Film The Longest Wait Ungkap Sisi Lain Perjuangan Timnas, Thom Haye Ikut Terharu

Film dokumenter The Longest Wait mengungkap sisi lain perjuangan Timnas Indonesia menuju Piala Dunia 2026. Thom Haye dan Zaenal Arif turut memberikan apresiasi.

Film The Longest Wait Ungkap Sisi Lain Perjuangan Timnas, Thom Haye Ikut Terharu
Gelaran roadshow film Dokumenter Timnas Indonesia “The Longest Wait” di CGV Paris Van Java (PVJ) Mall, Jalan Sukajadi, Kota Bandung, Sabtu (31/10/2026).(foto: Muhammad Ginanjar)

INILAHKORAN.ID - film dokumenter Timnas Indonesia bertajuk The Longest Wait tidak hanya merekam perjuangan skuad Garuda dalam kualifikasi Piala Dunia 2026. Film ini juga mengajak penonton menyelami sisi lain sepak bola yang kerap luput dari sorotan.

Sejumlah penonton tampak terenyuh saat menyaksikan perjalanan Timnas Indonesia yang ditampilkan dalam film tersebut. Momen itu terlihat ketika The Longest Wait diputar dalam rangkaian roadshow di CGV Paris Van Java (PVJ) Mall, Jalan Sukajadi, Kota Bandung.

Di balik sorak-sorai stadion dan tekanan pertandingan, tersimpan kisah tentang manusia biasa yang memiliki mimpi luar biasa. Para pemain bukan hanya berjuang meraih kemenangan, tetapi juga membawa harapan keluarga, kebanggaan bangsa, serta impian suporter yang tak pernah lelah memberikan dukungan.

Gelandang Timnas Indonesia, Thom Haye, mengaku mendapatkan pengalaman istimewa saat menyaksikan film yang turut menampilkan dirinya tersebut. Roadshow The Longest Wait di Bandung berlangsung pada Sabtu (31/10/2026).

Baginya, film dokumenter itu menjadi kesempatan untuk kembali merasakan perjalanan yang telah dilalui bersama skuad Garuda.

“Bagi saya, bisa melihatnya secara langsung sekarang dan menjadi bagian dari semua ini merupakan sesuatu yang sangat istimewa. Saya bersyukur atas semua pengalaman yang telah kami lalui. Meskipun begitu, masih ada sedikit rasa kesal juga,” kata Thom sembari tertawa.

Namun, menurut Thom, nilai terpenting dari film tersebut bukan sekadar mengabadikan perjalanan Timnas Indonesia. Lebih dari itu, The Longest Wait menjadi medium untuk memperlihatkan kehidupan para pemain, komitmen yang mereka miliki, serta pengalaman yang ingin dibagikan kepada para suporter.

“Saya pikir tujuan utamanya adalah untuk menunjukkan hal tersebut kepada semua orang. Kami ingin memperlihatkan komitmen yang kami miliki, cerita di balik kehidupan para pemain, berbagai pengalaman yang kami lalui, serta semua hal yang ingin kami bagikan kepada para suporter. Jadi, menurut saya, itulah hal yang paling penting,” tuturnya.

Apresiasi juga disampaikan legenda Timnas Indonesia, Zaenal Arif. Menurutnya, kehadiran film dokumenter yang secara khusus merekam perjalanan skuad Garuda merupakan sesuatu yang istimewa.

Sepanjang kariernya di dunia sepak bola hingga memutuskan gantung sepatu, Zaenal mengaku belum pernah menyaksikan proyek dokumenter dengan pendekatan seperti itu.

“Saya apresiasi banget. Ini film yang sangat bisa menjadi motivasi buat para pemain muda yang selama ini ingin merintis karier di dunia profesional, bahkan nanti ke level yang lebih tinggi, yakni Timnas,” ujar Zaenal.

Ia menilai perjalanan Timnas Indonesia yang terekam dalam film tersebut seharusnya menjadi awal dari cerita yang lebih panjang. Zaenal berharap perjuangan menuju Piala Dunia dapat terus didokumentasikan hingga suatu hari nanti masyarakat Indonesia benar-benar menyaksikan skuad Garuda tampil di panggung sepak bola terbesar di dunia.

“Kalau memang nanti ada kelanjutannya, perjalanan kita sampai akhirnya Timnas bisa masuk ke level yang lebih tinggi, bahkan mewujudkan mimpi bersama untuk berada di Piala Dunia, ini bisa menjadi pesan buat adik-adik yang hadir di sini,” kata Zaenal.

Sementara itu, Executive Producer The Longest Wait, Sakti Parantean, mengungkapkan proses pengambilan gambar di lapangan berlangsung sekitar dua tahun. Setelah itu, tim produksi masih menjalani proses penyuntingan selama kurang lebih enam hingga tujuh bulan.

Sakti mengatakan, tim produksi tidak pernah benar-benar mengetahui apa yang akan terjadi selama proses pengambilan gambar. Mereka harus siap menghadapi berbagai kemungkinan dan menangkap setiap momen yang muncul secara spontan.

Salah satu pengalaman tersebut terjadi ketika Timnas Indonesia menghadapi Arab Saudi di Jeddah dalam rangkaian kualifikasi Piala Dunia 2026.

Saat itu, tim produksi tersebar di sejumlah lokasi. Sebagian berada di Jeddah, sebagian lainnya meliput kegiatan nonton bareng di Jakarta. Sementara Sakti mendapat tugas ke Sorong, Papua, untuk merekam cerita keluarga Ricky Kambuaya.

Situasi di lapangan membuat tim harus bergerak cepat. Mereka sempat menghadapi kendala untuk memasuki lokasi yang telah direncanakan, padahal harus mengikuti perjalanan seorang suporter.

Dalam kondisi serba tidak pasti, Sakti meminta timnya tetap melakukan pengambilan gambar dan mencari cerita lain yang dapat memperkaya film.

“Kita harus bereaksi cepat. Saya perintahkan ke tim saya, terus syuting, cari keluarga pemain kalau ada, ikuti mereka. Akhirnya, itu menjadi cerita,” ungkap Sakti.

Keputusan tersebut justru membuka ruang bagi film untuk memperlihatkan sisi perjuangan yang lebih luas. Bukan hanya pemain yang berjuang di lapangan, tetapi juga suporter yang rela menempuh perjalanan, keluarga yang memberikan dukungan dari jauh, serta orang-orang yang mengerahkan segala kemampuan demi berada di dekat Timnas Indonesia.

Di sisi lain, dukungan terhadap perjalanan Timnas Indonesia juga menjadi bagian dari kolaborasi yang dibangun bersama Aqua.

Head of Media Aqua, Intan Andini, menyampaikan kolaborasi tersebut tidak sekadar menempatkan Aqua sebagai mitra resmi penyedia air minum bagi Timnas Indonesia. Menurutnya, kerja sama itu juga dibangun dengan harapan dan rencana jangka panjang bersama skuad Garuda.

“Jadi kita percaya bahwa kolaborasi ini sudah berjalan jauh tidak hanya sekadar menjadi partner official water, tapi kita juga punya mimpi-mimpi selanjutnya yang akan kita terus jahit bersama Timnas Indonesia dan Aqua,” pungkasnya. 


Editor : Ahmad Sayuti