut.
"Singapura, saya enggak pernah ke Singapura. Kemudian tokoh-tokoh yang Bapak maksud sebagai pengusaha hitam yang kemudian hari ini menjadi buron, saya enggak tahu, Pak, gimana itu ada hubungannya sama saya," katanya.
Meski menghormati kebebasan berpendapat, Dedi mengingatkan agar setiap analisis disampaikan berdasarkan fakta dan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
"Tapi ya namanya analisis ya silakan saja dilakukan. Tetapi tentunya harus memiliki dasar-dasar pijakan yang memadai, tidak berbau fitnah," tuturnya.
Balas Isu Kudeta dengan Istilah Sunda
Tak hanya dikaitkan dengan jaringan SSB, Dedi juga menanggapi tudingan lain yang menyebut dirinya masuk dalam kelompok yang disebut akan melakukan kudeta pada Oktober mendatang.
Lagi-lagi, dia memilih menjawab dengan permainan kata khas Sunda.
"Nah saya memang oleh orang Jawa Barat hari ini bener banget, Pak. Saya kudeta, Pak. ‘Ku Dedi teh anggeus’. "Apa itu kudeta? Ku Dedi teh anggeus, Pak. Artinya seluruh masalah selesai ketika saya datang, itu harapan orang Jawa Barat, Pak," ujarnya.
Dedi mengaku awalnya tidak merasa perlu menanggapi karena namanya tidak disebut secara eksplisit. Namun setelah berkomunikasi dengan sejumlah seniornya, ia mendapat informasi bahwa sosok yang dimaksud dalam analisis tersebut mengarah kepada dirinya.
"Tadinya saya tidak akan ngomong, Pak, karena Bapak kan tidak menyebut nama. Nah saya crosscheck, Pak, ke teman-teman saya, senior-senior saya. Dan senior saya mengatakan yang dimaksud orang suka pakai kuda di Bandung adalah KDM (Kang Dedi Mulyadi)," ucapnya.
Bantah Tuduhan Bermotif Uang
Dalam kesempatan itu, Dedi juga menepis tuduhan bahwa berbagai aktivitas dan langkah politik yang dilakukannya dilandasi kepentingan finansial.
"Bahkan katanya sampai ada tuduhan ke Kang Dedi melakukan itu semua demi uang. Ampun deh, Pak. Honor saya sudah cukup, Pak. Ngapain saya harus nyari-nyari yang begini-beginian," tuturnya.
Menurut Dedi, kontribusi terbaik yang dapat ia berikan kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto adalah memastikan pembangunan di Jawa Barat berjalan efektif dan memberikan dampak bagi agenda nasional.
"Kalau saya ya bekerja dengan baik sebagai gubernur, Pak. Karena bekerja dengan baik sebagai gubernur, maka akan berdampak pada pembangunan nasional," ucapnya.
Dia kemudian mencontohkan program yang menurutnya sejalan dengan target pemerintah pusat, terutama terkait swasembada pangan dan energi.
"Salah satu contoh, Pak Prabowo sangat menginginkan swasembada pangan. Oh saya tiap hari bertani, Pak. Menanam padi, panen. Pak Prabowo ingin swasembada energi, secara pribadi saya tiap hari mengalirkan gas ke rumah-rumah warga melalui peternakan yang saya miliki. Di lain pihak saya bekerja sebagai gubernur agar pemerintahan ini berhasil," paparnya.
Di akhir pernyataannya, Dedi tetap menyampaikan penghormatan kepada Said Didu sebagai pihak yang kritis terhadap jalannya pemerintahan, meski menolak seluruh tudingan yang diarahkan kepadanya.
"Saya ucapkan terima kasih, salam buat Bapak. Semoga Bapak sehat, bahagia selalu, dan tetap kritis untuk kepentingan bangsa dan negara. Hatur nuhun, Bapak," tutupnya.
Editor : Doni Ramdhani

